The Endless System

The Endless System
Ch 112 — Rasa Menyesal


__ADS_3

Keterkejutan mereka tak hanya berhenti disana. Tohrei menggerakkan tangannya ke arah dahi Aamun. Ia lalu menjitak dahi Aamun dengan menggunakan satu jari.


Orang normal akan berpikir bahwa jitakan itu tak akan berefek apapun, namun tanpa disangka, Aamun terpental begitu terkena jitakan dari jari Tohrei.


“Gaaghh?!” Aamun hanya bisa merasa lebih terkejut ketika dirinya terpental jauh melewati Venoire.


Venoire dan yang lainnya seketika terdiam, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun beberapa mewajarkan karena pernah melihat kekuatan Tohrei sebelumnya, yaitu Harciest dan Zen.


Eriana dan Venoire tentu juga tahu kekuatan Tohrei, namun mereka sama sekali tak mengetahui bahwa kekuatan Tohrei itu bisa sekuat ini. Hingga mampu membuat seorang iblis seperti Aamun terpental, itu melebihi ekspetasi mereka.


Aamun terjebak dalam dinding gua dengan bekas puing-puing disekitarnya. Dia seolah-olah telah pingsan atau mati, namun sesaat setelah diam tak bergerak, Aamun mengangkat kepalanya. “Ghhh?!”


Dengan menggertakkan gigi tajamnya, Aamun kembali bangkit. Namun kebangkitannya itu seolah tak sepenuhnya sadar. Wajah Aamun nampak beringas dan tak terkendali, seperti hanya insting yang menggerakkan tubuhnya.


Aamun mengubah kedua tangannya menjadi pedang. Dia melesat ke arah Tohrei dengan sangat murka.


Akan tetapi, dengan hanya mengibaskan satu tangannya, Tohrei meretakkan pedang yang terbentuk di lengan Aamun.


Aamun kini hanya bisa tersungkur dan tak bisa berdiri. Dia mencoba berdiri dengan segala cara, namun Tohrei menghampirinya dan berjongkok tepat di depannya.


“Nampaknya tak ada yang bisa kau lakukan lagi ya? Yah baiklah, tak ada gunanya lagi melawanmu lebih lama.” Tohrei meletakkan tangannya di atas kepala Aamun dan mengaktifkan skill Gluttony.

__ADS_1


Tohrei sebenarnya ingin menguji skill spirit mode ke Aamun, namun dia tak menyangka Aamun akan kalah semudah ini sehingga tak sempat menggunakan spirit mode.


Dia berhasil menyerap Aamun dan mendapatkan skill : . Itu tak cukup memuaskan sebenarnya. Yang lebih mengecewakannya lagi adalah dia tak bisa mengambil ingatan dari Aamun.


[Anda tak bisa menyerap ingatan dari Aamun karena tersegel oleh kutukan tingkat X.]


‘Huh? Apa?’ Setelah melihat pesan dari sistem, Tohrei menoleh ke arah tempat dimana Aamun sebelumnya ia serap dan melihat sebuah serpihan ungu melayang dengan cahaya terang.


‘Aku merasakan hal yang buruk!’ Dengan refleks yang cepat Tohrei mengaktifkan skill Barrier untuk melindungi Venoire, Eriana, dan yang lain.


Tak sampai sedetik setelah itu sebuah ledakan keluar dari kristal itu. Membuat segala struktur dari gua ini hancur.


“Rei!!” Eriana begitu panik ketika melihat langit gua berjatuhan dan Tohrei yang tak terlindungi barrier membuatnya merasa sangat khawatir.


Tohrei kemudian melemparkan semua batu-batu itu keluar dari gua. Namun Tohrei tak melempar secara asal, dia melempar bebatuan itu kelautan. Kebetulan sekali lokasi gua ini dekat dengan lautan.


“Huft ... tadi itu sungguh tak terduga.” Tohrei menghela napas, mengeluhkan kejadian tak terduga barusan.


Eriana berlari keluar barrier menuju ke arah Tohrei. Ia lekas memeluk Tohrei dari belakang dan menghanyutkan wajahnya di punggung Tohrei.


Yang lain merasa terkejut, mereka tak mengetahui kedekatan yang Tohrei miliki dengan putri Eriana. Oleh karena itu mereka merasa kebingungan.

__ADS_1


“H-hei ada apa?” Tohrei bereaksi atas pelukan Eriana yang tiba-tiba.


“Aku tahu kau itu sudah jadi sangat kuat ... tapi yang barusan itu keterlaluan tahu! Apa kau tak tahu seberapa khawatirnya aku?!” Eriana dengan suara yang sedikit gemetaran berbicara pada Tohrei.


“...” Tohrei menatap ke atas, hanya diam dan tak membalas perkataan Eriana.


Dalam sudut pandang Tohrei, kekhawatiran Eriana terlalu berlebihan. Namun dalam sudut pandang Eriana kekhawatiran itu sangat wajar, dia tak mengetahui bahwa Tohrei lebih kuat dari yang ia duga dan sebagai sahabatnya semasa kecil, tentu dia sangat khawatir dengan keselamatannya.


“Aku tak pernah dengar kalau tuan putri dekat dengan satu pun pria. Melihat tuan putri bertingkah dekat dengan sosok Yami sungguh mengejutkan.” Isabella merupakan salah satu orang yang mengagumi Eriana, tentu dia terkejut melihat kedekatan Eriana dengan Yami(Tohrei).


“Aku sudah menduga kalau mereka cukup dekat!” Magreis merasa tebakannya benar.


Sementara itu, Venoire menundukkan kepala dengan tangan di pinggang. Ia menghela napas berat. Dia nampaknya merasa menyesal.


“Huft ... maafkan aku semuanya, aku sama sekali tak menduga kejadian seperti ini. Aku bisa saja membahayakan nyawa kalian. Jika Yami tidak ada disini maka aku tak tahu hal yang lebih buruk apa yang akan terjadi.”


Dengan tangan kanan di dada kiri, Venoire menundukkan badan kepada semuanya. Dia tak cukup sombong untuk enggan meminta maaf atas kesalahannya.


“Itu sama sekali baik-baik saja pak! Kau tak perlu menundukkan badanmu seperti itu!” Harciest tak merasa bahwa Venoire salah dalam hal ini.


“Apa yang dia ucapkan ada benarnya, toh karena kita kesini kami bisa bertambah kuat.” Ucap Zen menguatkan ucapan Harciest.

__ADS_1


Yang lainnya menganggukkan kepala, menyetujui itu. Sementara itu Eriana dan Tohrei juga menyimak.


‘Ukh ... aku jadi merasa sedikit bersalah, karena akulah iblis itu datang kemari ...’ Timbul sedikit rasa menyesal dihati Tohrei.


__ADS_2