
Pertarungan yang lebih sengit tak terhindarkan. Pertandingan semakin panas ketika Harciest dan Urashia saling bentrok menggunakan skill mereka yang sangat kuat.
“Haaa!!” Pedang yang digunakan Harciest membesar hingga mengalahkan ukuran yang dimiliki kapak Urashia. Dia mengayunkannya tepat di atas Urashia.
Akan tetapi, Urashia mencoba menahannya dengan kapaknya yang besar sehingga senjata mereka saling beradu hingga menimbulkan percikan bunga api yang terpancar jelas.
Selain beradu kekuatan, mereka juga mengadu kecepatan mereka. Gerakan mereka seolah tak terlihat di mata orang biasa karena begitu cepat.
Asap terus mengepul tanpa henti di tengah pertarungan mereka. Harciest mundur beberapa langkah, energinya terkuras dengan cepat. Napasnya menjadi sangat terburu-buru.
Sementara itu, keadaan Urashia berbanding terbalik. Walau sama-sama bernapas tak beraturan, keadaan Urashia nampak lebih stabil. Energinya dengan cepat terisi kembali hanya dalam beberapa menit.
‘Ukh..., setidaknya aku harus berdiri tegak!’ Harciest segera berdiri begitu melihat Urashia bangkit dengan cepat.
“Nampaknya sudah cukup disini.” Urashia menyimpan kapak besarnya lalu menggunakan sihirnya. Sebuah lingkaran sihir muncul tepat di atas Harciest.
Harciest yang masih berusaha berdiri tak mampu menghindari serangan itu. Dari lingaran sihir tersebut, keluar batu yang sangat besar.
Harciest tak diam saja, dengan keadaannya yang sudah kelelahan, dia mengeluarkan sihir terakhirnya.
“Jika kau berniat melawanku dengan batu, maka akan ku lawan dengan hal yang lebih kuat dari batu!” Lingkaran sihir perak tercipta, dari lingkaran sihir itu muncul sebuah logam platinum yang memiliki ukuran yang setara dengan batu buatan Urashia.
Kedua material keras itu saling beradu di langit-langit. Dengan kekuatan yang tersisa, Harciest mendorong logam itu untuk melawan batu tersebut menggunakan sihirnya.
“Haaaaaaaaaaa......!” Bersama dengan teriakannya, mananya telah habis.
Pada akhirnya, kedua material itu terpecah-pecah karena beradu terlalu kuat. Pecahan-pecahan itu jatuh ke seluruh arena.
Debu berterbangan menutupi arena, para penonton serta wasit tak mengetahui pemenangnya hingga saat ini.
Lalu tak lama debu-debu memudar, sosok pemenang telah ditentukan. Urashia masih baik-baik saja walau dengan beberapa luka di tubuhnya. Sedangkan Harciest, dia terbaring tak sadarkan diri.
Sorakan penonton menggema ke seluruh arena. Pemenangnya adalah Urashia. Banyak sorakan tertuju padanya.
__ADS_1
Namun tak sedikit juga yang memuji Harciest karena dirinya yang tidak pantang menyerah. Mereka sempat tak percaya Harciest bisa bertaham lebih lama dari yang mereka duga.
“Pertandingan pertama dimenangkan oleh Urashia!” Ujar sang wasit. Dia segera memanggil tim medis untuk membawa Harciest yang sudah kehabisan mana. Sementara itu, Urashia menolak untuk dirawat karena dapat menyembuhkan dirinya dengan cepat.
Tohrei dan yang lain menemui Urashia di lorong keluar masuk arena. Mereka mengucapkan selamat kepada Urashia.
“Itu tadi luar biasa kak Urashia!” Kagum Ikumi yang matanya berbinar-binar.
“Haha! Itu biasa saja!” Ucap Urashia sambil membusungkan dadanya dengan bangga.
“Yah itu lumayan tapi itu masih belum cukup untuk membuat tuan kagum.” Ifrit memuji sekaligus meremehkan Urashia.
“Huh?! Apa urusanmu? Tak ada yang menanyai pendapatmu!” Urashia dengan kesal mendekatkan wajahnya ke arah Ifrit.
“Oh sudah mulai sombong rupanya?” Ifrit tersenyum sambil menatap tajam ke arah Urashia.
Tohrei hanya bisa menghela napas sambil tersenyum melihat tingkah mereka. Ditengah perselisihan mereka, suara dari wasit terdengar ke penjuru arena.
