
30 menit setelah Tohrei tiba di lantai kedua, para peserta lain secara berangsur-angsur tiba namun mereka tiba usai area lantai tersebut sudah dibumihanguskan.
“Area ini memang pada mulanya seperti ini atau ... ini ulahnya ...?” Eriana, yang tiba paling awal di lantai kedua setelah Tohrei merasa aneh dengan keadaan area ini yang terlihat terlalu mengenaskan.
Siapa yang disinggung Eriana? Tentu saja itu Tohrei. Alasan pertama dia curiga : lokasi ini dipenuhi oleh mayat monster yang 100% sudah tidak mampu bergerak bahkan jiwanya sekalipun.
Alasan keduanya adalah karena tidak ada peserta yang bisa membuat kerusakan separah Tohrei, contoh nyatanya adalah kondisi lantai dua. Siapa peserta yang bisa melakukan itu selain Tohrei? Eriana rasa tidak ada.
Setelah berpikir betapa anehnya kondisi lokasi ini, Eriana secara tidak sengaja melihat sebuah benda yang cukup memancarkan sinar tak jauh dari sini.
Eriana mengesampingkan perihal apa yang sebenarnya terjadi disini dan menuju ke arah benda bersinar itu.
Begitu ia sampai, dia menemukan sebuah kunci yang nyatanya merupakan benda yang tadi dia lihat bersinar cukup terang.
“Kunci? Apa ini seperti kunci yang ada di lantai satu? Tetapi dipasang ke mana?” Mengingat bagaimana cara pergi ke lantai berikutnya dari sebelumnya, Eriana menduga bahwa kunci ini juga harus dimasukkan ke sebuah lubang kunci.
“Hm? Bangunan besar itu ... terlihat mencurigakan.” Eriana melihat sebuah bangunan, yang tidak ia ketahui sebagai balai kota. Eriana merasa bangunan itu mencurigakan karena menjadi satu-satunya bangunan yang masih bisa berdiri kokoh diantara seluruh hal yang sudah runtuh.
Eriana pergi ke bangunan itu. Namun, belum sempat kesana, di belakangnya tiba peserta dari lantai satu, yaitu Jason. Dia tampak terluka, akan tetapi itu bukan urusan Eriana. Oleh karena itu, Eriana kembali pergi tanpa memedulikannya.
“Kenapa dengan tempat ini ...?” Jason yang baru tiba di lantai kedua langsung dibuat heran dengan kondisi lokasi ini.
“Huh? Nampaknya aku bukan yang pertama, daripada memikirkan keanehan lokasi ini kurasa lebih baik mencari jalan menuju lantai 3 secepatnya.” Jason sekilas melihat Eriana dari kejauhan, itu membuatnya ingin segera bergegas mencari cara ke lantai ketiga agar tidak tertinggal.
__ADS_1
Para peserta lain secara berangsur-angsur tiba di lantai kedua, mereka secepatnya mencari kunci karena menyadari sudah ada beberapa peserta yang datang lebih dulu tiba di lantai ini sebelum mereka.
Disisi lain, Eriana tiba di balai kota, seperti yang dilakukan Tohrei, dia memasukkan kunci ke dalam lubang pintu yang ada di sana dan berhasil pergi ke lantai ketiga.
Beberapa peserta yang lain juga sudah ke lantai tiga tak lama setelah Eriana. Namun, terdapat satu kunci lagi yang belum dipakai dan sedang diperebutkan oleh dua orang. Dua orang itu adalah Rinkumi dan Cobra.
“Orang yang diam-diam mencuri ... aku sangat benci orang seperti itu ...” Rinkumi baru saja menemukan floor key, namun Cobra dengan begitu cepat mencurinya.
“Aku tidak peduli pendapatmu, aku juga harus memenangkan turnamen ini Rinkumi.” Cobra segera pergi, akan tetapi Rinkumi dengan gesit menghentikannya.
“Aku tidak akan membiarkan itu, Cobra ...” Tatapannya sangat tajam, seolah menangkap Cobra akan jadi hal yang mudah baginya.
“Coba saja,” ejek cobra dengan tatapan remeh.
Rinkumi segera mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan menyerang Cobra.
“Kau ... bagaimana bisa kau berkembang sejauh ini, Rinkumi?” Cobra terus menghindari serangan Rinkumi karena sulit untuk menyerangnya balik.
“Entah lah ...” Rinkumi menjatuhkan Cobra, lalu menodongkan pedangnya ke arahnya.
“Sigh ... aku menyerah, kupercayakan itu padamu Rinkumi.” Cobra melempar floor key kepada Rinkumi.
“Tentu saja, lihat saja aku dan Mirano dari belakang, Cobra.” Mirano sudah lebih dulu pergi ke lantai ketiga, Rinkumi mencoba untuk segera menyusulnya.
__ADS_1
Rinkumi sebelumnya tidak cukup beruntung karena menemukan kunci sebagai yang terakhir. Kini dia segera pergi ke pintu untuk menuju ke lantai ketiga, meninggalkan Cobra.
***
Setiap lantai memiliki jumlah kunci yang berbeda. Setiap naik lantai, kunci yang tersedia semakin sedikit.
Lantai 1 memiliki tujuh kunci, lantai 2 memiliki enam kunci, lantai 3 jadi lima kunci, lalu di lantai keempat hanya tersedia empat kunci.
“Pemandangan hutan? Rasanya seperti aku kembali ke ashfriet ...” Tohrei baru saja tiba di lantai ketiga, dia melihat pemandangan pohon di seluruh mata memandang.
Ini 30 menit atau lebih sebelum para peserta lain tiba ke lantai kedua.
Ketika Tohrei sedang mengamati hutan ini, dia melihat semacam monster berwujud pohon, monster itu bergerak menggunakan akarnya dan memiliki mulut yang sangat lebar dan tajam.
“Monster apa itu?”
Tohrei tahu monster itu sangat mengincarnya, maka dari itu Tohrei melumpuhkannya dengan perintah dari skill regnare.
“” Ucap Tohrei pada monster itu.
Seketika pergerakan monster pohon itu terhenti bagai patung. Tohrei dengan santai berjalan ke arah monster itu.
“Hm? Apa itu?” Tohrei melihat semacam umbi di akar monster pohon itu.
__ADS_1
Tohrei mencabutnya dan menyadari bahwa di dalamnya terdapat sebuah kunci. Tohrei kini bisa menebak bagaimana cara pergi ke lantai ke empat.
“Cukup aneh pohon sebesar ini memiliki ubi di akarnya, tetapi berkat keanehan ini aku bisa menemukan kunci lebih cepat.” Apa yang Tohrei perlukan sekarang adalah cara untuk pergi ke lantai keempat.