The Endless System

The Endless System
Ch 55 — Masa Lalu Eriana & Tohrei(4)


__ADS_3

Eriana hanya terdiam, ucapan Tohrei adalah benarnya. Dia hanya menatap kaki kanan dan kirinya yang diayunkan secara bergiliran.


“Lebih baik kamu kembali Eri, mereka pasti khawatir.”


“Lalu bagaimana denganmu?” Eriana bertanya kepada Tohrei.


“Bagaimana apanya?”


“Apa kamu tidak akan kesepian jika aku pergi?” Eriana memperjelas pertanyaannya.


“ya, pasti aku akan kesepian, tetapi aku akan baik-baik saja ditinggalkan dirimu. Walau tubuhku lemah, tetapi hatiku kuat! Aku akan selalu mengingatmu dan pasti kita akan saling bertemu lagi!” Tohrei mengatakannya sambil tersenyum.


“Lalu bagaimana denganku?”


“Kamu memiliki hati dan tubuh yang kuat, jadi pasti kamu akan baik-baik saja. Aku yakin! Dengan sifat mu, kamu pasti akan mendapat banyak teman.”


“Mengapa kamu begitu yakin kalau aku bisa mendapat teman? Aku tidak yakin ada yang menyukai sifat ku.”


“Apa maksudmu? Aku menyukai sifat mu kok!”


Wajah Eriana memerah, dia kemudian tersenyum tipis tanpa disadari oleh Tohrei. “Begitu ... Kah?”


“Nee.., apa kamu tahu? Tentang identitasku.” Eriana secara tiba-tiba mengatakan itu.


“Aku tak tahu, kebetulan aku penasaran. Memang identitas mu apa?”


“Seorang putri dari kekaisaran Aelion, bagaimana?”


“Sudah kuduga itu. Tetapi mendengar bahwa itu adalah kebenaran sungguh mengejutkan ya?” Tohrei hanya merespon dengan santai. Dia sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.


“Eh? Hanya itu responmu?” Eriana tidak mengekspetasikan respon Tohrei saat ini.

__ADS_1


“Dari pakaianmu saat itu aku sudah menduga-duga ternyata kamu benar-benar putri.”


“Jadi bagaimana kesanmu kepadaku sekarang?” Biasanya orang-orang yang mengetahui identitasnya akan langsung bersikap sopan dan formal. Itu membuatnya tidak senang.


“Tidak ada yang berubah, aku tetap memiliki perasaan yang sama padamu Eri.”


“Rei...” Pipi Eriana memerah, kemudian dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan kembali ke topik tentang dirinya yang kembali ke tempat asalnya.


“Ngomong-ngomong bagaimana jika beri aku waktu untuk memutuskan hal tadi? Sebulan. Apa itu cukup?” Eriana masih ragu dengan keputusan apa yang akan ia ambil, maka dia memutuskan untuk berpikir selama sebulan.


“Kalau begitu, mari dalam sebulan kita bersenang-senang sepuasnya!”


“Um!” Eriana mengangguk setuju.



***


Sebulan akhirnya berlalu dan akhirnya Eriana telah membuat keputusannya. Dia pergi ke hadapan Tohrei, dia menyatakan keputusan yang ia buat kepadanya.


Kemudian mereka memutuskan untuk membawa pulang Eriana. Tohrei mengantar Eriana bersama Ersila. Eriana tak tahu jalan menuju ke ibukota kekaisaran, untung saja di kediaman Tohrei tersimpan sebuah peta benua ini dengan ukuran yang cukup kecil.


Mereka pergi hanya dengan berjalan kaki, itu karena di kediaman Tohrei tidak ada alat transportasi seperti kereta kuda. Mereka berniat untuk menumpang nanti jika kebetulan bertemu dengan kereta kuda yang melintas.


Mereka berpamitan dengan Ibu Tohrei dan meninggalkannya sendirian di kediaman itu.


Akan tetapi mereka tak perlu merasa khawatir karena kediaman itu dilindungi oleh pelindung super kuat yang bahkan tidak dapat dihancurkan oleh monster rank S. Begitulah yang Ersila katakan, Tohrei tidak tahu apa itu merupakan kebenaran atau hanya dibesar-besarkan. Namun setidaknya dia bisa tenang karena bahwa orang selevel Ersila tidak dapat menghancurkan pelindung itu.


Pelindung itu hanya akan mempersilahkan masuk seseorang yang diizinkan oleh pemiliknya, yaitu Elicia.


***

__ADS_1


Demikian mereka pergi melewati hutan dan mengikuti peta. Beberapa hari berlalu, akhirnya mereka menemukan kereta kuda yang lewat, mereka menumpang dan membayar dengan uang sebagai biaya perjalanan.


Dengan begitu mereka bisa menghemat energi dan pergi lebih cepat.


***


Hampir seminggu berlalu dan akhirnya mereka sampai di kota pertama, yaitu Mevilion. Mereka harus membayar masuk untuk melewat gerbang kota.


“Whoa..., tempat ini terlihat kuno...,” Tohrei bergumam hingga suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


Tohrei kagum dengan pemandangan kota, ini pertama kalinya ia melihat kota bergaya eropa abad pertengahan. Selama ini di kehidupan keduanya ia selalu berada di kediamannya dan sekitarnya.


Mereka bermain-main sebentar di kota itu, akan tetapi tanpa diduga sebuah tragedi terjadi. Ketika sedang dalam keramaian, Tohrei dan Ersila kehilangan Eriana.


“Eri! Dimana kamu!” Tohrei dan Ersila terus mencari.


Ketika Tohrei sedang mencari-cari, dia melihat sebuah gang sempit. Di dalam gang itu lewat sepintas orang yang nampaknya adalah Eriana. Tangan dan mulutnya diikat.


“Itu? Bukankah itu Eri? Ersila, ayo masuk ke gang itu!” Tohrei menoleh ke arah Ersila.


Mereka pun masuk ke dalam gang sempit itu dengan berlari. Mereka semakin dekat dan akhirnya melihat di ujung gang terdapat jalan keluar. Mereka keluar dari gang kecil dan melihat sebuah wagon mengangkut sekelompok orang yang terikat. Di sekitar wagon terdapat orang-orang dengan bersenjatakan pedang. Mereka terlihat garang.


Tohrei menduga bahwa mereka adalah bandit yang menjual budak. Mereka sedang berbincang-bincang.


“Hehe, anak-anak ini pasti akan laku.” Ucap bandit dengan luka tebasan di wajahnya.


“Ya, kau tahu kan bagaimana sifat para bangsawan itu? Menjijikan.” Ujar bandit berkepala botak.


“Itu! Mereka pasti penjual budak! Ersila, disana ada Eriana! Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” Tohrei memberi Ersila perintah.


“Laksakan tuan muda.” Ersila melesat ke arah sana.

__ADS_1


“Yang lebih penting ayo segera jalankan wagon ini, kita akan dimarahi bos jika tidak melakukannya sege—” Tanpa peringatan, kepala bandit itu terlepas dari tubuhnya.


Dua buah belati tergenggang di masing-masing tangan Ersila. Ialah pelaku dari putusnya kepala bandit itu.


__ADS_2