The Endless System

The Endless System
Ch 147 — Kesatria Busuk


__ADS_3

Tohrei melangkah keluar dari gang, berniat untuk langsung pergi ke kastil. Akan tetapi, keadaan kota yang buruk membuatnya teralihkan.


Apa yang Tohrei maksud buruk?


Banyaknya gelandangan yang berbaring di pinggir jalan, para kesatria kerajaan yang berleha-leha, dan ekspresi para penduduknya yang sangat tidak kelihatan baik-baik saja.


Tohrei mengerutkan dahinya begitu melihat pemandangan itu, merasa kesal. Akan tetapi, dia kemudian menghela napasnya, berpikir lebih tenang.


Melihat ekspresi di wajah Tohrei, Relon menghampirinya dan memberi penjelasan tentang betapa buruknya keadaan ibukota.


“Kota ini menjadi begitu buruk ketika raja yang sekarang mengambil tahta dari raja sebelumnya. Raja melakukan hal-hal seenaknya, bahkan hal itu didukung oleh para bangsawan busuk. Akibatnya para rakyat jelata harus mengalami kerugian,” jelas Relon.


“Para serangga seperti itu tampaknya ada di manapun ya?” gumam Tohrei.


Dia teringat dengan sebuah kota independen yang dulu pernah Tohrei dan Ikumi kunjungi. Kota itu keadaannya lebih buruk dari ibukota Heistihart. Kota tersebut telah Tohrei serahkan pada salah satu bawahannya. Dengan demikian, kota itu menjadi lebih baik.


Tohrei merasa bahwa keadaan ibukota Heistihart ini harus segera diperbaiki sebelum menjadi seburuk kota independen itu.


“Relon, tunjukkan padaku jalan menuju istana.”


“Bai—”


“Dasar j4lang! Jangan pikir karena kau punya anak maka aku akan kasihan! Cepat berikan bayaran bulan ini!”


Belum selesai Relon menjawab, sebuah bentakan terdengar tak jauh dari sana. Bentakan itu berasal dari seorang pria yang merupakan seorang ksatria kerajaan.


Tepat di depan ksatria itu, terlihat dua orang yang tengah dibentak, satu seorang wanita paruh baya yang tak berdaya dan di samping wanita paruh baya itu adalah seorang anak kecil yang merupakan anak wanita itu.


Wanita paruh baya itu terbaring sementara sang anak mencoba menopang ibunya untuk berdiri. Raut wajah kesal terlihat di ksatria itu.


Warga lain hanya bisa menonton tindakan buruk si ksatria. Jika mereka membela kedua orang itu, maka akan terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka. Jadi memilih diam adalah hal paling logis bagi mereka.

__ADS_1


“Bisakah anda memberi kami waktu lebih? Kami belum punya uang untuk bulan ini, kami bahkan hanya punya beberapa koin perak!” mohon wanita paruh baya itu kepada ksatria yang membentaknya.


“Banyak alasan! Memangnya kau tahu betapa sulitnya aku bertugas sebagai ksatria?! Jika kau ingin aman di kota ini maka bayar! Kau pikir hidup dengan aman itu gratis?!” bentak lagi sang ksatria.


“Jika kau memang hanya punya sebanyak itu, maka biar kuambil sekarang!” Ksatria itu hendak mengambil kantong kain berisi uang milik si wanita paruh baya.


“Ja-jangan sakiti mama! Kau bukan ksatria! Kau hanya penjahat!” Dengan inisiatifnya, anak dari wanita itu melindungi ibunya, menghalangi ksatria itu untuk merampas uangnya.


“Anak sialan, jangan sok berani! Minggir!” Ksatria itu berniat menendang anak itu ke samping, berniat menyingkirkannya dari jalannya.


Akan tetapi, Tohrei secara tiba-tiba muncul dihadapannya, menghalangi kakinya untuk menendang. Malahan, dirinya ditendang balik, oleh Tohrei, membuat sang ksatria terjatuh.


“Brengs3k siapa—?!”


Belum sempat berucap, Tohrei menendang perut si ksatria, membuatnya terhempas mundur menabrak tiang lampu. Sejumlah saliva keluar dari mulutnya, membuatnya tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat.


Seluruh orang yang ada di sana terkejut bukan main, bahkan Relon pun ikut terkejut karena pasalnya Tohrei menghilang begitu saja dan tiba di depan ksatria itu.


