The Endless System

The Endless System
Ch 118 — Ini Bukan Tempatku


__ADS_3

Tohrei memasuki kristal, memulai simulasi. Perasaan pertama yang ia alami sangat aneh, kepalanya terasa pusing dan ingatannya agak buram.


“Cepat panggil dokter! Keadaannya sangat kritis!”


“Terlalu banyak korban! Kita perlu lebih banyak anggota!”


‘Tempat ini..., apa ini rumah sakit?’ Dengan samar Tohrei melihat ke sekitarnya. Suara sirine ambulan terdengar dan kepalanya terasa pusing dan wajahnya pucat.


Tak lama setelahnya ia terlelap sepenuhnya. Akan tetapi tak berselang lama dia kembali terbangun, bukan di tempat asing atau semacamnya, namun hanya terbaring di ruang rawat rumah sakit.


“Mengapa aku disini?” Ia bertanya-tanya.


Akan tetapi Tohrei baru teringat bahwa, dia baru saja mengalami kecelakaan bus bersama penumpang lain.


Tubuhnya tak bisa digerakkan dan hanya kepalanya hanya bisaa bergerak menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia lumpuh sementara.


Tidak ada yang menjenguknya karena dia tak punya orangtua. Satu orang teman pun Tohrei tak punya.


Tohrei harus mengalami pengobatan selama tiga bulan di rumah sakit hingga dia bisa cukup kuat untuk menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


Dia tak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya sadar diri setelah kecelakaan. ‘Apa itu hanya mimpi?’ Pikirnya.


Tohrei sudah hampir bisa berdiri dengan sempurna, sehingga pengobatannya akan segara berakhir. Suatu ketika dirinya hampir terjatuh ketika berlatih berdiri di luar.


Namun seorang gadis berambut putih menolongnya agar tak terjatuh, Tohrei merasa familiar, iku...


Pengobatannya hampir selesai, namun perawat yang merawatnya harus diganti karena kelalaian tugasnya.


Dia lalai karena ketika bersama Tohrei diluar, kedua kaki Tohrei terluka karena kecelakaan mobil dan terpaksa diamputasi. Sekarang Tohrei harus pasrah untuk menyembuhkan kakinya.


Perawat baru yang merawatnya sekarang berambut merah dan nampak pendiam. Namun dia merawat Tohrei dengan baik.


Eri hanya memiliki ibunya, namun ibunya hanya bisa menjenguknya sesekali. Tohrei berinisiatif untuk menghiburnya sebagai sesama pasien. Siapa sangka mereka bisa akrab.


Akan tetapi hanya menjelang beberapa minggu Eri harus tiada karena kankernya yang semakin parah. Itu sangat mengguncang Tohrei.


Beberapa hari kemudian, untuk menyegarkan pikirannya, Tohrei memutuskan untuk pergi keluar lagi bersama perawatnya, dengan kursi rodanya.


Namun Tohrei secara langsung melihat seorang anak yang akan tertabrak truk. Ia langsung menggerakkan kursi rodanya dan berusaha menolong anak itu.

__ADS_1


Akan tetapi walau begitu mereka tetap akan tertabrak. Perawatnya mencoba menolong namun tak sempat. Namun, seorang gadis berambut coklat dengan cepat menolong mereka berdua.


Gadis itu nampak atletis dan kuat hingga mampu secepat itu. Anak itu berterima kasih karena telah ditolong dan pergi. Sedangkan itu Tohrei berterima kasih pada gadis itu.


Namun tak lama setelah itu kepalanya terasa sakit dan pingsan. Perawatnya segera membawanya kembali ke rumah sakit. Setelah dianalisa ternyata Tohrei mengalami penyakit yang sangat langka dan itu bisa membawa kematian dalam waktu singkat.


Atas kelalaian perawatnya yang sekarang, ia dipecat, seperti perawat yang sebelumnya. Tohrei sekarang tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Hanya bisa berdiam diri di dalam ruang rawatnya.


“Sekarang apa yang bisa kulakukan?” Tohrei benar-benar putus asa. Dalan waktu yang terasa singkat, banyak hal menyakitkan yang harus ia rasakan.


“Sekarang bukan waktunya berputus asa, masih ada yang membutuhkanmu. Apa kau mau terus berdiam diri disini?” Seseorang yang muncul tiba-tiba di jendela mengatakan itu.


“Hah? Siapa itu?” Melihat ke arah suara, dia terkejut yang ia lihat adalah dirinya yang berbeda. Dia adalah Tohrei dari dunia lain.


“Kau..?” Tohrei mengedipkan matanya, seketika orang itu menghilang. Secara bersamaan juga ingatan asing memasuki kepalanya.


“Ingatan ini...” Tohrei baru menyadari ini hanyalah simulasi. Seketika di luar jendela muncul portal.


Mustahil dirinya yang tanpa kaki mampu kesana. Akan tetapi dengan menggunakan tangannya, Tohrei berjalan kesana tanpa kursi roda dengan usaha yang sangat keras.

__ADS_1


“Seperti yang dirinya katakan! Ini bukan waktunya berputus asa!” Tohrei melewati portal, bangun dari simulasi.


__ADS_2