
Tohrei yang bingung ingin melakukan apa pada akhirnya melatih sihirnya. Dia berkreasi membuat mantra dari sihir-sihirnya. Ia berlatih hingga langit sudah berwarna oranye. Setelah itu dia bersandar sebentar di dekat pohon.
“Walau sudah menggunakan sihir sebanyak itu sepertinya aku sama sekali tidak kelelahan. Bahkan mana ku terasa masih cukup banyak. Jika mana ku tersisa sedikit maka seharusnya aku sudah kelelahan.” Tohrei bangkit dari duduknya dan membersihkan pakaiannya setelah bersandar di pohon.
“Master!” Seseorang memanggil Tohrei dari kejauhan. Mengapa Tohrei tahu bahwa orang yang dipanggil itu dirinya? Karena dia familiar dengan orang yang memanggilnya dengan sebutan Master. Ya, itu adalah Ikumi.
Tohrei menoleh ke asal suara dan melihat Ikumi melambaikan tangan sambil berjalan menuju dirinya. Ifrit nampak berjalan berdampingan dengannya.
“Oh? Apa kalian sudah selesai berlatih?” Tohrei membalas lambaian tangan Ikumi.
“Um! Ikumi berlatih keras!” Ikumi mengangguk pelan.
“Usaha yang bagus Ikumi, aku bangga padamu.” Tohrei mengelus kepala Ikumi dengan lembut.
“Kami tadi mencari anda dan Reikami bilang bahwa anda ada disini. Apa yang anda lakukan disini tuan Tohrei?” Ifrit bertanya.
“Ah, aku mencoba melatih sihirku, aku masih baru dalam hal sihir jadi aku harus melatihnya.” Tohrei mengatakannya sambil menunjukkan keempat sihir elemennya di atas telapak tangannya.
“Saya sama sekali tidak tahu anda bisa menggunakan empat elemen sihir sekaligus.” Ifrit sedikit tercengang ketika Tohrei menunjukkan sihirnya.
“Memangnya kenapa? Apa ini hal yang langka?” Tohrei bertanya dengan wajah polos.
“Iya, memangnya itu langka kak Ifrit?”
“Bagi makhluk peringkat S seperti kami dan Ikumi itu bukan masalah. tetapi setau saya, bagi manusia itu hal yang langka. Namun melihat berbagai kemampuan anda yang telah ditunjukkan kepada saya, hamba rasa tidak mengejutkan jika anda mampu menggunakan empat elemen sihir.” Ifrit menjelaskan.
Tohrei teringat bahwa Ifrit adalah makhluk S rank, begitu pun Ikumi. “Begitu kah? Aku mengerti.” Tohrei mengangguk mengerti.
Tohrei tidak tahu bagaimana sistem peringkat kekuatan di dunia ini. Tetapi dia tahu bahwa sepertinya dia sangat kuat dibanding Ifrit dan Ikumi jika dilihat dari statnya yang luar biasa tinggi.
__ADS_1
“Oh ya, hari sudah mulai gelap mari kita kembali.”
—Seminggu kemudian—
Pagi yang cerah menyambut Tohrei, seperti biasa Tohrei tidur dikamarnya sendirian. Ifrit dan Ikumi biasanya tidur bersama di ruangan lain.
Tetapi ketika Tohrei terbangun....
Dua sosok perempuan terbaring disampingnya dan tertidur pulas dengan baju tidur mereka. Di sisi kiri terdapat seorang wanita berambut merah yaitu Ifrit.
Sedangkan di sisi kanan ada seorang gadis bertelinga serigala dan berambut perak tertidur sambil memeluk erat dirinya. Dia adalah Ikumi.
‘Eh? Tunggu, dia sungguh Ikumi?’ Tohrei nampak tak percaya, Ikumi mengalami pertumbuhan dengan begitu cepat. Ikumi yang saat ini tidur bersamanya lebih seperti remaja dibanding sebelumnya yang terlihat seperti anak kecil.
Ketika Tohrei masih menganalisa situasi, Ikumi mulai membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Dia mengusap-usap matanya lalu menyadari keberadaan Tohrei.
“Selamat pagi juga Ikumi...,” Tohrei mengatakannya dengan senyum yang berkedut.
“Jadi bagaimana bisa kalian ada disini? Ini kan seharusnya kamarku.”
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya tuan karena menyelinap masuk ke tempat tidur anda.” Ifrit bangun dan meminta maaf kepada Tohrei.
“Tak perlu meminta maaf, yang penting adalah alasan kalian bisa ada di kamarku itu apa?”
“Biar saya jelaskan.” Ifrit akhirnya menjelaskan.
Ikumi malam tadi secara tiba-tiba merasakan sakit pada tubuhnya dan begitu saja dia masuk ke kamar Tohrei yang terkunci. Ia memeluk Tohrei dengan sangat erat dan setelah itu rasa sakitnya mereda. Ikumi pun tertidur pulas, Ifrit yang tentu merasa tingkahnya aneh mengawasinya saja karena Ikumi tidak dapat dilepas.
Ifrit tidak bisa terlalu kencang mencoba melepaskan Ikumi karena tentu itu akan mengganggu tidur tuannya. Jadi ia putuskan untuk hanya mengawasi. Akan tetapi suatu hasrat dalam diri Ifrit berusaha menguasainya. Tanpa sadar Ifrit juga ikut tertidur bersama keduanya.
__ADS_1
“Begitulah tuan.” Ifrit mengakhiri penjelasannya dengan tetap berwajah datar.
“O..oh..., aku mengerti.” Tohrei hanya mengerti sebagian, yang tidak ia mengerti adalah hasrat yang dimaksud Ifrit.
“Oh ya, apa kamu merasa aneh pada tubuhmu Ikumi?” Tohrei bertanya kepada Ikumi.
“Tidak, Ikumi tidak merasakan keanehan apapun. Master tidak perlu khawatir pada Ikumi!” Ikumi membalas pertanyaan Masternya.
“Baguslah kalau begitu.” Setelah itu mereka sarapan dan memulai hari. Tohrei berniat untuk melatih skillnya namun Ikumi meminta sesuatu.
“Master! Apa Master ingin bertarung dengan Ikumi? Ikumi ingin menguji kekuatannya.” Ikumi menyampaikan permintaannya begitu mereka selesai sarapan.
“Menguji kekuatan? Boleh saja, aku juga ingin melihat sudah seberapa kuat kau Ikumi.”
***
Mereka bertarung di hadapan semua pengikut Tohrei. Mereka yang senggang segera memenuhi tempat itu.
“Apa kamu sudah siap?” Mereka berdua bertarung tanpa mengenakan perlengkapan apapun kecuali pedang. Ikumi menggunakan pedang katana yang disarankan oleh Ifrit. Sedangkan Tohrei menggunakan Celerize XZ nya dalam bentuk pedang.
“Ya!” Ikumi menjawab.
“Kalau begitu mari kita mulai!” Tohrei menghunuskan pedangnya, tanda jika ia sudah siap bertarung.
Begitu Tohrei mengatakannya, Ikumi sudah melesat maju dengan kecepatan tinggi. Tebasan yang penuh dengan tenaga ia lesatkan ke arah Tohrei. Matanya begitu fokus pada targetnya.
‘Dia secepat ini? Ini akan menyenangkan!’ Tohrei dengan skill , menangkis tebasan Ikumi.
Percikan bunga api tercipta diantara gesekan kedua bilah pedang mereka. Mata mereka saling beradu tatapan.
__ADS_1