“Hei! Apa yang kau lakukan! Membuat keributan di sini itu dilarang!” Seketika sekumpulan ksatria berkumpul mengelilinginya sembari memegang pedang yang ada di pinggang mereka.


“Tetapi, jika kau memberi kami sejumlah uang, kami akan memaafkan ini, jadi apa pilihanmu?” Salah satu ksatria yang tampaknya memiliki pangkat cukup tinggi tersenyum jahat.


Wajah menyebalkan terlihat jelas di wajah ksatria itu. Sepertinya para ksatria di kota ini sudah terbiasa untuk suap-menyuap. Jika ksatria tidak kompeten seperti ini ada di Dezalene, maka Tohrei sudah melemparnya jauh-jauh hingga ke laut.


“Bajing4n! Apa maksudmu! Dia tidak bisa dimaafkan! Disuap pun aku tak sudi memaafkannya!” Kesatria yang terhempas itu akhirnya bisa bangun, dia menentang atasannya itu yang berniat melakukan suap.


“Diam lah, salahmu sendiri karena bodoh.” Para kesatria itu berpikir bahwa rekannya bisa terhempas karena lengah. Mereka menganggap hasilnya akan berbeda jika mereka mengeroyok pria sombong di depan mereka itu.


“Ini aneh, kau bilang aku membuat keributan? Kurasa kau salah, justru aku menyelesaikan keributan.” Tohrei dengan santai membalikkan perkataan sang kesatria.


“Menyerang seorang petugas merupakan bentuk pelanggaran, sebaiknya kau menurut saja apa kata kami.” Kesatria itu semakin mengancamnya, namun Tohrei masih dengan santai tertawa.

__ADS_1


“Hahahaha! Kalian sungguh lucu, jika kau ingin aku menurut, maka tundukkan aku kalau bisa.” Tohrei menantang mereka, membuat rasa kesal jadi memuncak diantara kesatria.


“Dasar kepar4t sombong!” Para kesatria melepaskan pedangnya dari sarungnya, menghunuskan pedang ke arah Tohrei.


Ketika Tohrei akan bertarung melawan seluruh kesatria, wanita paruh baya serta anaknya sudah menyingkir untuk menghindari konflik itu. Namun, mereka tetap menyaksikan aksi Tohrei yang melawan para kesatria.


“Kurasa kesatria-kesatria itu akan pingsan seketika,” gumam Relon yang menyaksikan dari kejauhan.


“Beri dia pelajaran!” titah sang kesatria berpangkat tinggi kepada kesatria lain.


Para kesatria itu secara bersamaan mengayunkan pedangnya pada Tohrei. Lawan dari para kesatria itu tidak kelihatan panik sama sekali, malahan sangat tenang seolah dirinya tidak khawatir dengan serangan yang akan diayunkan kepadanya.


‘’


Seketika sebuah tekanan yang sangat hebat membuat para kesatria itu tunduk. Tubuh mereka tidak bisa secara bebas digerakkan. Mereka melakukan itu tanpa alasan yang tidak mereka ketahui.


“A-apa yang terjadi?” Salah satu kesatria menunjukkan keterkejutannya dan mencoba bangun namun tak mampu.


“Apakah itu kata-kata terakhirmu?” Tohrei berjongkok, mengarahkan tangannya ke dahi kesatria itu seolah menodongkan pistol.


‘’


Dalam sekejap, nyawa dari kesatria itu melayang, sebuah lubang terbentuk di kepalanya, menembus tengkorak dan otaknya.


Menyaksikan rekannya mati begitu saja, seketika kengerian muncul di raut wajah mereka. Kepanikan muncul di kepala mereka, membuat mereka berpikir keras untuk keluar dari situasi ini.


Namun, yang akan menyambut mereka bukanlah kesempatan untuk kabur, melainkan kesempatan untuk mendapat lubang di kepala mereka.


Tohrei satu persatu melubangi kepala mereka dengan wind bullet. Membuat kengerian yang terlihat di wajah kesatria tak bernyawa itu tersalurkan kepada para warga yang menyaksikan pembunuhan kejam Tohrei.


Kemampuan Tohrei membuat mereka semakin bertanya-tanya perihal identitas pria yang sangat kuat itu.

__ADS_1


__ADS_2