The Endless System

The Endless System
Ch 67 — Kota Yang Bobrok


__ADS_3

Setelah perbincangan dengan Bearine, Tohrei dan Ikumi segera pergi dari kota itu dan pergi ke tujuan berikutnya, yaitu Aelion Empire.


Tohrei dan Ikumi menggunakan sihir angin untuk melakukan perjalanan. Ketika mereka sedang terbang, Tohrei melihat di bawah sana ada seseorang yang sedang terdesak oleh sekelompok bandit.


Melihat itu Tohrei turun diikuti oleh Ikumi. “Anda ingin kemana Master? Bukankah tujuan kita masih jauh?”


“Ada orang yang nampaknya butuh bantuan di bawah.”


Begitu sampai di bawah, Tohrei langsung menghajar para bandit itu hingga terkapar tak sadarkan diri.


“Apa kau baik-baik saja?” Tohrei membersihkan tangannya yang digunakan untuk menghajar para bandit itu.


“Y..ya.” Pria dengan pakaian seperti petualang itu menjawab dengan refleks.


“Eh tunggu siapa kalian?” Pria itu kebingungan karena keberadaan mereka berdua yang datang secara tiba-tiba.


“Kami hanya orang lewat.” Setelah menghajar para bandit itu Tohrei berniat untuk langsung pergi.


“He..hei tunggu kalian datang kesini dan menghajar para bandit itu dan pergi begitu saja?!” Pria itu sungguh bingung dengan mereka berdua.


“Oh, sepertinya aku tidak bisa pergi lebih cepat.” Tohrei dan Ikumi terhenti karena secara tiba-tiba tanah bergetar dan dengan begitu saja tanah di depan mereka hancur dan mengeluarkan sesosok monster dengan ukuran yang luar biasa.


Pria di dekat mereka berdua hanya bisa terdiam menatap monster itu karena sangking besarnya. “I..itu?!”


Monster itu berwujud seperti hewan pengerat, namun di ekornya ada sesuatu yang tidak biasa. Di ekor monster itu terdapat bor besar berbahan metal.


“Bukankah itu Drillgan?” Tohrei tersenyum tipis melihat monster itu.


“Drillgan katamu?! Bukankah itu adalah monster rank A?” Pria itu terkejut ketika Tohrei menyebutkan nama monster itu.


“Memangnya kenapa?”


“Kenapa katamu?! Kita harus lari! Dia sangat berbahaya!” Pria itu segera kabur.


“Apa saya harus memusnahkannya Master?” Ikumi bertanya kepada Tohrei.

__ADS_1


“Tidak perlu, akan kuhadapi sendiri. Lebih baik kau awasi para bandit ini, jangan biarkan mereka kabur.”


“Lalu bagaimana dengan pria tadi?”


“Biarkan saja orang itu lari.” Setelah mengucapkan itu Tohrei melesat pergi ke arah Drillgan itu.


“Hoi monster besar lihatlah kemari!” Tohrei dengan sedikit kekuatannya memukul drillgan itu memakai pukulannya.


Seketika tubuh drillgan itu terjatuh dan menyebabkan getaran pada tanah. Akan tetapi walau telah dijatuhkan, monster itu tetap menyerang menggunakan ekornya.


Ekor bornya diam-diam menyerang Tohrei namun dengan mudahnya memberikan sentilan pada bor di ekornya. Seketika bor di ekornya hancur berkeping-keping. Kemudian Tohrei memegang ekor monster itu lalu mengayunkannya ke atas dan menerbangkannya.


“!” Asap hitam menyebar keseluruh tubuh drillgan itu lalu melahapnya. Tubuh monster itu sama sekali tidak tersisa, seluruh tubuhnya terlahap.


[Penguasaan anda dalam skill Earth Magic meningkat!]


Setelah itu Tohrei turun kembali ke tempat Ikumi. “Bagaimana dengan para bandit itu?” Tanya Tohrei.


“Mereka sudah mati, tertimpa bebatuan yang terbang.” Ikumi menunjuk ke tempat dimana para bandit itu mati.


“Eeeehhh...”


