
[Misi Skenario Utama Selesai! Anda akan menerima hadiah dari sistem!]
[Anda menerima hadiah :
(1) 100 Status Point
(2) Blue Dragon Suit(S-rank Item)
(3) +3 Level Up]
[Anda naik ke level 363!]
“Level up yang sungguh sedikit, tapi biarlah, toh misi ini tak terlalu sulit.” Sedikit keluh Tohrei ketika melihat hadiah.
“Dan suit ini nampaknya lebih menarik.” Tohrei memperhatikan hadiah berupa sebuah jas dengan rank S.
Ketika Tohrei masih fokus pada hadiah, seseorang memanggilnya dari kejauhan.
“Master!!” Suara itu nampak familiar, suara itu perlahan mendekat.
“Huh?” Tohrei baru saja ingin menoleh, tetapi sebuah pelukan meluncur ke arahnya sebelum sempat melihat.
Ketika dia melihat lebih jelas, ternyata yang memeluknya adalah Ikumi. Tohrei bertanya-tanya, apa ada alasan pasti kenapa dia memeluknya?
“Ternyata itu kau Ikumi, kenapa kau tiba-tiba memelukku?”
“Apa Master ingat apa yang Master janjikan padaku?” Ikumi bertanya dengan antusias.
“Oh itu kah? Tentu, setelah ini akan kubuatkan kue krim untukmu.” Tohrei tersenyum tipis sambil mengusap kepala Ikumi.
“Tuanku, apa anda baik-baik saja.” Tak lama, Ifrit kemudian turun ke arena dan pergi ke arah Tohrei bersama dengan Urashia dan Ryui.
“Ya, aku sangat baik-baik saja, tetapi yang ingin kuperhatikan saat ini, dimana wasitnya?” Yang bisa Tohrei lihat di arena hanyalah puing-puing lantai yang hancur beserta sedikit asap yang masih mengepul.
Harciest dan Zen sudah pergi setelah Tohrei memusnahkan Cresil.
“I-itu ... ! Itu sungguh menakjubkan! Dia pahlawan! Dia telah menghabisi iblis itu!” Tiba-tiba saja dari bangku penonton, seseorang yang begitu takjub bertepuk tangan dengan keras.
__ADS_1
Para penonton lain yang awalnya hening karena terguncang kini tersadar, melihat iblis yang menakutkan sudah dihabisi membuat mereka kagum pada Tohrei. Tepuk tangan dan sorakan yang sangat besar berbunyi di seluruh arena.
“Hm, apa ini tandanya aku dinyatakan menang?” Tohrei melihat ke seluruh arena sambil tersenyum.
“Wyvern tadi itu ... darimana kau mendapatkannya Tohrei.” Ryui sedari tadi terpikirkan dengan phantom wyvern yang Tohrei panggil.
“Wyvern itu? Yah awalnya aku memusnahkan mereka lalu saat aku menggunakan monster summoning, phantom wyvern sudah berada dalam kontrakku, begitu juga dengan black magic lion. Saat aku memusnahkannya, itu tidak sekuat dengan yang aku panggil.” Jawab Tohrei.
‘Cerita itu nampak tidak masuk akal tetapi entah kenapa bisa dipercaya.’ Batin Ryui.
Phantom Wyvern yang ia bicarakan cukup aneh bagi Ryui. Wyvern pada umumnya merupakan naga yang dikutuk sehingga tidak memiliki sepasang kaki depan dan kekuatannya lebih lemah dari naga. Wyvern bisa bereproduksi dengan wyvern lain atau pun naga, namun keturunan mereka akan sepenuhnya berdarah wyvern.
Phantom wyvern merupakan turunan dari darkness dragon. Phantom wyvern cukup langka, tetapi dia tetap memiliki kekuatan jauh dari naga.
Yang jadi pertanyaan bagi Ryui, mengapa phantom wyvern itu memiliki kekuatan yang hampir setara dengan naga?
Phantom wyvern panggilan Tohrei memiliki aura yang bahkan hampir setara naga biasa. Itu melawan hukum mutlak dunia, wyvern tidak dapat berevolusi menjadi naga. Akan tetapi phantom wyvern itu memiliki kemungkinan yang sangat tinggi untuk berevolusi.
‘Jika pun kutanya Tohrei, kurasa dia tidak akan tahu.’ Ryui menghela napas pasrah.
