The Endless System

The Endless System
Ch 143 — Menuju Heistihart Kingdom


__ADS_3

Entah apa alasannya, Tohrei meminta Ryui untuk mengantarnya. Tentunya dengan wujud naganya. Wujud naga Ryui memang bisa membuatnya pergi dengan cepat, namun kecepatan Tohrei dan skill teleportasinya bisa membuat Tohrei pergi lebih cepat.


Apa alasan dari permintaan Tohrei? Sederhana saja, Tohrei hanya mencoba mencari sensasi yang tidak biasa sekaligus menghabiskan sedikit waktu dengan Ryui yang sudah lama tidak dia temui.


Ryui mengiakan permintaan itu karena diberi imbalan coklat. Dia sendiri tidak mengerti dengan alasan yang Tohrei buat. Satu-satunya yang dia pikirkan adalah coklat yang manis.


Mereka saat ini sedang berada di udara. Ryui dengan mode naganya terbang di atas awan bersama Tohrei di atas punggungnya.


Tohrei tampak menikmati waktu seperti ini. Namun disamping hal itu, Tohrei tetap memikirkan tujuannya menuju ke Heistihart. Sejarah Evilia Kingdom yang ada di Heistihart merupakan tujuan utamanya saat ini.


“Sebenarnya apa tujuanmu ke sana?” Ryui bertanya ditengah perjalanan mereka.


Suasana sunyi yang hanya diiringi tiupan angin membuat situasi menjadi terasa canggung sehingga Ryui memutuskan untuk menanyakan sesuatu.


“Hm ... yah ... bisa dibilang untuk menemui cucu dari kenalanku, mungkin?” Tohrei menjawab dengan sedikit ragu karena belum bisa memastikan kebenaran si nona yang merupakan cucu dari Ersila.


“Oh begitu ya ...”


Setelah itu, suasana menjadi hening kembali, tidak ada satu pun dari keduanya yang ingin membuka topik. Namun, ditengah kecanggungan itu, kerajaan Heistihart sudah hampir terlihat.


‘Apakah itu kerajaan Heistihart?’ pikir Tohrei yang menatap pemukiman besar yang dilindungi tembok besar dalam samar-samar.


Melihat dari pertahanan wilayah itu, Tohrei bisa memastikan bahwa pelindung dari Dezalene jauh lebih kuat daripada Heistihart. Tohrei tidak mempunyai kesulitan apapun untuk menghancurkan wilayah ini jika dirinya mau.

__ADS_1


“Ryui, ini coklatmu, aku akan langsung pergi.” Tohrei beranjak berdiri, memberi sekotak besar coklat dari hasil skill Creation.


“Eh? Kau akan langsung turun?” Selesai memberikan pertanyaan, Tohrei turun dari punggung Ryui.


Tohrei menjatuhkan dirinya dari atas Ryui menuju Heistihart. Langkah santainya yang tanpa rasa takut membuatnya jatuh dengan mulus.


Tohrei punya pengalaman dalam terjun bebas seperti ini. Namun ini pertama kalinya Tohrei melakukannya tanpa parasut. Untuk apa juga sebuah parasut ketika dirinya punya skill yang hebat?


(Seingat Author Tohrei gk pernah terjun bebas selain kali ini, jika sebelumnya pernah, author akan koreksi dialognya)


Tohrei masih tetap santai walau dirinya akan segera mendarat ke tanah. Namun, ketika dirinya berada 1 meter dari tanah, Tohrei menggunakan hyper telekinesisnya untuk mendaratkan tubuhnya sendiri dengan halus menuju tanah.


Dirinya mendarat sempurna di depan tembok kerajaan Heistihart. Tembok itu tentunya dijaga oleh kesatria sehingga sebelum mendarat Tohrei sudah lebih dulu mengaktifkan invisible agar tidak bisa dilihat mata.


Tohrei turun menuju ke pemukiman, dia berjalan menuju ke gang sepi lalu menonaktifkan skill invisible-nya. Tohrei kemudian berjalan keluar dari gang itu dan beradaptasi dengan keramaian.


“Oh? Tampaknya sudah ada yang mengawasi ku ya?” gumamnya yang melirik-lirik ke sekitarnya.


Dia baru tiba di sini, namun mereka dengan mudah menemukannya. Tohrei rasa mereka merupakan suruhan Relon sehingga membiarkan mereka mengawasinya.


Tohrei awalnya berniat mencari Relon nanti, namun tampaknya Relon sendirilah yang akan datang ke hadapannya. Yang dia perlu lakukan hanyalah menunggu kehadiran Relon yang akan menghampirinya.


‘Aku rasa Relon akan segera tiba ketika mendengar kabarku.' Tohrei berjalan menuju ke sebuah kedai, ini merupakan tempat yang cocok untuk membahas sesuatu.

__ADS_1


Kedai itu tampak biasa-biasa saja, hanya sebuah kedai dengan fondasi yang berbahan dasar kayu. Terdapat simbol dari kedai itu yang terpasang tepat di depan kedai untuk menunjukkan identitas restoran mereka.


“Selamat datang!” Pramusaji dalam kedai itu dengan cekatan mengetahui keberadaan pelanggan.


“Tolong satu meja untuk dua orang. Beri menu terbaik kedai ini.” Tohrei yang baru tiba langsung memesan dan menuju ke meja yang dimana di sana terdapat 2 kursi.


Pramusaji segera menuruti itu ketika Tohrei sudah beranjak duduk. Pramusaji itu tampaknya sudah tahu siapa Tohrei karena dirinya juga merupakan mata-mata dari perkiraan Tohrei.


Tak lama, seseorang membuka pintu kedai, dia adalah Relon Natan. Dia bertingkah seperti tidak tahu bahwa Tohrei ada di sini.


“Oh? Suatu kebetulan! Aku tidak menyangka tuan Tohrei sudah tiba ke Heistihart!” Relon berekspresi seolah dirinya terkejut.


“Relon? Aku tidak menduga kau akan ke sini.” Tohrei juga ikut berakting, mengikuti alur sebentar saja.


“Ini merupakan kedai favoritku! Tentu aku akan ke sini secara sering," balas Relon dengan ekspresi senyum yang ramah.


“Duduklah di sini, Relon. Aku akan memesankan makanan untukmu sebelum kita melanjutkan urusan penting kita.” Tohrei mengajak Relon untuk duduk ke kursi kosong yang ada di hadapannya. Relon dengan senang hati menerima itu.


“Haha, aku tidak menyangka jika kau begitu menanti keberadaanku 'sampai menempatkan mata-mata di sana-sini.'” Tohrei tertawa pelan, Relon sontak terkejut ketika mengetahui Tohrei menyadari para mata-mata.


“O-oh mengenai itu ... aku minta maaf, itu karena aku ingin segera menyapamu ketika mengetahui dirimu sudah masuk ke Heistihart.” Relon sedikit berkeringat dingin, takut hubungannya dengan Tohrei akan menjadi buruk.


“Tidak apa, tidak apa. Aku ke sini juga sebenarnya ingin segera menyelesaikan urusanku.” Tohrei tampak tidak mempermasalahkan itu.

__ADS_1


Untuk sementara, mereka akan makan di kedai itu sebelum membicarakan tujuan utama mereka. Tohrei mentraktir Relon dengan santainya walau Relon yang seharusnya menyambutnya.


__ADS_2