Dia hanya bisa terduduk. “Apa yang baru saja terjadi?” Dia merasa kosong.


***


Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya Tohrei dan Ikumi sampai ke sebuah kota. Kota itu nampaknya tidak dikuasai oleh negeri manapun. Kota itu memiliki ukuran yang lebih kecil dari kota Vaelia.


Ketika mereka ingin masuk, mereka dikenai biaya yang cukup mahal yaitu 1 gold, itu sungguh pemerasan. Pada akhirnya Tohrei menyerahkan dua koin gold, namun penjaga yang menjaga gerbang malah meminta lebih.


“Hei tunggu, aku berubah pikiran, harga perorang untuk masuk adalah 10 gold.” Penjaga itu dengan ekspresi yang serakah tersenyum.


“Kau bercanda? Memangnya semiskin apa kau sampai meminta sangat banyak uang?”


Penjaga itu pun kesal karena diejek miskin. “Bocah! Jangan macam-macam! Aku tidak bercanda! Jika kau tidak menyerahkan biaya masuknya sekarang maka jangan harap bisa masuk!”

__ADS_1


“Baik-baik.” Tohrei berbalik arah dan pergi ke arah penjaga itu untuk memberi uangnya. Penjaga itu pun lekas tersenyum lebar.


Namun—


“Dalam mimpimu!” Tohrei memukul penjaga itu dan menghantamkannya ke tanah hingga membuatnya tak sadarkan diri.


“Akan kuambil kembali uangku.” Tohrei mengambil dua koin gold yang sebelumnya ia berikan.


“Ayo kita pergi Ikumi.” mereka berjalan masuk tanpa menghiraukan orang lain yang melihat.


Ketika Tohrei dan Ikumi masuk lebih dalam ke kota, mereka melihat betapa kumuh dan rusaknya kota ini. Mulai dari bangunannya yang tak terurus dan gelandangan yang tergeletak di tengah jalan.


Orang-orang yang mereka lihat sepanjang jalan terlihat kurus dan kurang gizi. Tohrei bahkan melihat ada diantara mereka yang terkapar tanpa nyawa dan hanya bisa menunggu untuk mayatnya membusuk.


“Apa-apaan tempat ini...”


Tohrei juga melihat bahwa saluran air disini sangat kotor melebihi kotornya sebuah kotoran. Suasana di kota ini juga sangat suram. Ada yang salah dengan kota ini.


“Aku tidak tahu ada kota seburuk ini...” Ikumi melihat ke sekitar.


“Awalnya aku hanya ingin melewati kota ini, tapi setelah melihat ini aku jadi sangat kesal sampai-sampai ingin memukul orang yang seharusnya mengurus kota ini.” Tohrei menghentikan jalannya.


“Ikumi, ayo kita bersihkan kota ini!”


“Um! Saya juga tak ingin kota ini menderita lebih jauh!”


Mereka pun pergi ke rumah dari pemilik kota ini, yaitu mansion walikota. Mereka menerobos masuk ke mansion walikota. Terdapat dua penjaga yang menjaga gerbang.


“Siapa kalian?! Tidak ada yang boleh masuk ke balai kot—” Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Tohrei sudah melenyapkan kepalanya dan hanya menyisakan tubuh tanpa kepalanya.


“A...apa yang kau lakukan?!” Penjaga yang satunya nampak gemetar ketakutan. Bahkan dia tidak bisa memegang senjatanya dengan benar.


Tohrei tak menjawabnya, dia hanya melakukan hal yang sama dengan penjaga yang sebelumnya, yaitu melahap kepalanya dengan gluttony.


“Maaf memperlihatkanmu pemandangan yang mengerikan ini Ikumi. Saat ini aku entah mengapa sungguh kesal.” Sebelum menyerang, sebelumnya mereka melihat kedua penjaga ini menyiksa seorang gelandangan di dekat gerbang karena bosan.

__ADS_1


“Tidak apa Master saya akan selalu mendukung Master.” Ikumi memberi Tohrei senyuman manis yang menenangkannya.


“Terima kasih Ikumi, ayo kita bereskan ini segera.”


__ADS_2