The Endless System

The Endless System
Ch 115 — Kelas Sementara


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kejadian di magic spirit altar. Tohrei dan yang lain sudah lepas dari hari libur mereka. Namun karena alasan khusus, Tohrei dan yang lain diharuskan belajar sementara bersama dengan kelas A, kelas tertinggi sebelum kelas khusus.


Sebelumnya beberapa murid kelas khusus belum mendapat seragam sekolah mereka, namun kini mereka sudah mendapatkannya sehingga mereka pergi ke akademi yang berada tak jauh dari asrama mengenakan seragam mereka.


Karena kini seluruh murid kelas khusus berada dalam satu atap, maka mereka berangkat bersama-sama menuju akademi.


“Hei, bukankah itu murid-murid dari kelas khusus? Mereka terlihat sangat keren!”


“Itu tentu saja! Huft tapi sayangnya kita tidak mungkin mendekati mereka.”


“Apa yang berambut putih itu Zen? Rumornya dia sangat tampan, tapi bahkan dia lebih tampan lagi ketika dilihat dari dekat!”


Para murid kelas khusus terus diperhatikan oleh murid-murid lain. Kebetulan jalan ini merupakan jalur utama untuk seluruh murid Akademi Aelion untuk berangkat. Tentu saja mereka akan menjadi perhatian murid lain, pasalnya hanya pengguna sihir khusus saja yang mendapat kesempatan untuk masuk kelas itu.


“Ini terlalu bising ..., bisakah mereka setidaknya tidak berbisik-bisik?” Sei dengan nada kecil mengeluh dengan kondisi ini.


“Heem, ngantuk sekali...” Ucap Isabella dengan mulut menguap, karena pekerjaannya lembur tadi malam dia terpaksa harus begadang menunggu nyonya pemilik toko kembali.


Sementara itu Eriana tetap tenang dikeramaian itu walau diperhatikan banyak orang. Sebagai seorang putri yang selalu menjadi pusat perhatian tentu dia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.


Dilain sisi Zen dengan wajah datar tak memedulikan sekitarnya. Disampingnya ada Harciest yang hanya sibuk melihat pedang yang baru ia buat.


“Yami Aniki! Aku baru saja menciptakan mantra baru! Apa kau mau melihatnya?” Magreis dengan semangat mengatakannya kepada Tohrei.


“Hm? Mungkin lain kali saja Magreis.” Tohrei menolak tawarannya dengan senyum canggung.


Selama perjalanan menuju kelas A mereka selalu diperhatikan. Setelah sampai di depan pintu kelas A, mereka memasuki kelas itu.


Akan tetapi ketika mereka memasuki kelas itu yang mereka dapatkan adalah beberapa tatapan tajam dan sinis dari para murid.

__ADS_1


“Kita tak salah kelaskan?” Tanya Tohrei ketika melihat tatapan para murid yang berada di kelas.


“Tentu saja tidaklah!” Eriana dengan santai berjalan ke dalam kelas itu dan pergi ke tempat duduk yang kosong.


“Apa mereka dari kelas khusus?”


“Tcih kenapa mereka harus sekelas dengan kami? Apa mereka tak tahu kalau mereka itu mengganggu?”


“Sigh bikin iri saja, andai aku bisa masuk kelas khusus pasti aku bisa mendekati tuan putri.”


Walau suara-suara itu terdengar samar, Tohrei dapat mendengar berbagai cacian itu. Ia rasa orang-orang yang membenci kelas khusus kebanyakan dari kelas A, kelas dengan murid yang kebanyakan adalah bangsawan dan memiliki harga diri tinggi.


Para murid kelas khusus hanya duduk di tempatnya, mengabaikan tatapan tak mengenakan dari murid lain.


Selang beberapa saat guru datang ke kelas, memulai pelajaran hari ini. Sungguh sedikit membosankan karena isinya hanyalah teori-teori sihir bahkan Magreis sampai hampir tertidur.


Ketika jam istirahat tiba, para murid kelas khusus dikerumuni oleh murid dari kelas lain. Melihat murid kelas khusus mau berbicara santai dengan murid lain membuat semakin banyak murid yang mengerumuni mereka.


Itu sungguh melelahkan, ketika mereka masih di kelas khusus mereka memiliki pembelajaran yang lebih sedikit jadi bahkan jam istirahat pun mereka tak mendapatkannya.


Hari itu terus berjalan, hingga di hari ketiga ada kegiatan praktek berpedang di kelas A. Di akademi ini yang dipelajari bukan cuman sihir, namun teknik berpedang. Mereka sangat senang, dengan begini mereka bisa beradu kekuatan dengan murid khusus.


Ada yang beradu kekuatan dengan maksud baik, namun ada juga yang beradu kekuatan untuk maksud jahat.


Mereka saat ini berada di arena akademi, tempat yang sama ketika Magreis dan Tohrei berduel.


“A-apa saya boleh beradu pedang dengan anda tuan putri?” Seorang siswa dengan malu-malu mencoba mengajak Eriana berduel.


“Boleh.” Eriana menerima ajakan itu dengan senang hati.

__ADS_1


Siswi itu merasa terhormat bisa beradu pedang dengan putri. Namun tentu saja siswi itu kalah cukup cepat karena teknik pedang Eriana yang hebat.


Siswi itu tidak merasa kesal, malahan dia menyadari bagian mana yang salah dari gerakan pedangnya.


Sementara itu seorang murid laki-laki mengajak Tohrei untuk berduel. Dia nampaknya merupakan seorang bangsawan. Ia memberi ajakan dengan senyum sinis pada Tohrei.


“Maaf jika aku menganggu, apa aku bisa berduel denganmu, Yami?” Ucapnya dengan menawarkan jabat tangan.


‘Kuyakin dia tak sekuat di rumor, iblis yang dia kalahkan pasti cuman seorang anggota sekte aliran sesat, mana mungkin itu iblis, mereka hanya melebih-lebihkannya.’ Batin murid bangsawan itu.


“Baiklah aku menerima ajakanmu.” Tohrei menerima ajakan itu, namun ia tahu apa maksud dari duel ini. Yaitu untuk mempermalukannya.


“Jadi bisa langsung kita mulai?”


“Ya.” Mereka sudah menyiapkan kuda-kuda yang mantap.


‘Aku seharusnya tak perlu terlalu serius kan? Kudengar kalau si Magreis itu sebenarnya memang lemah, jadi wajar dia bisa kalah. Yang penting aku hanya perlu menunjukkan sedikit kekuatank—’


Murid bangsawan itu tersentak, dia tak menyadari bahwa pedang Tohrei sudah tepat berada beberapa senti dari lehernya.


“Apa dengan ini aku menang?” Tanya Tohrei dengan senyum tipis.


Dengan kaget ia terjatuh kebelakang dan menatap dengan tak percaya. “I..itu tadi tidak sah! Aku belum siap!”


“Tidak siap apanya? Kan tadi kau yang minta langsung mulai.” Kini Tohreil ah yang menatap sinis ke arahnya, memandangnya dengan rendah.


“Tch! Tadi aku hanya sedikit ceroboh!”


“Apa yang sudah berlalu tidak bisa diulang bo~doh. Kecuali kau punya sihir waktu untuk membalikkan waktu haha!” Tohrei perlahan membalikkan badan dan meninggalkan murid itu.

__ADS_1


Dilain sisi, murid kelas khusus lain juga ditantang, namun semuanya kalah di tangan mereka. Guru yang berada di ujung arena hanya bisa terus menilai kemampuan mereka dari jauh dengan takjub pada kekuatan murid kelas khusus.


__ADS_2