
Berapakah jumlah dari penduduk Dezalene Kingdom?
Itu kira-kira adalah 800 ribu. Jumlah tersebut sudah tergolong populasi yang sangat banyak di zaman seperti ini.
Aelion Empire yang merupakan negeri dengan wilayah terbesar saja hanya memiliki sekitar 5 juta penduduk. Namun, tidak sulit untuk mendidik mereka karena kekaisaran tersebut sudah berdiri sejak 500 tahun yang lalu. Yang mana di masa itu jumlah penduduk mereka tidak sebanyak sekarang ini.
Dibandingkan dengan Dezalene Kingdom, yang sejak awal populasinya sudah cukup banyak, sulit untuk mendidik mereka ketika pendidikan mereka hanya setingkat anak TK.
“Jumlah penduduk yang masif ini akan membuat mereka sulit dididik, ini membuatku lelah,” gumam Tohrei yang sedang duduk di atap mansion kepunyaannya.
Tohrei dengan bosan menatap langit senja di Dezalene yang tampak indah dipandang. Di waktu seperti ini pun angin masih bertiup dengan rindang di Ashfriet.
Tohrei sedang memikirkan rencana untuk mengembangkan sumber daya manusia yang lebih tepatnya harus disebut sumber daya penduduk karena dalam kenyataannya tidak ada manusia di kerajaan ini terkecuali dirinya.
Para penduduk bisa mendapat pendidikan dengan begitu mudah jika dirinya membagikan scroll ajaib dengan jumlah yang sama dengan semua penduduk. Namun tentunya Tohrei sudah memperkirakan berapa banyak jumlah poin tukar yang harus dia buang untuk itu sehingga mengurungkan niatan itu.
Cara paling logis adalah membuat para penduduk belajar secara bertahap, bukan langsung mendidik semua penduduk secara bersamaan. Itupun akan memakan waktu yang cukup lama.
“Yah ... itu harusnya tidak apa, bukan? Toh kekuatan negeri ini sudah cukup kuat,” ucap Tohrei yang memikirkan nasib penduduknya.
Hal yang Tohrei takutkan adalah negeri ini akan kalah dalam hal kepintaran, namun setidaknya kerajaan yang baru dibentuk ini bisa bertahan dengan kekuatan mereka yang tidak bisa dianggap remeh oleh negara lain.
Disamping memikirkan Dezalene Kingdom ini, Tohrei sedang memikirkan rencananya untuk pergi ke Heistihart Kingdom.
“Kurasa, setelah membangun perpustakaan aku harus segera menuju Heistihart.” Tohrei mengangkat badannya, tidak lagi berada dalam posisi duduk. Dia menatap pemandangan Dezalene sekaligus Ashfriet ini dalam beberapa saat sebelum dia turun dengan santai dari atap, menuju ke pintu mansion dan memasuki kediamannya itu.
***
Tiga bulan, apakah itu terdengar seperti waktu yang singkat? Bagi Tohrei sekalipun itu bukanlah waktu yang singkat. Namun dalam waktu tiga bulan itu, Tohrei berhasil mengembangkan Dezalene menjadi lebih maju baik dari infrastruktur, pendidikan maupun dalam hal kualitas penduduk.
__ADS_1
Bahasa, Tohrei sudah mengembangkan bahasa dengan bantuan sistem dalam waktu kurang lebih sebulan karena seperti yang kita tahu bahwa jumlah kosakata dalam sebuah bahasa sangatlah banyak dan Tohrei harus membuat tulisan dari bahasa itu dan menghafalnya.
Setelah satu bulan itu, Tohrei meminta para calon guru untuk menghafal juga bentuk tulisan dari bahasa monster. Berkat buff yang masih aktif, mereka bisa menghafalnya dengan mudah.
Disisi lain, mereka juga perlu menghafal bahasa Asterlia yang merupakan bahasa umum di dunia ini. Sudah pasti bahasa tersebut penting untuk berkomunikasi dengan dunia luar sehingga Tohrei mengajarkan itu pada mereka.
Dalam satu bulan semua penduduk bisa menghafal kedua bahasa itu. Orang normal sekalipun tidak bisa menghafal sebuah bahasa dalam waktu sesingkat itu.
Pendidikan untuk para penduduk dilakukan secara bertahap, seperti yang Tohrei rencanakan. Tahap pertama dimulai dengan mengajarkan 1.000 penduduk yang tidak dipandang usia. Hingga saat ini, baru beberapa tahap yang telah selesai.
Dilain sisi, Tohrei mengembangkan resep untuk dijadikan santapan utama sekaligus sebuah budaya yang akan menjadi salah satu hal yang khas dari Dezalene Kingdom.
