
Tohrei serta yang lain berkeliling di kota, mereka mengunjungi banyak tempat mulai dari pasar hingga arena yang akan mereka gunakan besok untuk turnamen.
Arena yang akan digunakan untuk turnamen itu sangat besar. Diperkirakan arena itu mampu menampung sekitar seribu orang. Arena saat ini masih sepi karena belum ada pertandingan yang diadakan. Yang ada di arena hanyalah para staff yang sedang menyiapkan berbagai hal untuk acara besok. Para pengunjung tetap diperbolehkan masuk walau sedang ada persiapan untuk besok.
Sebelumnya ketika berkeliling Magreis sempat ribut karena bertarung dengan orang mabuk yang mengganggu orang. Namun orang itu bisa dengan mudah Magreis hajar. Dengan begitu hasrat bertarungnya sedikit terpenuhi hari ini, walau lawannya hanya orang mabuk.
Siang berganti malam, itu sudah waktunya untuk mereka kembali ke penginapan. Mereka kembali bersama-sama karena keadaan malam hari ini.
Akan tetapi Tohrei tidak ikut bersama dengan mereka. “Maaf, aku ada urusan sebentar, kalian duluan saja.”
“Huh? Memangnya urusan apa?” Tanya Harciest.
“Tidak terlalu penting, jadi aku akan cepat, kalian tidak perlu khawatir.”
“Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku tahu bahwa Aniki sangat kuat, jadi aku tidak perlu merasa khawatir.” Magreis dengan sungguh mengatakannya.
“Pastikan kau ke penginapan sebelum makan malam oke!” Eriana ingin Tohrei berjanji padanya.
“Oke-oke aku berjanji.”
Setelah itu mereka berpisah, Tohrei berjalan ke sesuatu tempat. Dia berjalan ke tempat yang dari gelap menjadi semakin gelap. Dia pergi ke sebuah gang yang gelap.
“Apa kau akan terus bersembunyi?” Tohrei menatap ke belakang, dia menyadari bahwa ada seseorang yang membuntutinya.
“Sudah kuduga! Kau bisa melihatku ya?!” Suara seorang bocah terdengar. Rupanya itu berasal dari seorang bocah Beastman Lioned dengan rambut pirang. Bocah itu keluar dari persembunyiannya.
“Ada urusan apa seorang bocah menghampiriku di malam hari? Kau tidak disini karena tersasar bukan?” Tohrei mengucapkan itu tanpa sedikitpun menoleh, dia sudah tahu yang ada di belakangnya.
“Kau kelihatan kuat! Maka dari itu aku berniat bertarung melawanmu!” Bocah Lioned itu nampak tidak berbohong. Hanya wajah polos yang bersemangat menghiasi wajahnya. Dari wajah serta tinggi badannya, Tohrei memperkirakan kalau bocah ini berumur 12 tahun.
“Hah?” Tohrei secara perlahan menoleh, merasa bingung dengan ucapan anak itu.
‘Ku kira apa, ternyata hanya hal seperti ini? Apa yang sebenarnya dipikirkan anak ini?’ Batin Tohrei.
__ADS_1
“Sebaiknya kau pulang saja, memangnya orangtuamu tidak mencarimu?” Tohrei mengibaskan tangannya, mencoba mengusir anak itu.
“Aku tidak akan pergi sebelum bisa bertarung denganmu!” Anak itu nampaknya begitu bersikeras.
‘Anak ini..., seperti Magreis..., tipe orang sepertinya tidak akan bisa diam sebelum kupukul nampaknya...’ Tohrei menghela napasnya dan membalikkan badannya.
“Baiklah, aku akan bertarung denganmu, tetapi berjanjilah bahwa jika aku menang kau tidak boleh menggangguku lagi!” Tohrei hanya pasrah.
“Aku tau kau akan menerimanya!”
“Kau bisa mulai sekarang loh.” Ucap Tohrei dengan enteng.
“Tentu!” Bocah itu langsung saja menerjang ke arah Tohrei. Cakar tumbuh di setiap jari tangannya dan memanjang serta menajam. Cakar itu tentu ia gunakan untuk merobek Tohrei.
Tohrei segera menghindari serangan itu, ruang lingkup yang kecil tidak membuatnya kesulitan menghindar. Namun usai itu Tohrei menaruh kakinya di kepala bocah tersebut lalu menendangnya ke tembok.
‘Kecepatannya lumayan untuk seorang bocah, memangnya seperti apa statusnya?’ Tohrei merasa penasaran dengan status anak itu sehingga dirinya menggunakan appraisal.
»»————««
Class : None
Tittle : None
Level : 125
Race : Beastman(Lioned)
STR : 139
AGI : 160
VIT : 105
__ADS_1
INT : 143
<\=\=\=>
»»————««
Untuk seukuran anak kecil, bocah lioned itu ternyata cukup kuat.
“Itu tadi lumayan!” Bocah itu bangkit setelah ditendang hingga menabrak tembok.
‘Lumayan apanya, bocah ini nampaknya sok kuat.’ Tohrei melihat bahwa terdapat darah yang mengucur di kepala bocah lioned itu.
“Bisakah kita hentikan ini sebelum kau terluka lebih parah?” Tohrei menghela napas dengan wajah datar.
“Aku tidak akan menyerah sebelum diriku tak sadarkan diri.” Bocah itu nampak percaya diri.
Bocah lioned itu seketika langsung melesat mengelilingi Tohrei dengan kecepatan tinggi, berusaha membuat dia bingung. Namun tentu saja Tohrei mampu menangani itu.
“Rasakan ini!” Setelah beberapa detik berputar, bocah lioned itu menghajar bagian belakang Tohrei. Pukulan dari bocah lioned tersebut nampaknya bukan pukulan biasa, dilihat dari sebuaj energi yang melingkupi kepalan tangannya.
Akan tetapi Tohrei dengan mudah menangkap pukulan yang dilontarkan bocah itu. Sebuah ledakan keluar begitu Tohrei menangkap pukulan tersebut, namun dia tidak terpengaruh oleh ledakan. Karena tak segera menyadari gerakan Tohrei, bocah lioned itu tak bisa kabur dan terjebak dengan kepalan tangannya yang tertangkap oleh Tohrei.
Setelah menangkapnya, Tohrei kemudian memutar tubuhnya hingga membuat bocah itu pusing. Namun tak sampai situ saja, usai melakukan hal tersebut, Tohrei kemudian melemparnya tinggi ke langit.
“Uwaaaaaa??!!”
Bocah lioned itu terlempar lalu terjatuh, akan tetapi sebelum sempat menghantam tanah Tohrei menangkapnya dengan cara mencengkram pakaian bocah lioned itu.
“A...aku menyerah....” Pada akhirnya bocah itu menyerah karena kalah telak.
“Kalau sudah mengerti maka pulanglah ke rumahmu sekarang bocah.” Tohrei melepaskan genggamannya, menurunkan bocah itu ke tanah.
“Ba-baiklah, tetapi aku tidak akan menyerah! Aku akan menjadi kuat dan suatu saat bertarung denganmu lagi paman Wolfried! Auramu yang berbeda dengan woflried biasa membuatku tertarik!” Setelah mengucapkan itu sang bocah lioned pergi begitu saja.
__ADS_1
“Ha? Paman?”