
Theolla membelalakan matanya saat benda lembut milik Jupiter mendarat mulus di bibir mungilnya. Jupiter mel*umat bibir Theolla memberinya sensasi yang berbeda, sehingga tanpa sadar Theolla mulai membalas ciuman Jupiter. Sejenak kedua insan itu hanyut dalam gelora cinta yang membara, sadar cintanya tidak bisa bersatu mereka menyalurkannya lewat ciuman penuh perasaan. Seakan semua ini tidak ingin berakhir begitu saja.
Setelah dirasa keduanya sudah kehabisan nafas, Jupiter dan Theolla melepaskan pagutan mereka. Keduanya saling memandang, tertawa atas apa yang terjadi begitu saja, untung keadaan cukup sepi sehingga tak ada yang memperhatikan kelakuan mereka barusan.
"Ciuman perpisahan sebelum kamu menikah." ucap Jupiter dengan mengusap tengkuk belakangnya. Sementara Theolla hanya menunduk tersipu malu. Ini kali kedua Jupiter menciumnya di saat mereka tidak memiliki hubungan.
"Aku laper.." cicit Theolla.
"Ya udah kita cari makan terlebih dulu, setelah itu kita kembali ke hotel." Jupiter mengulurkan tangannya ke hadapan Theolla, dengan senang hati Theolla menerima uluran tangan Jupiter.
Mereka berdua kembali menyurusi pantai untuk sampai di tempat keramaian, beruntung tidak jauh mereka berjalan menemukan sebuah kedai yang menjual aneka seafood. Jupiter dan Theolla mampir kesana untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Sementara di hotel Bella tengah menikmati makan malamnya, dia hanya duduk seorang diri di restoran hotel tempat dia menginap. Tiba-tiba kursi kosong di sebelahnya di tarik seseorang, Mario tersenyum dan duduk satu meja dengan Bella.
"Sendirian aja...boleh saya duduk disini?"
"Eh...silahkan pak Mario."
"Kamu gak jalan-jalan ini malam terakhir kita loh di Bali?" tanya Mario sambil menikmati makanannya.
"Kalau jalan-jalan sendiri nanti di kira orang gila lagi." kekeh Bella.
"Bener juga apa kata kamu, habis makan kita jalan-jalan di sekitar pantai saja jangan mau kalah sama Jupiter dan Theolla...hahaha."
"Bapak bisa aja."
"Manggilnya jangan bapak dong berasa tua banget nih saya, kita kan tidak dalam lingkungan pekerjaan ini."
"Terus manggil apa donk pak??"
"Terserah asal jangan bapak....kakanda misalkan...hahaha."
Bella mencebik mendengar ucapan Mario "kayak di jaman kerajaan aja manggil kakanda."
"Terserah kau enaknya manggil apa."
"Om Mario."
Mario langsung tersedak mendengar Bella memanggilnya om "apa kau bilang coba ulang!!"
"Om Mario pak..."
"Umur gue baru 31... kenapa jadi berasa om-om sih." akhirnya Mario tak tahan untuk bicara tidak formal dengan gadis di hadapannya ini.
"Tadi bapak bilang terserah saya, kenapa jadi bapak yang ribet salah siapa mukanya tua...ups!!" Bella menutup mulutnya dan nyengir kuda menatap Mario.
"Dasarrr bocah!!"
__ADS_1
"Heii bung!! umur saya 25 tahun....kenapa jadi di panggil bocah." sungut Bella kesal.
"Nah kan...lo juga gak mau di panggil bocah, gue juga gak mau di panggil om."
"Ya terus....aku harus manggil apa pak Mario yang mahabenar."
"Panggil mas kek....apa kakak gitu!!"
Bella mencebik "ngomong ke daritadi jangan muter-muter."
"Udah ah gue mau cari angin....ikut gak lo?" Mario menatap kesal pada Bella yang diam saja.
"Iya gue ikut...!!" meskipun dengan wajah cemberut Bella akhirnya mengikuti langkah Mario. Sesampainya di lobi hotel Bella terkejut melihat seseorang yang di kenalnya, sontak dia langsung sembunyi di punggung Mario.
"Hei bocah napa lo ngumpet??" Mario mendelik melihat Bella yang menarik-narik bajunya.
"Sssttt.....aduh diem aja deh om!!" karena kesal di panggil om otomatis Mario menggeser badannya, dan orang yang sedang di hindari Bella sontak menoleh kearahnya.
"Bella..!!!" teriak lelaki yang sedang Bella hindari.
Bella nampak salah tingkah dan mengusap lengannya "Eh....pak Raka."
