The Endless System

The Endless System
Ch 130 — Dungeon 4 Lantai


__ADS_3

Hari esok tiba, dimana babak ketiga dari turnamen akan dimulai. Para peserta yang tersisa kembali ke arena untuk kembali bertanding.


“Aku sudah menjelaskannya kemarin, namun aku akan menjelaskan kembali secara singkat,” ujar Clowner sang pembawa acara.


“Kalian harus melewati 4 lantai yang ada di dungeon, hanya 4 peserta tercepat yang bisa lolos ke babak berikutnya.” Jelas Clowner yang ditatap oleh para peserta karena mereka masih bertanya-tanya bagaimana cara pergi dari lantai satu ke lantai yang lain.


“Hm ... aku tidak akan mengungkapkan bagaimana cara pergi ke tiap lantai, cari tahu sendiri saja kalian!” Seru Clowner.


Usai ucapannya itu, delapan peserta yang tersisa langsung dipindahkan ke lokasi babak ketiga. Tentunya mereka dipindahkan secara acak dan dipisah-pisah agar mempersulit mereka.


“Babak ketiga telah dimulai! Bagaimana situasi yang dihadapi oleh para peserta? Mari kita lihat! Mulai dari sang peringkat pertama di babak kedua, yaitu Tohrei Yuusei!” Clowner menyalakan layar yang memunculkan situasi yang terjadi di dalam dungeon.


Dungeon lantai pertama merupakan labirin penuh jebakan yang cukup gelap. Namun hal itu sama sekali tidak berlaku pada para peserta yang memiliki skill untuk membuat penerangan.


Salah satu peserta yang memiliki skill untuk membuat penerangan tentunya adalah Tohrei. Apakah Tohrei akan menggunakan sihir api untuk dijadikan media penerangan?


Jawabannya adalah tidak, karena dia memiliki skill Night Vision yang memungkinkannya melihat dalam gelap tanpa diketahui siapa pun.


“” Tohrei mengaktifkan skillnya begitu sampai disana.


Skill night vision lebih unggul daripada sihir api, alasannya sederhana, itu karena night vision tak akan menarik perhatian lawan dibandingkan sihir api yang akan membuatnya lebih diperhatikan karena memiliki sumber cahaya yang dapat dilihat oleh siapapun.


“Tohrei tampak dengan begitu santai berjalan! Skill macam apa yang dia miliki hingga sesantai itu?” Clowner berkomentar pada tindakan Tohrei.


“Dia tidak memberi petunjuk apapun, apa si badut itu ingin para peserta lebih kesulitan?" Tohrei berbicara sendiri sembari berjalan mencari suatu hal yang mungkin bisa jadi membawanya ke lantai dua.


“Tetapi sayangnya itu tidak berguna untuk diriku.” Tohrei secara tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah beberapa saat, dia tampak akan menganalisa sesuatu.


“Hm? Apa yang dilakukannya? Dia tiba-tiba berhenti! Apa dia menyadari jebakan di depannya?!” Clowner merupakan orang yang sudah diberitahu letak-letak jebakan yang ada serta cara untuk pergi ke lantai berikutnya sehingga dia sedikit terkejut ketika melihat Tohrei menghentikan langkahnya


“Sistem, analisa seluruh lorong ini.” Tohrei meminta pada sistem dengan santai.

__ADS_1


[Memerlukan 80 poin status untuk menganalisa seluruh lantai satu.]


“Itu bukan masalah, pakai dan kita lihat bagaimana cara pergi ke lantai selanjutnya.”


[Menganalisa ...]


[Hasil telah muncul, seluruh jebakan, jalan rahasia, serta item tersembunyi teranalisa.]


Seketika puluhan layar biru muncul di hadapan Tohrei hingga ke ujung lorong. Layar biru itu merupakan keterangan yang muncul dari sistem.


Berkat dari hal itu, Tohrei dengan mudah menghindari jebakan-jebakan yang ada disana. Jalannya yang bisa dengan santai menghindari seluruh jebakan membuat Clowner begitu tertarik dengannya.


“Dia menghindari seluruh jebakan! Sulit dipercaya!” Seru Clowner.


