
“Uwah..., seharusnya tadi aku tidak hanya melenyapkan intinya.” Tohrei tersenyum kecut melihat tubuh slime yang melesat menghujani hutan.
“Bagaimana ini?” Virea nampak panik melihat tubuh slime dalam jumlah besar jatuh. Tubuh slime itu lembut, tetapi jika jumlahnya besar dan ukurannya berat maka bisa dipastikan itu akan menimbulkan sakit yang tidak ringan..
“Berlindung dibelakangku!” Tohrei menyuruh mereka untuk berlindung di belakangnya. Ia menciptakan barrier agar tubuh slime itu tidak menghantam mereka.
Setelah hujanan dari tubuh slime itu berhenti, Tohrei menghilangkan barriernya. “Fyuh..., akhirnya hujan slime itu berhenti.” Tohrei menghela napas lega.
“Sekarang, apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan kembali ke tempat tinggal kalian?” Tohrei bertanya kepada Virea dan keluarganya.
“Kami sudah tidak punya rumah, rumah kami sudah dihancurkan oleh slime itu.” Adik Virea, Miria menjawab pertanyaan Tohrei. Dia mengatakannya dengan murung dan sedih. Miria berambut pendek dan juga memiliki rambut biru namun lebih gelap.
“Yang dikatakan Miria benar, kini kami tidak memiliki rumah untuk ditinggali.” Virea juga nampak sedih.
“Hm, kalau begitu apa kalian mau menjadi bawahan setia ku? Aku akan memberi kalian tempat tinggal yang layak dan akan merawat kalian layaknya keluargaku sendiri, sebagai gantinya kalian harus bersumpah setia kepadaku.” Tohrei membuat sebuah penawaran.
“Menjadi pengikut setia? A..apa itu berarti me..melakukan apapun untukmu?!” Pikiran Virea melayang kemana-mana dan wajahnya memerah. Tohrei menduga yang ia pikirkan adalah hal yang mesum.
“Kurang lebih begitu, tetapi aku tidak akan melakukan seperti yang ada di dalam pikiranmu.” Tohrei memukul kepala Virea untuk membuatnya sadar.
__ADS_1
“Aduh!” Virea bereaksi atas pukulan yang Tohrei lancarkan ke kepalanya.
“Jadi apa keputusan kalian?” Tohrei menanyai mereka.
“Saya rasa tidak ada masalah melayani anda, selain karena kami ingin membalas budi, saya rasa wanita tua ini kembali jatuh cinta.” Ibu Virea berkata dengan wajah yang nampak memerah.
“Eh?” Tohrei tidak bisa mengerti maksud ibu Virea.
“I..ibu! Apa maksudmu?!” Virea terkejut mendengar perkataan ibunya.
“Apa maksud ibu, Kakak?” Miria yang mendengar ucapan ibu mereka merasa bingung.
“Jadi, bagaimana?” Tohrei bertanya kembali.
“Itu...,” Virea nampak masih memikirkannya.
“Miria setuju! Miria ingin menjadi pengikut tuan Tohrei.” Miria mengangkat tangannya.
“Eh? Miria?” Virea terkejut Miria memutuskannya begitu cepat.
__ADS_1
“Ka...kalau aku..., sepertinya juga setuju.” Virea memutuskannya dengan nampak malu.
“Pilihan yang bagus! Kalau begitu—” Perkataan Tohrei terputus Mirevia yang secara tiba-tiba terbatuk keras.
“Uhuk! Uhuk!” Darah keluar dari mulutnya.
“Apa ibu baik-baik saja?!” Virea dan Miria nampak khawatir dan segera membantu ibunya.
“Apa yang terjadi?” Tohrei menanyai apa yang terjadi pada ibu mereka.
“Sepertinya aku mulai tua.” Mirevia hanya bisa tersenyum dengan paksa melihat kondisinya saat ini.
“Ibu menderita sebuah penyakit sejak kami masih kecil, sampai sekarang ibu belum bisa kami sembuhkan karena belum menemukan obatnya. Ayah kami telah tiada sejak kami masih kecil. Jadi kamilah yang merawat ibu saat sakit.” Virea menjelaskan.
‘Sebuah penyakit?’ Tohrei tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.
Dia memiliki skill healing yang mampu menyembuhkan berbagai hal termasuk penyakit. Mungkin dengan skill ini ibu Virea dan Miria dapat sembuh.
“Bagaimana jika aku yang menyembuhkannya?” Tohrei berkata dengan senyum tipis.
__ADS_1