The Endless System

The Endless System
Ch 114 — Berduaan


__ADS_3

Tohrei dan Eriana beradu pedang, Eriana kewalahan melawannya karena tak satu pun ayunan pedangnya yang mampu mengenai Tohrei.


Eriana tak tahu sejak kapan Tohrei mampu menghindari dan mengayunkan pedang seahli ini. Bahkan ketika Eriana dan Tohrei masih kecil, Tohrei sangat sering terjatuh karena tak bisa menjaga postur. Akan tetapi sekarang Tohrei mampu menjaga posturnya dengan sangat kokoh.


Tohrei bahkan menonaktifkan absolute avoidance namun Eriana belum bisa mengenai dirinya.


Tohrei hanya tertawa melihat betapa kesulitannya Eriana melawannya. Eriana hanya bisa terus mengayunkan pedangnya hingga terjadi sesuatu di serangan terakhirnya.


“Aku tahu aku payah tapi jangan asal tertawa!” Ucap kesal Eriana sembari mengayunkan pedangnya.


“Setidaknya tebas dulu sehelai rambutku jika kau ingin aku berhenti tertawa!” Tohrei masih merasa puas tertawa diatas penderitaan Eriana.


Namun di serangan terakhirnya tiba-tiba ayunan Eriana terasa begitu cepat. Itu seolah seperti serangan berkecepatan cahaya.


Lantas akibatnya Tohrei hanya bisa sempat memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan itu. Akan tetapi sebagian kecil rambutnya terpotong akibat serangan itu.


“Wow ..., yang tadi itu sungguh cepat. Nampaknya aku tak bisa bersenang-senang lebih lama lagi. Baiklah, aku akan berhenti tertawa.” Tohrei mengangkat kedua tangannya menandakan dirinya menyerah.


Setelah melakukan serangan itu, Eriana tiba-tiba saja terjatuh ke belakang dengan napas yang terengah-engah, namun dirinya masih sadarkan diri.


“Aku dengan cepat mematahkan perkataanmu bukan?” Tanya Eriana yang kini sangat kelelahan


“Iya iya.” Tohrei tersenyum membalasnya.


***


“Tadi itu sangat cepat, apa kau memakai kecepatan cahaya?” Tohrei dan Eriana saat ini sedang beristirahat, matahari tanpa mereka sadari sudah hampir berada di tengah, menandakan hari sudah menjelang siang.


“Kecepatan cahaya? Apa maksudmu Rei? Aku bahkan tak memakai skill apapun.” Eriana kebingungan dengan ucapan Tohrei.


“Eh? Ah ... lupakan saja.” Tohrei merasa aneh, serangan terakhir Eriana sangat cepat, bahkan hampir melampaui stat agilitynya. Apa itu cuman kebetulan.

__ADS_1


‘Sistem, apa kau memperhatikan sesuatu saat tadi kami bertarung?’ Tanya Tohrei pada sistem.


[Jika anda membicarakan serangan terakhir nona Eriana, maka saya bisa memastikan tidak ada yang aneh darinya. Namun saya sedikit merasakan genetik ras agung pada nona Eriana selama kurang dari sedetik.]


‘Ras Agung? Ras macam apa itu? Aku tak pernah mendengar itu sebelumnya.’


[Sistem tidak bisa menyampaikannya sekarang, mengetahui terlalu banyak hal dimasa sekarang akan membuat anda pikiran anda tak tenang.]


‘Sistem, jika kau punya wujud nyata akan kupukul kau sekarang ...’ Tohrei menghela napas, hanya bisa merasa kesal pada sistem karena dibuat penasaran.


***


Menyadari waktu telah tengah hari, Tohrei memutuskan untuk makan siang. Tohrei juga mengajak Eriana untuk makan siang.


“Makan siang kemana? Apa kau kenal tempat makan yang enak?” Tanya Eriana.


“Hehe, ya, itu ada disini.” Ucap Tohrei sambil menunjuk ke dirinya sendiri.


“Aku tak perlu mengatakannya, buktinya kau langsung tahu.”


“Aku tak yakin kau bisa melakukannya, namun baiklah, aku akan mencoba makananmu.” Ucap Eriana dengan remeh.


Ketika mereka kecil, Tohrei sering mencoba memasak namun hasilnya selalu gagal. Sedangkan itu Eriana selalu berhasil membuat makanan yang enak.


“Begitukah?” Tohrei menggunakan time slow, mengeluarkan alat pemanggang dan alat serta bahan memasak.


Time slow dinonaktifkan dan Tohrei segera memasak sebuah steak. Eriana dibuat terkejut dengan sikap Tohrei yang begitu cepat.


“Sejak kapan kau mengeluarkan semua itu?” Eriana hanya diam melihat setelahnya. Bau enak dari daging yang dipanggang tercium sampai ke hidung Eriana.


Tanpa Eriana sadari steak itu telah matang, melebihi baunya, penampilan steak itu begitu menggoda nafsu makan.

__ADS_1


“Ada apa? Makanannya sudah matang loh.” Tohrei segera memakan porsinya diikuti oleh Eriana yang baru terbangun dari lamunannya.


“I-ini sangat enak, bagaimana kau bisa membuatnya jadi seperti ini?” Eriana tanpa sadar memakannya sampai habis.


Tohrei hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum kemenangan. Hanya dalam beberapa menit makanan mereka telah habis.


“Ini aneh, kenapa makananmu bisa setingkat koki kekaisaran?”


“Kurasa itu cuman bayanganmu saja.”


***


“Ngomong-ngomong, apa kau tahu dimana murid yang lain? Dari pagi tadi hingga saat ini kulihat tempat ini masih sepi. Aku juga tak merasakan keberadaan mereka.” Ujar Tohrei beberapa saat setelah mereka selesai makan siang.


“Kalau tidak salah mereka pergi bekerja sampingan, kudengar Magreis bekerja sebagai kuli bangunan di sebelah timur ibukota, kalau tak salah bagian sana sedang ada renovasi.”


“Magreis melakukan itu? Kukira dia lebih memilih jadi petualang.” Tohrei keheranan dengan pekerjaan yang dipilih Magreis.


“Kurasa itu karena akhir-akhir ini tak banyak quest yang dikeluarkan guild petualang, jadi para petualang mencari pekerjaan lain, kurasa Magreis juga begitu.”


“Memikirkan seorang penggila pertarungan bekerja sebagai kuli bangunan...” Tohrei tertawa kecil, tetapi tentu pekerjaan seorang kuli juga layak dihargai.


“Lalu, melanjutkan yang tadi, aku hanya tahu orang yang bekerja sampingan selain Magreis hanya Isabella, dia bekerja di toko boneka di distrik utama.”


“Hmm, lalu bagaimana dengan Sei? Dia kelihatan cukup misterius bagiku.” Tanya Tohrei.


“Sei? Ah dia dirawat langsung oleh Venoire, jadi seharusnya dia berada di kantor kepala sekolah seperti biasa.”


Setelah itu mereka masih berbincang-bincang, selang beberapa menit mereka berpisah karena Eriana ada urusan.


Sementara itu Tohrei memutuskan untuk melatih skillnya. Skillnya yang terlalu banyak membuatnya harus terus mengingat dan melatihnya.

__ADS_1


__ADS_2