The Endless System

The Endless System
Ch 111 — Ikut Campur


__ADS_3

“Hestize, jagalah murid-muridku, aku akan mengurus iblis itu sendiri.” Venoire berjalan keluar dari barier.


“Apa maksudmu? Kau tahu itu tindakan yang nekad bukan?” Hestize merasa heran dengan tindakan Venoire.


“Tenang saja, itu karena aku akan meminjam kekuatan gravitasi bumi. Lebih dari yang kau tahu, aku lebih mengkhawatirkan para murid karena akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka.” Venoire telah keluar dari barier, ia saling bertatap mata dengan Aamun yang sudah dalam mode kekuatan aslinya.


Hestize terkejut mendengar perkataan Venoire. Bagaimana tidak? Veniire akan meminjam kekuatan gravitasi bumi, yang berarti dia akan menggunakan spell berbahaya.


Itu merupakan spell yang telah Venoire buat. Itu sangat jarang digunakan karena Venoire akan terkena sebuah efek yang dimana dia akan mendapat 50% dari serangan yang ia lancarkan ketika penggunaaan spell selesai.


Namun sebagai ganti kelemahan itu, Venoire dapat meningkatkan kekuatan gravitasinya secara berkali-kali lipat.


“Hah ... baiklah, aku akan menjaga murid-muridmu. Tetapi kau harus berjanji akan berhasil mengalahkan iblis itu.” Hestize hanya bisa menghela napas, menyerahkan Aamun kepada Venoire seorang diri.


“Ya, jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku.” Ujar Venoire.


“” Tubuh Venoire kini melayang, mengeluarkan aura ungu muda yang membara.


Tanpa menunggu lebih lama, Aamun menyerang ke arah Venoire menggunakan shadow swordnya. “”


Seketika di langit-langit tercipta puluhan pedang yang sama dengan shadow sword, mereka melesat ke arah Venoire dengan niat menusuk dan menebasnya.


Disisi lain, Aamun tak hanya diam menunggu serangan fifth slash berhasil. Dia menghampiri Venoire, berniat melawannya dalam jarak yang dekat sembari fifth slash bekerja.


Akan tetapi sebelum Aamun berhasil mendekat, Venoire mengambil alih pedang-pedang itu dengan sihirnya lalu membalikkan serangan tersebut kembali ke pemiliknya.


Aamun tentu tak bodoh, dia melenyapkan segera serangan itu dengan mudah karena memang semulanya itu diciptakan olehnya.

__ADS_1


“Kau teralihkan.” Venoire tanpa Aamun sadari kini ada tepat di hadapannya dengan mengarahkan sebuah pukulan.


Sebelum sempat menghindar, Venoire sudah melancarkan pukulan ke arah perutnya. Itu bukanlah pukulan biasa, namun sebuah pukulan yang mengandung mass yang sangat berat.


Aamun seketika terhempas dengan sangat kencang hingga menembus tembok gua sampai beberapa meter. Aamun nampak tak sadarkan diri setelah itu.


“Ini belum seberapa.” Secara mengejutkan Aamun kembali terbangun, dia bangun dari posisinya yang menyedihkan dan tentu masih memegang shadow swordnya.


Anehnya, Aamun nampak tersenyum lebar. Bersamaan dengan itu, pedang di tangannya semakin pekat aura gelapnya.


“Kau ... masih bangkit setelah kugunakan teknik itu?” Belum ada yang mampu bangkit setelah menerima tekniknya itu sebelum yang pertama adalah Aamun.


“Teknik apa? Itu kau bilang teknik?” Aamun berjalan pelan dengan sempoyongan.


“Ini baru teknik, ” Secara tiba-tiba shadow sword Aamun memancarkan aura yang nampak mengancam.


“Sayang sekali ini hanya bisa kupakai jika aku terluka parah.” Aamun menebas dari kejauhan, siapa yang menyangka bahwa sebuah serangan sihir yang begitu besar serta menakutkan keluar dari tebasannya itu.


