
Relon dan Tohrei akan menggunakan sebuah kereta kuda untuk pergi menuju ibukota. Akan tetapi, Tohrei memikirkan cara yang lebih baik.
Relon bertanya perihal cara yang lebih baik itu. Relon tidak tahu cara yang lebih cepat dibanding menggunakan kereta kuda ini.
Sebuah sistem seperti gerbang teleportasi sama sekali tidak ada di kerajaan ini, sehingga satu-satunya cara berpergian di kerajaan ini adalah dengan menggunakan transportasi berupa hewan tunggangan.
“Caraku mungkin akan sedikit ekstrim bagi orang lain. Jika kau tidak mau, kau hanya perlu memberikanku peta menuju ibukota,” jelas Tohrei.
“Sedikit ... ekstrim?” Sambil memegang dagu, Relon mencoba berpikir, cara seperti apa yang Tohrei gunakan hingga dibilang begitu ekstrim untuk orang selain Tohrei.
“Terbang dengan kecepatan suara, apa kau sanggup jika aku membawamu dengan kecepatan seperti itu?” tanya Tohrei.
“Kecepatan suara? Memangnya itu hal yang mungkin?” Relon tidak bisa membayangkannya jika Tohrei bisa pergi dengan kecepatan suara.
“Itu cara tercepat yang ku miliki. Jika kau masih tidak percaya, lebih baik kita langsung ke ibukota dengan petunjuk arah darimu saja sekarang dengan caraku.” Tohrei menghela napas pelan. Wajah ragu Relon membuat proses menuju ibukota menjadi lama.
“Baiklah, kurasa kita harus memakai cara itu.” Relon sadar bahwa situasi ini membuat tujuan mereka berjalan lambat sehingga dengan sedikit keraguan yang masih tersisa, Relon menerima tawaran Tohrei untuk menggunakan cara alternatif.
“Sepakat! Kalau begitu bersiaplah.” Tohrei mengatakan 'bersiaplah' namun dia langsung menarik kerah baju dari Relon dan terbang ke atas langit kota.
“Tu..tunggu sebentar! Aku belum siap—!” Tepat saat Relon mencoba menghentikan Tohrei, dirinya sudah diterjang oleh dorongan angin yang disebabkan oleh kecepatan Tohrei yang tinggi.
“Ababababb!!!” Karena angin yang menghempas wajahnya, Relon yang hendak bicara pun hanya bisa mengeluarkan suara aneh dari mulutnya.
“Hei jangan diam saja, apakah itu arah ke ibukota?” Tohrei menunjuk ke arah depan menggunakan jari telunjuknya.
“Hen ... tikan ... dulu ... lajunya!!” teriak Relon dengan usaha yang keras.
Mendengar itu, maka Tohrei menghentikan lajunya sementara, menoleh ke arah Relon yang ia bawa. Wajah dari Relon sangat menggambarkan betapa kesulitannya dia bertahan di kecepatan yang sama dengan Tohrei.
__ADS_1
Relon mengambil napas sejenak, belum siap untuk berbicara kembali. Dia kemudian memberitahu jalan menuju ibukota.
“Dari sini, lurus hingga kau menemukan tiga desa lalu belok kiri sampai menemukan sebuah hutan yang sedikit besar. Sesudahnya, kau tinggal belok ke kanan dan akan menemukan sebuah kota besar, itu adalah ibukota Heistihart.” Jelas Relon sebelum mengambil napas kembali, hendak mengucapkan sesuatu lagi.
“Sebelum itu, bisakah aku mendapat posisi yang lebih nyaman, tuan? Rasanya seperti aku akan kehilangan kesadaranku jika posisiku seperti ini terus hingga sampai ke tujuan.” Relon segera mengajukan permintaannya sebelum Tohrei akan tancap gas menuju ibukota sesuai arahan Relon.
“Hm ... kurasa memang caraku terlalu ekstrim untuk orang normal. Ya sudah, karena kau yang memanduku akan ku turuti itu.” Tohrei mengelus dagunya sebelum menggunakan skillnya untuk meringankan beban Relon.
“ kurasa itu cukup.”
Tohrei melepaskan pegangannya pada Relon karena dirinya sudah mengamankannya agar tidak jatuh dengan menggunakan telekinesis. Tohrei juga sudah meletakkan barrier yang akan melindungi Relon dari terpaan angin kencang.
