The Endless System

The Endless System
Ch 40 — Ogre


__ADS_3

Tohrei berjalan keluar ruangan dan pergi menuju ke tempat para monster melakukan pembangunan.


Tohrei lihat pembangunan nampak lancar. Ketika dia sedang melihat-lihat, salah satu monster berlari sambil berbicara kepada Tohrei walau tidak terdengar jelas. Nampaknya dia ingin menyampailan sesuatu.


“Tu...tuan!” Sang monster memanggil Tohrei dengan tergesa-gesa. Dia adalah kobold yang seharusnya bertugas sebagai penjaga tembok. Selain monster yang bertugas membangun dan berburu, ada juga yang bertugas untuk berjaga. Tohrei sempat memberikan kobold itu nama. Namanya adalah Werfen.


“Hm? Ada apa?” Tohrei bertanya.


“Ada yang ingin saya sampaikan.”


“Cepatlah katakan, sepertinya ini adalah keadaan yang genting.” Tohrei dapat memahami situasinya dilihat dari raut wajah kobold itu.


“Saya punya tiga hal yang ingin saya sampaikan.”


“Kalau begitu persingkat agar ini berlangsung cepat.”


“Hal yang pertama yang ingin saya sampaikan adalah ada beberapa petualang yang mencoba melewati tembok. Kami berhasil mengusir mereka karena jumlah dan kekuatan kami.”


‘Para petualang? Sepertinya mereka akan kembali kesini karena tembok yang berdiri disana.’ Tentu mereka akan merasa aneh dengan keberadaan tembok itu dan segera melapor ke guild mereka. Tetapi itu pasti memakan waktu yang lama karena luas hutan ini. Kecuali mereka memiliki skill atau item yang dapat memindahkan mereka dengan cepat.

__ADS_1


“Hal kedua yaitu hal yang membuat saya terburu-buru kesini tuanku.”


“Apa itu?”


“Monster yang sangat berbahaya akan segera datang kesini. Dia adalah seekor slime yang sangat besar. Masalahnya dia dapat melahap apapun dan tidak dapat diserang. Untung saja dia memiliki laju yang lambat sehingga butuh waktu yang lama hingga sampai kesini.”


“Kalau begitu maka aku yang harus melawannya langsung kah? Lalu hal yang terakhir?”


“Saat kami berjaga, ada tiga ogre yang meminta untuk masuk ke dalam wilayah ini. Kami mengatakan akan meminta tanggapan anda terlebih dahulu. Mereka masih menunggu persetujuan hingga saat ini.”


“Kalau begitu bawa aku kesana.”


“Baik” Mereka berjalan menuju ke lokasi. Kobold itu yang mengantar Tohrei.


“Tolong apakah kami bisa lewat?! Kami hanya ingin melewati wilayah ini agar dapat pergi dengan cepat! Apa itu tidak bisa?! Kumohon!” Seorang gadis ogre berambut biru memohon dengan pasrah.


“Kami bilang tunggulah tuan kami, kami tidak bisa memutuskan hal itu tanpa persetujuan tuan.” Orc yang menjaga tembok berbicara kepadanya.


“Jadi mereka adalah ogre itu?” Tohrei datang kesana bersama dengan kobold yang mengantarnya.

__ADS_1


Begitu sampai akhirnya Tohrei menemui tiga ogre yang ia maksud. Tetapi Tohrei sama sekali tidak menyangka bahwa ogre sangat berbeda dari bayangannya.


Dalam bayangannya ogre adalah monster besar dengan wajah yang seram dan bertanduk. Namun kenyataannya ogre yang ia lihat sekarang adalah makhluk yang memiliki rupa sangat mirip dengan manusia. Hanya saja mereka memiliki dua pasang tanduk di dahi mereka.


Diantara tiga ogre itu ada gadis yang nampak sepantaran dengan Tohrei. Lalu ada gadis kecil yang nampaknya adalah adiknya. Kemudian ada ogre yang lebih tua dari mereka berdua, ia nampaknya adalah ibu mereka.


‘Mereka bertiga terlihat sangat cantik, yah itu wajar karena sepertinya mereka ibu dan anak. Atau mungkin mereka bertiga adalah kakak beradik?’ Tohrei agak bingung ketika mengira-ngira hubungan ketiganya karena yang ia duga adalah ibu mereka terlihat nampak sangat muda.


“Ah tuan Tohrei, jadi anda sudah tahu? Kalau begitu ini akan mudah, apa keputusan anda mengenai ini tuanku?” Orc itu menanyakan keputusan Tuannya.


“Tu..tuan?” Gadis ogre itu mengalihkan pandangannya kepada Tohrei. Dia tidak menyangka bahwa tuan dari para monster itu adalah seorang manusia dan lagi ia sepantaran dengannya.


“Keputusanku kah? Hei sebelum aku memutuskan ini ada yang ingin kutanyakan kepada kalian.” Tohrei berbicara kepada ketiga ogre itu.


“A..apa itu?”


“Apa penyebab kalian ingin melewati wilayah ini?” Tanya Tohrei.


“I...itu...,” Gadis ogre itu merasa agak berat untuk mengatakannya kepada Tohrei. Seolah dia mengingat kejadian buruk yang tidak ingin dia ceritakan.

__ADS_1


“Cerita ini akan terasa panjang kurasa.”


“Sebisa mungkin persingkat, aku tahu kau dalam keadaan yang genting bukan?”


__ADS_2