The Endless System

The Endless System
Ch 140 — Dezalene Kingdom


__ADS_3

Keesokan harinya, Tohrei dengan Ifrit mulai mendiskusikan untuk membuat sistem pendidikan di Ashfriet. Urashia beserta Ikumi ikut dalam diskusi walau mereka hanya sekedar mendengarkan.


Ada beberapa perwakilan dari ras yang ada di Ashfriet, seperti orc, goblin, kobold, ogre, dan beberapa ras lain.


Urashia mewakili para beruang dan Ikumi mewakili para direwolf. Membicarakan tentang direwolf, Ikumi sekarang adalah pemimpin sementara unit direwolf, itu karena Reikami sibuk dengan desa yang dia urus.


“Hooooneeeey!” Urashia dengan begitu saja memeluk Tohrei begitu menyadari keberadaannya.


“Duduklah dikursimu! Kita akan memulai diskusinya!” Tohrei menjauhkan wajah Urashia darinya.


Mereka saat ini berada di sebuah ruangan yang hanya terdiri dari satu meja besar, serta kursi-kursi yang berderet rapi.


Kursi-kursi ini diisi oleh berbagai perwakilan ras. Ifrit ikut dalam diskusi ini tentu karena dia merupakan orang yang mengurus Ashfriet selama absennya Tohrei. Sekarang, Ifrit menjadi wakil dari Tohrei.


“Mari segera kita mulai saja diskusinya. Mari kita mulai dengan tingkat pemahaman setiap ras, aku minta laporanmu, Ifrit.” Tohrei membukanya dengan langsung masuk ke intinya tanpa salam atau apapun.


“Baik, menurut laporan, kemampuan para warga memahami sesuatu ternyata lebih tinggi dari yang diduga. Bahkan, pemahaman mereka punya tingkat yang rata-rata sama.” Ifrit melapor sesuai yang ia baca di lembaran kertas.


“Hm? Pemahaman yang rata-rata sama? Ku rasa ... sebelumnya tidak seperti itu bukan?” Tohrei merasakan sesuatu yang berbeda disini.


Mendengar itu, perwakilan dari goblin, yaitu seorang holy goblin lord bernama Gobzai segera mengangkat tangannya, hendak berbicara.


“Ada apa?” Tanya Tohrei pada Gobzai yang mengangkat tangan.


“Saya ingin mengatakan bahwa, ini terjadi setelah kami menerima darah dari Tuan Tohrei, mungkin dari situ bisa disimpulkan bahwa darah dari tuan bisa memengaruhi tingkat pemahaman kami.” Gobzai duduk kembali setelah selesai menjelaskan.


“Sesuai laporan Viriet, apa yang dikatakan Gobzai memanglah benar.” Ujar Ifrit yang setuju akan perkataan Gobzai.


Viriet merupakan seorang Luxene Lich yang saat ini pekerjaannya adalah meneliti kandungan dari darah Tohrei sekaligus mengurus sebuah kota.

__ADS_1


Sejauh ini, hasil dari penelitian hanya menunjukkan bahwa darah yang dimiliki Tohrei bisa memengaruhi makhluk lain untuk memiliki kemiripan dengan Tohrei, baik dari segi kemampuan maupun dari segi kecerdasan. Namun, tentu saja mereka akan tetap dibawah Tohrei karena bagaimanapun darah tersebut bisa Tohrei kendalikan.


Bukti bahwa darahnya bisa memengaruhi kecerdasan penerimanya memang benar adanya. Tetapi, tidak ada bukti bahwa penerima darahnya bisa memiliki kemampuan yang dimiliki Tohrei. Penerimanya hanya sekedar berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi dari akar rasnya.


“Ini pertanda baik, dengan begini itu artinya semua ras bisa mendapat tingkat pendidikan yang sama.” Tohrei mengangguk pelan sebelum dia menuju ke topik selanjutnya.


“Selanjutnya, mengenai fasilitas, aku sudah memikirkan tentang fasilitas yang akan dibuat dalam rangka pendidikan ini. Tetapi karena perbedaan ukuran antar ras, ini akan sulit.” Ujar Tohrei.


Tohrei menjelaskan bahwa rancangannya adalah membuat bangunan yang berpusat untuk mendidik warga. Dengan kata lain Tohrei berniat untuk membuat sekolah.


“Um, bagaimana jika kita membuat fasilitas yang berbeda untuk ras beast? Seperti yang digunakan pada fasilitas perumahan, kita bisa membuat fasilitas khusus untuk ras beast.” Seekor Trybus snake berpendapat.