“Apa sudah aman?” Dari arah pintu di ujung arena, keluar wasit yang dengan takut masuk ke dalam arena.
“Oh? Kau wasit itu kan? Sepertinya aku menang, jadi apa kau bisa menyatakan kemenanganku?” Tohrei melirik ke arah wasit.
“Ah! Baik!” Wasit walau masih terkejut tetang melaksakannya sebagai wasit.
“Pemenangnya adalah Yami!” Tepuk tangan menjadi lebih meriah.
***
Karena kejadian iblis itu, pertandingan final ditunda selama seminggu. Itu untuk meredakan kepanikan penonton serta untuk memperbaiki arena yang sangat hancur akibat sihir kegelapan.
Ngomong-ngomong tentang iblis, para hero yang dipanggil ke dunia ini sebenarnya belum pernah bertemu satu pun iblis. Mereka dipanggil kesini hanya karena ramalan, mereka belum tahu bahwa iblis telah mulai menyerang tanpa mereka ketahui. Mereka masih dalam pelatihan.
Sementara itu, Venoire—orang yang sebelumnya bersama dengan Eriana—pergi mengunjungi Harciest dan Zen.
“Hei Zen, apa tujuanmu selanjutnya? Kau gagal memenangkan turnamen, begitu pun aku.” Dalam perjalanan ke penginapan, Harciest dan Zen saling berbincang.
__ADS_1
“Tujuan awalku ke turnamen itu hanya untuk uang saku, tetapi karena sudah kalah, kurasa sekarang yang bisa kulakukan hanyalah kembali berkelana.”
“Kurasa aku akan melakukan hal yang sama. Hei, bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama?” Harciest memberi tawaran pada Zen.
“Aku sangat yakin dengan seyakin-yakinnya akan menolak tawaran itu. Aku tak butuh rekan perjalanan sama sekali.”
“Begitu dingin ....” Harciest mengejek sifat Zen.
“Itu memang elemen dasarku, ada masalah?” Secara tiba-tiba hawa dingin mulai menusuk Harciest.
“Ti-tidak ada masalah kok ... !”
“Sebaiknya kau jangan banyak omong kosong denganku.” Mereka kembali berjalan bersama dengan normal.
“Hm? Apa benar ini Harciest dan Zen?” Suara misterius terdengar dari belakang, Zen dan Harciest segera berbalik dengan waspada.
“Tenang, aku tidak ada niat buruk sama sekali, aku hanya ingin membuat penawaran dengan kalian. Sebelum itu, biar kuperkenalkan diriku.”
Tanpa mengendurkan kewaspadaan, keduanya menyimak orang misterius itu.
“Namaku Venoire Horive, kepala sekolah dari Aelion Magic Academy, aku disini secara langsung menawarkan kalian untuk masuk ke kelas khusus di akademi sihirku.” Ia memperkenalkan dirinya dengan santai.
“Akademi sihir ... ?” Jika tidak salah dengar, kepala sekolah dari Aelion Academy memanglah bernama Venoire, mereka tidak bisa percaya begitu saja padanya, namun wibawanya terasa meyakinkan.
“Benar, kurasa kalian cocok menjadi murid akademi.”
‘Akademi sihir? Apa itu bisa membantuku mencari penawar untuk kakakku?’ Batin Zen yang masih mempertimbangkan keputusannya.
“Apa dengan ke akademi sihir itu aku bisa bertambah kuat?” Tanya Zen.
“Tentu, kalian memiliki potensi yang menarik untuk digali, kalian bisa lebih kuat dari diri kalian yang sekarang.”
“Jika begitu maka aku akan menerima tawaranmu.” Dan mengatakan keputusannya.
“Senang mendengarnya, bagaimana denganmu Harciest?” Venoire menoleh ke arah Harciest.
“Aku juga akan menerima tawaran itu, ini tawaran yang jarang bukan?” Harciest pun juga menerima tawaran itu.
__ADS_1
Venoire mengangguk pelan, lalu ia memasukkan tangannya ke balik jasnya dan mengambil dua buah kartu.
“Untuk sekarang peganglah kartu ini, aku akan mengabari kalian melalui kartu itu ketika kalian sudah bisa masuk ke akademi.” Setelah memberikan kedua kartu itu, Venoire menghilang begitu saja.