Relon sedikit terkejut ketika Tohrei melepaskan pegangannya, namun dia menjadi lebih terkejut ketika dirinya menjadi melayang.
Tanpa sepatah kata lagi, Tohrei langsung kembali menggunakan Speed of sound untuk menuju tujuan. Mereka bisa sampai ke ibukota hanya dalam waktu yang sebentar.
Sesuai dengan petunjuk Relon, Tohrei bisa menemukan sebuah pemukiman besar yang Relon konfirmasi sebagai ibukota Heistihart.
Tohrei dan Relon mendarat tepat beberapa ratus meter dari tembok. Tohrei berniat menanyakan sesuatu sebelum masuk ke dalam ibukota.
“Hei, kira-kira kita harus masuk secara normal atau diam-diam?” tanya Tohrei yang masih mempertahankan kondisi melayang Relon walau dirinya sendiri sudah menapakkan kakinya ke tanah.
“Hm ... keadaan ibukota saat ini membuat mereka sama sekali tidak mengizinkan orang luar untuk masuk. Kurasa mereka pun tidak akan memberikan izin masuk walau kita mengatakan diri kita sebagai perwakilan dari kota lain,” ucap Relon sembari mengusap dagunya.
“Kalau begitu, maka sudah jelas, kita akan menggunakan cara yang diam-diam.” Mendengarkan ucapan Relon, maka Tohrei sudah pasti akan memutuskan cara ini.
“Bagaimana caranya? Pertahanan ibukota itu sangat kuat!” ujar Relon yang memperingati Tohrei.
“Dengan sound of speed hal seperti itu akan mudah. Lagipula, memangnya aku harus pakai cara apa lagi? Langsung memukul para penjaganya, begitu?” tanya Tohrei seolah menegur.
__ADS_1
“Yah ... setidaknya itu yang saya pikirkan.” Relon mengatakan itu menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Huft ... setidaknya kita harus melihat keadaan ibukota dulu secara diam-diam, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana situasi di ibukota,” jelas Tohrei.
“Kurasa itu ada benarnya.” Relon berpikir sesaat sebelum menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya, Tohrei bisa saja menggunakan area detection untuk melihat sendiri situasinya dari jarak jauh. Namun, dia tidak ingin menunjukkan terlalu banyak skillnya.
Walau menunjukkan skillnya akan memberitahu bahwa dirinya sangat kuat, Tohrei tidak akan menunjukkan terlalu banyak saat ini karena dirinya juga sedang mencoba menggunakan sedikit skill daripada biasanya.
Usai itu, Tohrei kembali mengaktifkan speed of sound, lalu dengan langkahnya dia melompati tembok dan melewati penjaga yamg sedang berjaga di bagian atas tembok.
Hembusan angin kencang menerpa para penjaga, namun tidak satupun sadar bahwa yang melewati mereka bukan hanya sekedar angin, namun seseorang dengan kecepatan suara.
“Apa kau merasa ada sesuatu yang melewati kita?” tanya seorang penjaga pada rekannya.
“Tidak mungkin, paling-paling itu hanya angin lewat.” Sang rekan dari penjaga itu menggelengkan kepalanya, tidak mementingkan firasat temannya.
“Kau tahu kan kalau cuaca sekarang sangat buruk, mungkin itu tadi hanya angin yang membawa hujan,” lanjutnya.
“Yah kurasa kau benar, cuacanya membuatku masuk angin,” keluh penjaga itu.
Sementara itu, Tohrei dengan lancar pergi dan bersembunyi di suatu gang kecil yang sepi. Disaat itu, Tohrei melepaskan telekinesisnya dari Relon, membuat kakinya kini bisa mendarat kembali ke tanah.
“Relon, apa kau tahu di mana rajanya?” Tohrei tanpa basa-basi ingin langsung menyapa raja itu dan menendangnya dari tahtanya.
“Raja sangat jarang keluar dari istananya, dia lebih suka berdiam diri di sana sembari berleha-leha bersama selir-selirnya. Jadi kurasa dia tidak mungkin ada di luar,” jelas Relon kepada Tohrei.
Relon mendapatkan informasi ini langsung oleh pelayan yang ada di istana. Beberapa orang yang tinggal di istana sebenarnya juga memiliki tujuan untuk melengserkan raja dari tahtanya, sehingga mudah untuk mendapatkan informasi ini.
__ADS_1
“Istana ya? Ini mungkin mudah.” Tohrei mengelus dagunya sembari mengangkat kepalanya ke atas.