Namun setelah 5 menit berjalan kembali, Tohrei kini berhenti sekali lagi. Itu karena dia melihat suatu layar di sebuah tembok yang bertuliskan jalan rahasia menuju suatu tempat.


“Huh? Dia berhenti lagi? Tindakan apa yang ingin dia lakukan—” Clowner sontak terkejut ketika Tohrei secara tiba-tiba saja memukul tembok di kanannya dengan keras.


“Di-dia menyadari jalan rahasia begitu saja ... ?” Gumam Clowner yang sedikit ternganga melihat tindakan Tohrei.


“Kira-kira menuju ke mana jalan rahasia ini?” Tohrei dengan penasaran memasuki jalan itu.


Tohrei terus melangkah hingga dia sampai ke ujung lorong yang disana terdapat sebuah peti kayu kecil yang tampak mencurigakan.


Namun, berkat analisa sistem, Tohrei mampu mengetahui isi dari peti itu. Bahkan selain peti itu, sistem juga menganalisa sebuah jebakan yang akan memunculkan monster. Jebakan itu tepat berada di hadapannya.


“Dia sampai di ujung! Melihat itu tentu saja dia akan mengambilnya, tetapi dia pastinya tidak tahu bahwa di depannya adalah sebuah jebakan monster yang sangat tersembunyi.” Clowner menebak Tohrei kali ini tidak akan mampu menghindari jebakan itu.


Akan tetapi, tebakan dari Clowner tentunya terbantahkan karena sejak awal di sana Tohrei sudah mengetahuinya.


“” Tohrei tentu tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghindari jebakan tersebut. Yaitu dengan cara membawa peti itu sendiri ke hadapannya.

__ADS_1


“Dia tidak menghindari jebakan! Dia membawa peti itu sendiri kepadanya tanpa mengaktifkan jebakan! Tidak bisa diduga!”


“Nah mari kita lihat apa isi peti ini ...”


Walau di peti itu terdapat slot kunci, Tohrei sama sekali tidak memerlukan kunci untuk membukanya. Mungkin itu sudah didesain seperti ini sejak awal.


Tohrei membuka peti itu dan menggunakan appraisal, dia tersenyum tipis melihat deskripsi isi peti itu.


“Ini dia,” Ucap Tohrei dengan senyum kemenangan.


[Floor Key


Sebuah kunci yang digunakan untuk membuka pintu menuju lantai dua. Masukkan kunci pada slot kunci yang kosong pada peti untuk membuka pintu.]


“Aku bertanya-tanya mengapa ada slot kunci disini ternyata ini untuk membuka pintu ke lantai berikutnya ya?”


Tohrei mengambil kunci dari peti itu dan memasukkannya pada slot kunci pada peti. Tampaknya bukan suatu kebetulan mengapa slot itu memiliki ukuran yang pas dengan kunci tersebut.


Usai memasukkan kunci itu, isi peti yang kosong secara tiba-tiba bersinar. Sinarnya itu perlahan memudar ketika Tohrei menyadari bahwa dirinya kini telah berpindah ke lantai kedua.


Sementara itu dilain sisi, yang lain dengan bersusah payah mencari petunjuk yang ada dan menemukan peti yang sama dengan Tohrei. Namun peti-peti itu hanya berjumlah tujuh, satu sudah digunakan Tohrei sehingga tersisa enam.


Diantara peserta, yang tak mampu menemukan peti hanyalah Ristalia. Ketika yang lain sudah ke lantai 2, Ristalia masih terjebak di lantai 1.


“Kapan aku bisa keluar dari sini ... ?! Jebakan-jebakan itu begitu menyebalkan,” Katanya dengan begitu kesal.


Ketika dirinya masih begitu kesal, kristal yang dia miliki memunculkan suara. Ristalia memeriksanya dan mendapat pesan eleminasi.


[7 peserta telah memasuki lantai kedua. Ristalia, karena tidak mampu pergi ke lantai kedua lebih dahulu maka dia tereleminasi di babak kedua.]


“Apa?!!”

__ADS_1


Beberapa detik setelah itu, Ristialia dipindahkan dari dungeon karena tereleminasi.


__ADS_2