
Setelah pertandingan ketiga, pertandingan keempat dan kelima berakhir dengan lebih cepat. Pertandingan keempat diisi oleh Urashia dan pertandingan kelima diisi oleh Yuuryui. Musuh mereka terlalu lemah sehingga berakhir cepat.
Oleh karena itu pertandingan keenam yang diisi oleh Zen dimulai. Pemuda dengan sihir es itu memiliki nama Zen. Dengan rambut putihnya dan sifat pendiamnya membuat dirinya terlihat dingin.
Lawannya adalah seorang pria dengan pedang besar. Dia melihat kekuatan yang dimiliki Zen di babak pertama sehingga dia cukup waspada.
“Apa kalian sudah siap? Pertandingan keenam dimulai!” Ucap sang wasit.
Sang pengguna kapak besar segera melesat ke arah Zen. Ia berpikir bahwa jika ia bisa segera menghentikan Zen maka Zen tidak akan memiliki kesempatan untuk menggunakan sihir.
Akan tetapi, dugaannya salah.
Baru beberapa langkah ia bergerak, ribuan duri es tercipta dari bawah tanah dan hampir saja mengenainya.
“” Zen hanya diam di tempat.
‘Dia bisa secepat itu menggunakan sihir?!’ Lawan Zen percaya diri pada kecepatannya, sulit dipercaya seorang penyihir bisa merapalkan mantra melawannya baginya.
“Jangan buang-buang waktu ku, akan ku kalahkan kau segera. ” Ratusan panah yang terbuat dari es tercipta di sekitar Zen.
Panah-panah es itu melesat ke arah musuhnya. Jika terkena sedikit saja goresan dari panah itu maka tubuhnya akan membeku sementara.
Dengan pedangnya yang cukup besar, lawannya bisa berlindung dengan sedikit aman. Dia berpikir bahwa hanya dengan berlindung di balik pedang maka dia akan berhasil mendekati Zen.
Namun dia tidak menyangka satu hal.
“Percuma.” Ucap Zen sebelum sebuah panah es meluncur dan bergerak menyerang punggungnya.
Seketika dirinya membeku bersama dengan pedangnya. Itu bukan serangan terakhir, karena setelah itu Zen maju ke arahnya.
Lalu, dengan cepat dan kuat Zen memberi tendangan yang keras kepadanya. Ia terhempas ke tembok arena dalam keadaan tak sadarkan diri. Pedang besar miliknya hancur beserta dengan es yang melapisi tubuhnya.
“Pemenang pertandingan keenam adalah Zen.” Wasit menyatakan pemenang setelah melihat keadaannya sedikit lama.
__ADS_1
Para penonton bertepuk tangan, sebagian besar penonton wanita hingga bersorak layaknya seorang fans idol. Nampaknya itu wajar karena wajah Zen memang cukup tampan bagi mereka.
Sedangkan Tohrei dan yang lain hanya memberi tepuk tangan biasa.
Setelahnya hanya sejumlah pertandingan yang membosankan, pertandingan ke tujuh hingga ke empat belas diisi oleh orang-orang yang tidak begitu memukau.
Tak lama pertandingan ke lima belas diadakan. Pertandingan ke lima belas adalah pertandingan Harciest, seorang pengguna sihir metal.
“!” Puluhan duri melesat ke arah musuhnya.
“A..aku menyerah.” Ucap musuhnya sambil berada dalam keadaan dimana pakaiannya tergantung karena duri buatan Harciest.
Pertandingan ke lima belas pun berakhir secepat itu. Tanpa berlama-lama pertandingan ke enam belas yang merupakan pertandingan terakhir di babak ini diadakan.
“Pertandingan terakhir, Cresil melawan Kaizin, peserta dipersilahkan maju ke arena.”
Setelah menunggu, peserta masuk ke dalam arena. Akan tetapi, yang masuk bukanlah dua melainkan hanya satu orang. Orang tersebut yaitu Cresil, dia adalah orang berjubah hitam bergaris ungu yang Tohrei pernah perhatikan.
“Dimana peserta itu?”
“Entahlah, mungkin dia merasa tak sanggup mengalahkan lawannya.”
Para penonton ikut mempertanyakan hilangnya peserta itu.
“Karena kejadiannya begini, maka kami akan memberi jeda. Jika dalam 8 menit peserta itu belum kunjung datang maka pemenangnya akan langsung kami nyatakan.” Ucap sang penyelenggara. Para penonton pun setuju.
Namun, sudah delapan menit berlalu namun lawan dari Cresil belum kunjung datang. Oleh karena itu pihak penyelenggara sudah memutuskan pemenangnya.
“Karena peserta Kaizin tidak kunjung datang, maka Cresil yang memenangkan pertandingan terakhir di babak ini.” Cresil dinyatakan pemenang oleh wasit.
Para penonton kurang suka dengan pertandingan ke enam belas ini. Karena ini pertarungan terakhir di babak kedua, jika diakhiri dengan kemenangan yang dinyatakan seperti ini maka akan terlihat buruk sebagai penutup. Namun para penonton pun cukup menghiraukannya.
“Karena babak kedua telah berakhir, maka babak ketiga akan diadakan besok. Daftar peserta sudah di tampilkan. Babak ketiga akan diadakan besok.” Ucap sang penyelenggara.
__ADS_1
Para penonton dan peserta membubarkan diri dari arena. Sementara itu di sebuah sisi, dua orang masih duduk di area penonton.
Mereka berdua adalah seorang pria berambut biru tua pendek dengan gaya belah tengah dan seorang gadis berambur pirang. Pria berambut biru tua itu memakai sebuah kacamata. Mereka berdua memiliki usia yang tak terpaut jauh. Pria berambut biru tua itu berumur 22 tahun sedangkan gadis itu berumur 16 tahun.
“Bagaimana dengan pertandingan tadi, tuan putri?” Tanya sang pria berambut biru.
“Bagaimana apanya? Aku ingin segera cepat pulang Venoire.” Gadis yang disebut tuan putri olehnya mengatakan namanya.
“Apa anda lupa tujuan kita kesini?”
“Tujuan? Yang ku ingat kita kesini hanya untuk melihat keadaan kota.” Tuan putri itu bersikap cuek.
“Jangan berpura-pura lupa, tujuan kita kesini untuk mencari orang yang menarik agar bisa dimasukkan ke kelas khusus.” Dihadapan Venoire, ia tidak bisa berbohong.
“Gh, A..aku ingat! Tapi apa kau sudah puas? Bukankah tidak ada yang menarik perhatian bagimu?”
“Tidak, aku menemukan beberapa yang menarik. Tapi yang kutanyakan adalah pendapatmu, siapa yang membuatmu tertarik untuk masuk ke kelas khusus?”
“Tidak ada, sejak awal pun aku tidak tertarik untuk mengikuti ini.” Sang tuan putri itu menjawabnya dengan senyum tipis.
“Ah, kau berbohong lagi! Kau berbohong sebanyak dua kali! Mungkin aku akan mengatakan pada kaisar betapa nakalnya anaknya.”
“Aku malas berdebat denganmu, baik, akan ku katakan. Ada satu orang yang membuatku tertarik.”
“Ho? Siapa itu?”
“Itu rahasia, cukup kujawab sampai sini saja kan?” Jawabnya dengan senyum.
“Baik-baik, tuan putri Mahkota, Eriana.”
“Huh? Ada apa kau mengatakan itu tiba-tiba?”
“Tidak ada alasan penting.” Venoire menggelengkan kepala.
__ADS_1