The Endless System

The Endless System
Ch 87 — Versus Zen Frost


__ADS_3

“Untuk sekarang, menyerah adalah pilihan terbaik.” Ucap Tohrei yang sudah memutuskan pilihannya dalam telepati mereka.


“Level dari lawanmu terlalu tinggi Ikumi, dia ada di level 305. Dia selama ini menyembunyikan kekuatan penuhnya. Jika pun kau menggunakan kekuatan penuh, belum tentu kau akan memenangkan pertandingan ini. Itu hanya akan membuat pertandingan ini semakin parah.” Berbeda dengan Ifrit, Ikumi sebagai S+ monster memiliki berbagai hal yang kurang. Mau itu dari segi pengalaman, teknik bertarung, dll.


“Bahkan bisa saja para penonton akan menjadi korban karena pertarungan ini. Apa kau setuju Dengan keputusanku, Ikumi?” Tohrei menjelaskan itu kepada Ikumi.


“Aku akan menurut Master.” Jawab Ikumi dengan sedikit merasa kecewa.


“Tenang saja, aku yang akan mengalahkannya di ronde yang berikutnya. Oh ya, aku akan membuat kue krim besok, bagaimana?” Tohrei terkadang membuat kue krim saat ia masih di Ashfriet Forest. Banyak yang menyukai kue krim buatannya itu.


“Ku..kue krim?! Ah, baik Master!” Ikumi sedikit merasa kegirangan mendengar itu, namun dia segera bersikap kembali tenang.


Setelah itu, Ikumi menyatakan bahwa dirinya menyerah. Dia keluar dari arena melalui lorong.


Pertandingan selanjutnya adalah Zen melawan Tohrei. Ketika Tohrei masuk ke arena, dia bertemu dengan Ikumi yang baru menyelesaikan pertarungannya.


“Master!” Ikumi melambaikan tangan ke arah Tohrei.


Tohrei melambai balik melihat Ikumi.


“Master, apa besok aku bisa minta kue krim lebih banyak?” Tanya Ikumi, ia mendekat ke arah Tohrei.


“Yah, boleh saja, tapi memang kenapa?”


“Master meminta ku menyerah tadi, jadi bolehkan jika aku meminta kue krim lebih banyak?”


“Uh..., oke. Aku janji.” Tohrei memiliki prasangka bahwa Ikumi akan terus menagihnya jika tidak ditepati.


“Apa Master benar-benar berjanji?”


“Ya ya aku berjanji.” Tohrei mengangguk berkali-kali, mencoba meyakinkan Ikumi.


“Terimakasih Master!” Ikumi tersenyum lebar, dia berterima kasih pada Tohrei lalu pamit untuk pergi.

__ADS_1


“Kue krim tambahan~ Kue krim tambahan~” Sepanjang jalan Ikumi terus mengulangi kata-kata itu.


Tohrei menatap perginya Ikumi selama beberapa saat sambil tersenyum kecil sebelum berjalan kembali menuju arena. Dia sedikit meregangkan tubuhnya sebelum masuk ke arena.


“Baiklah, aku sudah siap.” Tohrei memasang topengnya dan mengangkat tudung dari jubahnya.


***


Sorakan dari penonton begitu meriah. Banyak yang memberi dukungan baik dari sisi kanan maupun dari sisi kiri.


Kedua peserta melangkah maju ke tengah arena. Mereka berdua saling menatap dengan tajam.


Zen Frost, ia menggunakan setelan musim dingin walau cuaca sedang berlawanan. Dia berambut putih kebiruan. Tatapan yang dingin dan menusuk terpampang jelas di matanya.


Tohrei, ia mengenakan jubah hitam dengan ornamen-ornamen berwarna biru. Tohrei mengenakan sebuah topeng dengan ukiran serigala yang juga memiliki garis-garis berwarna biru.


“Apakah kalian berdua siap? Pertandingan ke empat, dimulai!” Wasit menyatakan mulainya pertandingan, dia mundur dan mengawasi dari kejauhan.


