The Endless System

The Endless System
Ch 45 — Ikumi VS Ifrit


__ADS_3

Sementara itu di bagian luar wilayah Tohrei Ifrit dan Ikumi nampak akan saling berhadapan. Mereka berhadapan di hutan.


Mereka bertarung atas perintah Tohrei. Itu dilakukan untuk melatih Ikumi. Ikumi memiliki potensi yang sangat besar hingga bisa berevolusi menjadi monster di atas S rank dalam waktu yang tak lama. Namun itu hanya jika dia dilatih.


Setelah meningkatkan sihir Ikumi, kini giliran ilmu berpedangnya. Ternyata Ikumi cukup cepat menguasainya. Mereka berduel untuk memeriksa sudah seberapa kuat Ikumi.


“Apa nona sudah siap?” Ifrit bertanya kepada Ikumi. Gerakannya sudah dalam posisi siap bertarung. Ifrit memegang pedang api di tangannya.


“Umm!” Ikumi mengangguk. Dia juga menggunakan pedang sama seperti Ifrit hanya saja dia tidak memegang pedang api melainkan pedang biasa.


“Ikumi akan menyerang duluan!” Ikumi maju terlebih dahulu. Dia mengayunkan pedangnya ke arah Ifrit.


Ayunan pedangnya Ifrit hindari dengan begitu mudah. Akan tetapi setelah itu Ikumi kembali mengayunkan pedangnya ke arah Ifrit. Ikumi melapisi pedangnya dengan sihir angin yang tajam.


Kali ini Ifrit tidak menghindarinya, dia menangkisnya menggunakan bilah pedang apinya.


Akibat bentrokan antara api dan angin dari kedua pedang itu, ledakan terjadi dan mereka langsung mundur beberapa langkah untuk menghindari cidera.


Setelah mundur mereka kembali melancarkan serangan. Ikumi menyerang menggunakan sihir anginnya.


“!” Puluhan lingkaran sihir tercipta di sekitar Ikumi. Dari dalam masing-masing lingkaran sihir keluar panah angin yang melesat ke arah Ifrit.


Ifrit pun juga melakukan serangan. Dia menciptakan puluhan bola api dengan jumlah yang sama dengan panah angin milik Ikumi dan melesatkannya.


Akan tetapi yang tidak terduga adalah semua panah angin milik Ikumi terlahap ke dalam bola api Ifrit. Itu tidak diekspetasikan Ikumi sama sekali.

__ADS_1


Walau begitu, Ikumi dapat menghindari semua bola api itu dengan cukup kerepotan. Setelah menghindari semua itu, Ikumi kembali maju dan menyerang Ifrit berkali-kali dengan pedangnya.


Semuanya dapat dihindari oleh Ifrit dengan mudah. Tujuan Ikumi bukan mengenai Ifrit dengan pedangnya. Tujuannya mengayunkan pedangnya ke arah Ifrit adalah untuk mengulur waktu dan mengalihkan perhatian. Ketika tujuannya tercapai, Ikumi mundur.


Begitu Ikumi mundur, tanah bergejolak dan dari tempat Ifrit berpijak keluar pusaran angin yang begitu besar. Akibatnya sosok Ifrit tidak terlihat.


“Ah! Berhasil!” Ikumi berteriak gembira sambil mengangkat kepalan tangannya ke atas. Namun ternyata dia belum bisa gembira karena—


“Jangan senang dulu nona Ikumi.” Suara Ifrit terdengar dari ketinggian.


—Ifrit ternyata baik-baik saja. Dia melayang di atas pusaran angin yang seharusnya adalah milik Ikumi. Kini pusaran angin itu berubah menjadi tornado api yang membara.


“Kak Ifrit curang terus-terusan mengambil sihirku!” Ikumi menggembungkan pipinya.


Akibat tornado api itu, tercipta asap yang tercampur panas api menutupi seluruh pandangan. Ikumi harus menutup mata serta hidung dan mulut agar tidak terkena dampatnya dan secara bersamaan dia mencoba menghindari tornado api itu.


Ikumi membuka matanya perlahan ketika merasa asap yang menyebar telah hilang. Akan tetapi baru saja membuka matanya sedikit, Ifrit dengan begitu cepat berada tepat di hadapannya dan melancarkan serangan. Dia tidak menyerang menggunakan bilah dari pedangnya melainkan hanya dengan gagangnya.


Ifrit membenturkan gagang pedangnya ke kepala Ikumi. “Aduh!” Ikumi merespon serangan Ifrit.


“Anda harus tetap fokus dalam pertarungan nona Ikumi.” Ifrit memperingatkan Ikumi.


Asap kemudian memudar, tornado api pun nampaknya juga sudah menghilang.


“Baik...” Ikumi membalas ucapan Ifrit sambil memegang kepalanya yang tadi dihantam gagang pedang Ifrit. Walau hanya gagang pedang, ternyata rasanya cukup sakit.

__ADS_1


“Kita istirahat sebentar lalu latihan kembali.”


“Eh...? Kita latihan lagi? Bukankah Ikumi sudah cukup kuat?”


“Ya, nona Ikumi sudah cukup kuat, tetapi bukan berarti yang terkuat. kita akan latihan sampai matahari terbenam. Ini perintah tuan Tohrei.”


“Apa? Master bilang begitu?” Ikumi merasa tidak percaya.


“Tuan Tohrei mengatakannya sendiri, kita sebagai pengikut tuan Tohrei harus melayaninya dan berada digaris depan. Bagaimana jika suatu hari tuan tiada karena kelemahan kita?”


“Kak Ifrit ada benarnya...” Ikumi merenung. Dia tentu akan merasa bersalah jika Masternya tiada karena ketidak mampuannya.


Setelah itu Ikumi bertekad. Dia menepuk kedua pipinya dan bangkit. “Ikumi akan menjadi kuat!”


“Tekad yang bagus, tetapi sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu.” Ifrit tersenyum tipis.


Ketika Ifrit mengatakannya, perut Ikumi berbunyi. “Um! Mari kita makan siang!”


Setelah makan, Ikumi merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Namun itu bukan dikarenakan makanan yang ia makan.


“Tubuh Ikumi terasa aneh. Tinggi Ikumi entah kenapa terus bertambah.”


“Mungkin karena nona sedang dalam masa pertumbuhan, itu hal yang wajar.”


“Oh jadi begitu.”

__ADS_1


__ADS_2