“Oh sudah giliranku, silahkan berselisih lebih lama.” Ryui yang mendengar nama pesertanya segera menuju ke arena menggunakan jalan lain.
“Hmph, akan kita lanjutkan ini nanti.” Ifrit dengan ekspresi datar menuju ke arena meninggalkan perselisihannya dengan Urashia. Dia segera pergi menuju ke arena. Kali ini adalah pertandingannya melawan Yuuryui.
“Ah, aku akan mengunjungi Harciest terlebih dahulu. Aku penasaran bagaimana keadaannya, kalian bisa pergi ke kursi penonton lebih dulu dariku.” Tohrei mengatakan itu kepada yang lain, dia pergi ke ruang perawatan karena ingin meningkatkan ke akrab-an. Dia hanya menengok sebentar sebelum kembali untuk melihat pertandingan antara Ifrit dan Ryui.
***
Kedua peserta, Yuuryui dan Ifrit sudah bersiap di arena. Keduanya sama-sama memakai jubah dan bertopeng. Ifrit memiliki topeng bermotif api sedangkan Ryui memakai topeng dengan tanduk yang mirip naga, yang menguatkan cirinya sebagai naga.
“Aku ingin bertanya sebelum pertandingan ini dimulai.” Ucap Ifrit secara tiba-tiba.
“Pertanyaan?” Ryui hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Apa pendapatmu tentang tuanku?”
__ADS_1
“Apa? Maksudmu Tohrei? Y..ya aku hanya menganggapnya sebagai teman, tak lebih.” Ryui menjawab sambil memalingkan kepala.
“Aku merasa hatimu tak berkata seperti itu, aku tak akan memaksamu jujur. Yah, pada akhirnya aku sudah tahu bahwa kau sebenarnya adalah rivalku.”
“Huh? Apa maksudnya?” Ryui tak mengerti arti dari kalimat yang diucapkan Ifrit.
“Tidak ada, kau tak perlu memikirkannya, tadi hanya omong kosongku.” Ifrit menggelengkan kepalanya.
“Apa kalian berdua sudah siap?” Tanya wasit. Mereka berdua mengangguk, segera setelah itu wasit memulai pertandingan. “Pertandingan dimulai!”
Begitu mendengar ucapan sang wasit, keduanya langsung saja mendekat dan melakukan serangan. Wasit segera mundur karena pertarungan keduanya yang terlalu menekan.
Ifrit bertarung menggunakan pedangnya sedangkan Ryui menggunakan sebuah gauntlet dengan cara tajam yang cukup panjang.
Mereka berdua saling menyerang dan menangkis. Ifrit sudah serius dari awal pertandingan namun Ryui memiliki keadaan yang berbeda. Ryui masih santai bertarung dengan hanya menggunakan satu lengannya.
Ifrit yang menyadari bahwa Ryui belum serius, segera melancarkan serangan yang lebih kuat. Ifrit mengeluarkan skill api miliknya. Berbagai puluhan serangan api berkobar dan membuat suhu sekitar arena menjadi sangat panas, namun itu tak mempengaruhi Ryui sama sekali.
Para penonton yang hanya merupakan orang biasa juga merasakan panas tersebut. Namun karena pelindung yang dibuat untuk melindungi area penonton, keselamatan para penonton terjamin.
“Lumayan! Tapi apa mungkinmu cuman segini?!” Ryui kini tak hanya menggunakan gauntletnya. Ryui kini juga memakai kekuatan bulannya.
Empat buah bulan sabit tercipta di samping Ryui. Bulan sabit itu melesat ke arah Ifrit dengan akurat. Selincah apapun Ifrit, bulan sabit itu tetap akan mengejarnya. Cara terhindar dari serangan itu hanya bisa dengan cara ditangkis.
Maka menyadari hal itu, Ifrit menggunakan api biru yang lebih kuat dari api biasa. Namun apinya hanya bisa menghapus sebagian dari itu. Dia harus menggunakan api yang lebih besar lagi.
Tak hanya sampai disana, Ryui memberi serangan yang lebih kuat.
‘’ Ryui menghentakan kakinya ke tanah. Seketika tanah membentuk retakan. Retakan itu terus memanjang hingga menuju ke Ifrit.
Begitu retakan tersebut mencapai tempat Ifrit, sebuah mulut naga muncul dan mencoba melahapnya. Akan tetapi, Ifrit segera menghindarinya.
‘Kekuatan itu adalah sihir naga!’ Ifrit segera menyadari apa yang Ryui gunakan untuk menyerangnya barusan.
__ADS_1