Dezalene terdiri dari penduduk non-humanoid dan humanoid, hal ini kemungkinan besar akan menyebabkan perpecahan sehingga sebelum itu terjadi Tohrei membuat pencegahan tentang buruknya perpecahan dan mendidik para penduduk untuk tidak melakukan itu.
Disamping mendidik para penduduk, Tohrei juga mengembangkan teknologi di Dezalene yang setidaknya akan membantu kehidupan kerajaan ini.
Hingga sejauh ini, perpustakaan belum kita bahas kembali. Dalam tiga bulan itu, Tohrei terus mengerjakan pembangunan perpustakaan.
Sisanya, Tohrei membangun perpustakaan dengan sangat luas hingga seolah merupakan perpustakaan yang bisa menampung segala pengetahuan di dunia ini.
Hal yang membuat Tohrei lama dalam pembuatan perpustakaan adalah kesulitan dalam menstok buku-buku ke perpustakaan.
Jumlah buku yang bisa disimpan di dalam perpustakaan itu adalah sebanyak 1 juta buku. Namun, Tohrei baru bisa menambahkan sekitar 10.000 buku ke perpustakaan itu sehingga raknya akan terlihat kosong.
Tohrei mendapatkan 10.000 buku itu sebagian besar dari sistem dan sebagian kecilnya berasal dari tulisan langsung dunia ini.
10.000 buku sudah merupakan jumlah buku yang sangat banyak sehingga tentunya perlu seorang pustakawan untuk menyortir semua buku itu. Akan tetapi, hingga sekarang Tohrei belum menemukan kandidat yang cocok untuk menjadi pustakawan yang bisa menjaga buku sebanyak itu.
“Ku rasa sudah seharusnya aku pergi ke Heistihart sekarang.” Tohrei bergumam sembari duduk di kursi taman yang ada di dekat akademi Dezalene.
__ADS_1
“Salam, bu kepala sekolah!” Dua orang murid terlihat menundukkan kepala pada seorang kepala sekolah dan Tohrei mengenal siapa orangnya.
Tohrei menoleh, menatap orang itu sembari tersenyum tipis. Tohrei sendirilah yang mempercayakan posisi kepala sekolah kepada orang tersebut.
Gobtina, penampilannya semakin tampak dewasa karena telah berevolusi menjadi Wisdom Hobgoblin.
Sebelum sekolah resmi dibuka, Tohrei sudah merencanakan Gobtina sebagai kepala sekolah setelah Tohrei menyadari potensinya yang lebih tinggi daripada menjadi sekedar seorang guru.
Goblin yang awalnya hanyalah seorang buruh tani itu kini telah beranjak menjadi seorang kepala sekolah yang dihormati orang-orang.
3 bulan dalam mengembangkan sebuah negeri hingga sehebat ini pasti akan dianggap sebagai hal yang luar biasa bagi semua orang. Namun, Tohrei menganggap ini hal yang biasa untuk membuat negeri baru ini tidak kalah tanding dengan negeri lain.
“Berapa lama lagi kau akan berdiam diri disini? Aku tidak ke sini hanya untuk melihatmu bersantai di taman, tahu.” Suara seorang gadis terdengar dari arah belakangnya, Tohrei tidak merasa heran ketika mendengar nada bicaranya yang judes.
“Bersabarlah sedikit, Ryui, apa kamu tahu seberapa merepotkannya kehidupanku selama 3 bulan? Setidaknya aku ingin bersantai sedikit sebelum pergi.” Tohrei membalas dengan nada yang kedengaran tidak serius sama sekali.
Tohrei berdiri dari kursi taman dan menoleh ke arah lawan bicaranya, yaitu Ryui. Ekspresi kesalnya sedikit terlihat dari raut alisnya dan bibirnya.
“Lagipula kau sendiri yang memintaku untuk mengantar, sebetulnya untuk apa juga kau memintaku mengantarmu ketika bahkan kau lebih cepat dariku,” cemooh Ryui kepada Tohrei.
“Terkadang melakukan sesuatu yang tidak biasa itu menyenangkan. Aku sudah memberimu coklat bukan? Hentikan keluhan itu,” ujar Tohrei yang seolah menceramahinya.
“Kuh ... yah ... masa bod0h dengan itu, lebih baik kau cepat karena aku bukan pembantumu yang bisa disuruh menunggu terus-terusan.” Ryui memalingkan wajah namun tetap berkata dengan kesal.
“Ya sudah, ayo.” Tohrei berjalan meninggalkan Ryui, seolah tahu Ryui akan mengikutinya dengan sendirinya.
“He-hei tunggu!”
__ADS_1
Di masa depan, Author mungkin akan membuat ilustrasi original untuk karakter lain. Namun, disisi lain Author akan mengembangkan ilustrasi untuk sang protagonis agar lebih sesuai dengan penggambaran Author.