“Masih bisa bertahan? Tch ... nampaknya pertarungan ini akan cukup alot.” Aamun sempat berdecak kesal sebelum kembali mendekat ke arah Venoire untuk menyerang.


“Kau kesal? Aku juga kesal kau tahu?! Aku ingin segera menyelesaikan pertarungan ini!” Bentak Venoire yang menghindar dari serangan Aamun. Dia memberi serangan balasan ke arah Aamun.


Seperti yang dikatakan Aamun, ini akan menjadi pertarungan yang cukup lama. Mereka menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk saling menyerang dan menghindar.


Mereka berdua kini sudah nampak kelelahan. Napas mereka sama-sama terpatah-patah. Para murid dari kejauhan berharap bisa membantu gurunya namun mereka tahu bahwa itu mustahil.


[Aamun Gin Felix(Lvl. 437)]

__ADS_1


[Venoire Horive(Lvl. 435)]


Tohrei membaca level kedua orang itu, mereka tak terlalu berbeda jauh jadi tentu wajar jika pertarungan ini berlangsung cukup lama karena mungkin saja statistik mereka mirip.


‘Apa ini sudah saatnya untukku ikut campur?’ Pikir Tohrei setelah melihat bagaimana situasi terkini pertarungan antara Venoire dan Aamun.


“Sial! Andai saja aku bisa membantu!” Magreis merasa geram hanya bisa melihat-lihat saja namun ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan keras.


“Sebaiklah kalian diam saja disini, karena pada akhirnya kalian hanya akan menjadi beban Venoire jika ikut campur lebih jauh.” Celetuk Hestize yang masih melindungi barrier pelindung para murid.


Tohrei melihat ekspresi yang lain, ia pun tersenyum tipis dan berhasil membuat keputusan.


Para murid merasa sadar diri, mereka hanya bisa menatap dari kejauhan. Namun, sebuah hal tak terduga terjadi, atau lebih tepatnya lebih dari satu hal tak terduga.


Tohrei berjalan santai melewati barrier, tak memedulikan peringatan Hestize. “Hei?! Apa yang kau lakukan bocah?!” Hestize segera mengomel pada Tohrei.


“Re—Yami?! Mengapa kau keluar dari barrier?!” Eriana tak ingin Tohrei berada dalam bahaya. Jika seandainya dia benar-benar ingin membantu Venoire, maka dia akan ikut keluar.


“Bocah? Coba lihat tubuhmu sendiri.” Tohrei membalikkan omelan itu pada Hestize.


“Asal kau tahu! Hanya tubuhku yang kecil! Memangnya kau tahu umur sebenarnya diriku?! Tunggu, kenapa kita membicarakan ini?! Lebih baik kau segera masuk kembali ke barrier!” Hestize masih saja mengomel.


Aamun secara tak sengaja melihat Tohrei yang keluar dari barrier. Melihat kesempatan itu, ia melesat kesana, berniat membuatnya menjadi sandra. Tanpa tahu semengerikan apa kekuatan Tohrei.


“Gawat!” Venoire menyadari niat Aamun begitu melihat Tohrei yang keluar dari barrier. Dia segera menyusul Aamun.


Namun sayang sekali, jarak antara Aamun dengan Tohrei hanya tersisa sedikit. Hanya butuh sedikit waktu untuk menangkapnya. Atau itu yang Aamun pikirkan.

__ADS_1


“Betapa tidak sopannya orang ini, kau tak melihat aku sedang mengobrol ya? Setidaknya kau harus bilang permisi tahu?” Tanpa Aamun dan yang lain duga, tangkapan Aamun malah berbalik arah secara otomatis.


“Sesuatu seperti ini ... bagaimana mungkin ... ?!” Aamun sendiri terkejut melihat kejadian yang menurutnya mustahil. Tangkapan yang seharusnya sudah 100% akan mengenai lawannya kini malah bisa meleset.


__ADS_2