“”


Para penonton sontak terkejut, mereka tak mengekspetasikan bahwa Zen akan langsung menyerang secara frontal di awal mulainya pertandingan.


“Itu tadi cukup mengejutkan, ini adalah pertandingan yang menarik!” Tohrei secara mengejutkan berada di atas puncak es yang dibuat Zen.


“!” Tohrei menciptakan sebuah ledakan api yang sangat besar.


Ledakan api itu menghancurkan es yang telah Zen buat menjadi berkeping-keping. Reruntuhan dari es itu berjatuhan menghantam arena hingga membuat sedikit getaran yang dapat dirasakan hingga seluruh stadion.


Tohrei melangkah dari es-es yang runtuh itu menuju ke arah Zen. Ia melemparkan sejumlah bola api besar ke arah Zen.


Zen tak diam saja, melihat Tohrei melesat ke arahnya membuat Zen ikut bergerak menuju ke tempat Tohrei berada dengan melewati sebuah jalan es yang ia buat. Ia berjalan dengan berlika-liku karena harus menghindari bongkahan es yang jatuh.


Sejumlah bola api dilemparkan ke dirinya, namun Zen menghindarinya dengan begitu mudah. Ia membuat jalur lain dari jalan esnya untuk menghindar.

__ADS_1


Begitu keduanya telah begitu dekat, pertarungan jarak dekat tak terhindarkan lagi. Zen menciptakan sebuah pedang es yang ia ayunkan untuk menebas Tohrei. Akan tetapi Tohrei dengan mudahnya menghancurkan pedang es itu menggunakan tangan kosong.


Zen tak nampak terkejut walau pedang esnya telah hancur. Dia hanya perlu membuat serangan lain.


‘’ Butiran-butiran es kecil berterbangan ke arah Tohrei.


Spell ice dust, itu adalah spell yang mampu membuat targetnya merasakan dingin yang sangat menusuk. Butiran es itu akan memasuki pori-pori dan akan menyebarkan suhu yang sangat amat rendah.


Namun, itu semua tak akan berguna di hadapan Tohrei. Itu karena ia mempunyai skill pasif Absolute Avoidance yang dapat menangkal segala serangan.


“Ada apa? Apa kau terkejut aku tak terkena dampak seranganmu?” Tohrei tersenyum tipis.


‘Tak berdampak? Ini adalah skill yang mampu melewati berbagai skill pertahanan, apa yang orang ini miliki hingga bisa menahan spellku?’ Batin Zen.


“Tidak, aku tidak terkejut, aku hanya sedikit tersentak.” Zen kembali melakukan serangan, kali ini dia menggunakan tubuhnya sendiri yang dilapisi es. Ia melakukan serangan tendangan memutar ke kepala Tohrei.


Tohrei dengan cepat menunduk, ia lalu melesatkan serangan ke arah Zen. ‘!’ Ia melancarkan serangan itu tepat di perut Zen.


Zen seketika terhempas mundur, akan tetapi Zen tak merasa hanya sekedar terhempas mundur. Namun dia merasa seperti terhempas di udara.


Zen menolehkan kepalanya kebawah dan menyadari bahwa ia terjatuh di ketinggian. Jalan es yang ia buat entah bagaimana sudah dihancurkan.


Zen sesegera mungkin menciptakan gunungan es dan memakainya sebagai pijakan agar tak terjatuh. Ia belum bisa bernapas lega, serangan lain dilancarkan kepadanya.


‘’ Tohrei mengeluarkan skillnya.


Sebuah bola racun dengan ukuran yang sangat besar tercipta. Bola racun itu melesat ke arah Zen dengan tujuan meracuninya.


Zen dengan terburu-buru membuat dinding es untuk melindunginya. Tanpa disangka racun itu mampu melelehkan es buatannya.


Zen segera mundur, ia menciptakan jalan es sebagai jalurnya. Setelah mundur, Zen membalas serangan Tohrei.


“”

__ADS_1


Seketika dari langit arena tercipta hujan es. Es-es yang berjatuhan dari hujan itu berbentuk seperti duri yang tajam. Melihat itu Tohrei hanya tersenyum tipis.


__ADS_2