
Tohrei memberitahu bahwa ia dapat menyembuhkan ibu Virea. Hal itu membuat Virea dan Miria merasa mendapatkan sedikit harapan.
“Bagaimana caranya? Aku akan melakukan apapun jika tuan bisa menyembuhkan ibu!” Virea secara tiba-tiba menggapai tangan Tohrei dengan wajah penuh harapan.
“Kurasa kau tidak perlu mengatakan itu, toh kalian akan menjadi pengikut setia ku.” Tohrei melepas genggaman Virea.
“Lebih baik kita kembali dulu, biar aku yang bawa nyonya Mirevia.” Tohrei menggendong Mirevia yang saat ini wajahnya memucat.
“Baik.”
Mereka berpindah tempat menggunakan switch sehingga mereka berpindah dengan singkat ke kediaman Tohrei. Mereka berpindah ke sebuah kamar tidur.
Tohrei membaringkan Mirevia di tempat tidur itu. “Kalian mundurlah sedikit, ini akan menyilaukan.” Tohrei memperingatkan Virea dan Miria.
Menuruti perkataan Tohrei, Virea dan Miria mundur beberapa langkah. Setelah itu Tohrei bersiap untuk mengeluarkan skillnya.
“” Tohrei mengarahkan tangannya kepada Mirevia.
Seketika sebuah cahaya muncul di tangan Tohrei dan cahaya itu ditransfer ke Mirevia. Cahaya itu bersinar selama beberapa detik hingga akhirnya memudar.
Wajah pucat Mirevia kini sudah tidak terlihat, malah yang terlihat adalah wajahnya yang entah mengapa semakin mempesona.
[Penyakit berhasil diangkat! Anda mendapatkan gelar : The Healer!]
[Anda mendapatkan 10 poin sebagai imbalan.]
“Kurasa dengan begini penyakitnya kini sudah diangkat.” Tohrei menonaktifkan skill healingnya.
__ADS_1
“Sungguh?!” Virea dan Miria segera menghampiri ibu mereka dan menanyai keadaannya.
“Ibu entah mengapa merasa lebih baik. Mana yang dulu tidak bisa ibu gunakan kini sudah bisa digunakan setelah sekian lama.” Mirevia merasa bersyukur penyakitnya telah diangkat.
“Baguslah kalau begitu.” Tohrei tersenyum lega.
“Terima kasih kak Tohrei sudah menyembuhkan Ibu!” Miria memeluk Tohrei dengan gembira.
“Sama-sama.” Tohrei mengelus kepala Miria.
“Mi..miria?! Apa yang kamu lakukan memeluk tuan Tohrei tiba-tiba.” Virea tak menduga tindakan Miria.
“Memangnya salah memeluk sebagai tanda terima kasih?”
“A...ah itu...,” Virea hanya bisa terdiam.
“Terima kasih tuan Tohrei, dengan begini kami sangat bersedia menjadi pengikut anda. Bahkan sepertinya saya juga bersedia menjadi istri an—” Virea segera menutup mulut ibunya.
“Hmm memangnya apa?” Tohrei sendiri tidak mengerti maksudnya.
“Oh ya, karena kalian kini adalah pengikutku, kurasa darah ini harus kuberikan kepada kalian.” Tohrei memberikan darahnya secara langsung. Tohrei memberikan masing-masing satu tetes kepada mereka. Tohrei memberinya kepada mereka menggunakan telekinesisnya.
“Darah? Apa maksud tuan memberi ini kepasa kami?” Virea bertanya kepada Tohrei.
“Kalian akan tahu fungsinya besok jika meminumnya sekarang.” Mendengar perkataan Tohrei, mereka meminumnya tanpa ragu.
“Kalau begitu aku akan kembali dulu, jika ada apa-apa bilang kepada Ifrit atau Reikami. Mereka sering berjaga disini. Aku akan memberitahu kalian kepada mereka. Ini peta kediaman ini jika kalian tersesat.” Tohrei berjalan pergi sambil melemparkan peta kepada Virea.
__ADS_1
“Aku akan memberi kalian perintah lain waktu.”
“A..ah! Terima kasih tuan Tohrei!” Virea menurunkan punggungnya kepada Tohrei.
“Ya! Sampai jumpa.” Tohrei keluar dan menutup pintu.
‘Sekarang, mari kita lihat keadaan Ryui.’ Tohrei berjalan menuju ke kamar dimana Ryui berada.
***
—Di kamar Yuuryui—
“Ukh..., apa evolusinya sudah selesai? Apa memang sesingkat itu?” Ryui bangun setelah tidak sadarkan diri beberapa waktu yang lalu.
“Hm..., kurasa tidak ada yang berubah setelah evolusi.” Ryui memperhatikan seluruh tubuhnya. Tidak ada yang berubah sama sekali bahkan dadanya yang datar tidak tumbuh sama sekali....
“Juga, rasanya perutku lapar, ini sudah lama tidak terjadi. Padahal biasanya aku tidak akan merasa lapar kapan pun. Apa ini efek dari evolusi?”
“Mungkin..., aku bisa mencoba memakan makanan yang diberikan bocah manusia itu...,” Ryui melirik ke sup yang sedari tadi sudah ada di samping tempat tidurnya.
“Kurasa setidaknya aku bisa mencoba satu suap.” Ryui mengambil sesendok sup dan mencoba memasukkannya ke mulutnya dengan sedikit ragu.
“Apa kau sudah bangun Ryui?” Seseorang dari luar ruangan membuka pintu dan mengejutkan Ryui.
“Huwaa!!” Ryui secara tidak sengaja menumpahkan sup itu ke arahnya.
“Oh, kau sudah bangun ternyata.”
__ADS_1
“Ka..kau!” Ryui merasa malu dan marah.
“Jangan masuk tiba-tiba!” Ryui berkata dengan nada yang marah sambil mengarahkan telunjuknya ke Tohrei.