Seperti yang diberitahu ular itu, para beast memiliki jenis perumahan yang berbeda untuk ras besar seperti mereka. Maka mengajukan sebuah sekolah yang khusus untuk para beast adalah pilihan yang mudah.


Semua menyetujui usulan itu, sehingga ini berjalan lebih mudah. Disisi lain, Tohrei membahas perihal bahasa.


Semua monster menggunakan bahasa yang sama untuk berkomunikasi, namun tidak ada seekor pun dari mereka yang berpikiran untuk membuat bahasa mereka menjadi sebuah tulisan.


Mengapa itu menjadi hal yang bagus?


Itu bisa menjadi hal yang bagus karena jika mereka menggunakan bahasa tulisan dari manusia, maka para monster akan lebih lambat mengerti disebabkan bahasa tersebut terlalu asing.


Sedangkan jika mereka menggunakan bahasa monster, mereka bisa lebih akrab dan hanya perlu mengingat kosakata mereka dalam bentuk tulisan.


Setelah itu, Tohrei membahas materi yang akan masuk dalam mata pelajaran sekolah. Hal ini mirip dengan mata pelajaran di sekolah pada umumnya, namun sedikit menyesuaikan dengan kondisi dunia ini.


Penghuni dari wilayah Ashfriet ini sama sekali tidak sedikit jumlahnya, karena itu butuh tenaga kerja yang sangat banyak untuk dipekerjakan di sekolah. Tohrei sendirilah yang akan mengurus tentang itu. Dia akan mengajar calon pekerja untuk sekolah nanti.


Masalah menggaji tenaga kerja bukanlah suatu masalah karena Tohrei bisa mengatasi itu dengan mudah.

__ADS_1


Usai membahas itu, Tohrei beralih dengan membicarakan tentang membuat perpustakaan buku. Tohrei berencana untuk membuat perpustakaan itu terlihat mencolok.


Dari segi desain, Tohrei memang ingin membuatnya sebagus mungkin, namun maksud dari mencolok bukan disitu poinnya, perpustakaan itu menjadi mencolok melainkan karena Tohrei berniat membuatnya melayang di atas Ashfriet.


Bagi orang-orang di dalam ruang diskusi itu, ucapan Tohrei terdengar mustahil. Akan tetapi, mereka tidak lupa sosok seperti apa tuan mereka, sehingga mereka menepis pemikiran mustahil dari kepala mereka.


Tuan mereka bisa membuat berbagai hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, seperti halnya menaklukkan hutan ashfriet dan menjadikannya wilayah kekuasaannya.


Diskusi seharusnya sudah berakhir disini, namun sebelum diskusi ditutup, Tohrei membahas sesuatu mengenai penamaan wilayah ini. Sedari awal wilayah ini dibentuk, belum terpikir akan dinamai apa wilayah ini.


“Tohrei Kingdom? Kurasa bagus memakai nama Master dalam nama wilayah ini.” Ujar Ikumi dengan pikiran sederhananya.


“Bagaimana Honeyland?” Urashia berkata dengan sembarang begitu saja.


“Nama yang terlalu buruk, apa yang dipikiranmu cuman itu? Saya mengajukan nama Great Empire?” Ifrit mengajukan sesuatu yang tampaknya berlebihan.


“Nama yang membosankan ...” Celetuk Urashia yang disampingnya.


“Itu lebih baik dari nama konyol yang kau ajukan.” Ifrit membalas perkataan Urashia dengan pedas.


“Bagian mananya yang konyol?!” Urashia balas membentak Ifrit.


‘Huft ... ini hanya masalah nama ... mengapa mereka ribut sekali?’ Pikir Tohrei yang menyaksikan keributan itu.


Ruang diskusi seketika menjadi sangat bising, diskusi tentang nama wilayah ini kelihatannya begitu sulit. Itu hingga Virea mengangkat tangan, hendak mengatakan sesuatu.


“Um ... bagaimana dengan Dezalene?” Ujar Virea dengan sedikit gugup.


Virea menjelaskan arti dari nama tersebut. Dalam bahasa monster, deza berarti besar dan lene memiliki arti hutan. Jika digabungkan maka akan menjadi hutan besar, itu menggambarkan ukuran dari Ashfriet ini sendiri.

__ADS_1


“Hm ... itu nama yang bagus! Aku suka itu! Kalau begitu mari kita nyatakan mulai sekarang sebagai Dezalene Kingdom!” Tohrei mengumumkannya di ruang diskusi.


Semua yang di sana setuju dengan nama tersebut. Demikian rapat berakhir dengan penamaan wilayah negeri ini sebagai Dezalene Kingdom.


__ADS_2