"Dimana Theolla??"
"Anu....itu loh pak....bu Theolla...." Bella nampak berpikir untuk mencari jawaban.
"Apa??ngomong yang jelas?" desak Raka.
"Theolla lagi jalan sama Jupiter." ucap Mario santai. Sementara Bella langsung menutup wajahnya, bisa-bisanya Mario ngomong semudah itu. Rahang Raka mengeras tangannya terkepal erat mendengar jawaban Mario. Setelah itu Raka berjalan keluar hotel dengan amarah yang memburu.
"Dia calon suaminya Theolla yang brengsek itu kan?"
"Aduh kenapa di kasih tahu sih, nanti kalau mereka berantem gimana??" Bella terlihat panik dan mondar mandir tidak jelas.
"Ya bagus kalau mereka berantem...jadi ada pertunjukan gratis donk...haha."
Bella hanya mendelik kearah Mario, tidak di sangka asistennya Jupiter yang terlihat kalem dan berwibawa itu ternyata punya sisi lain yaitu menyebalkan.
*****
Tangan Jupiter dan Theolla masih saling bertautan,Setelah puas jalan-jalan menyurusi pantai dan menikmati kuliner khas Bali Jupiter dan Theolla memutuskan untuk kembali ke hotel.
Jupiter menghentikan langkahnya sejenak setelah hotel tempat mereka menginap sudah terlihat dekat.
"Kenapa?" Theolla memandang dalam kearah retina Jupiter.
"Rasanya berat untuk kembali, aku ingin kita selalu berpegangan seperti ini." Jupiter mengecup tangan Theolla berulang kali.
__ADS_1
"Jika ada pertemuan maka akan ada perpisahan."
"Kamu serius mau berpisah denganku La??"
"Kita harus realistis Jupiter, hubungan yang kita jalani sudah berakhir sejak lama."
"Tapi itu bukan keinginanku!! kamu yang meninggalkan aku begitu saja, setelah kita bertemu kembali kau malah memilih menikah dengan pria lain."
"Ini bukan keinginanku!!!" sentak Theolla karena tidak terima dengan omongan Jupiter
"Tapi kau tetap menjalaninya meskipun ini bukan keinginanmu kan?" Jupiter tatap tajam kearah Theolla.
"Aku hanya ingin membahagiakan kedua orangtuaku."
"Ya aku tahu itu....kau memang anak yang berbakti."
"Sudahlah....kenapa jadi seperti ini, aku hanya ingin berpisah baik-baik dan kita masih bisa berteman." tutur Theolla.
"Baiklah jika itu keinginanmu....aku turuti...semoga kau bahagia Theolla.!!" setelah itu Jupiter berjalan menjauh meninggalkan Theolla dan semua kenangannya. Dia tidak akan menoleh lagi kebelakang karena semua ini terlalu menyakitkan bagi dirinya. Namun tanpa Jupiter sadari, Theolla berlari mengejar Jupiter dan memeluk pria itu dari belakang untuk menghentikan langkahnya.
"Tolong jangan seperti ini....aku gak akan tenang jika kamu sampai membenciku." ucap Theolla dengan terisak.
"Lalu aku harus bagaimana La?" Jupiter tetap berdiri tanpa merubah posisinya. Belum sempat Theolla menjawab tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang menarik dirinya. Theolla kaget, dia langsung terjerembab jatuh ke pasir putih. Sementara pria yang sedang di liputi amarah itu langsung meninju Jupiter dengan keras.
Bugh
Bugh
Raka terus saja memukuli Jupiter tanpa ampun hingga Jupiter tersungkur ke pasir, saat ada kesempatan Jupiter balik melawan mendaratkan pukulannya pada Raka. Kedua orang itu saling memukul satu sama lain, kegaduhan ini membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Jupiter..... Raka..... stoppp!!!" teriak Theolla dia tidak tahu harus berbuat apa. Beruntung Mario dan Bella datang saat melihat adanya keributan dan langsung memisahkan mereka berdua.
"Dasar tidak tahu malu beraninya lo jalan sama calon istri gue!!!" teriak Raka kesal.
"Stop!!! jangan buat keributan di sini malu di lihatin orang-orang!!!". ucap Mario mencoba menenangkan Raka.
"Bilang sama temen lo jangan pernah temuin Theolla lagi!!!" lalu setelah itu Raka langsung menarik tangan Theolla dan membawanya pergi dengan paksa.
Jupiter memegang ujung bibirnya yang terluka karena pukulan Raka, dia hanya bisa menatap Theolla yang semakin lama menjauh darinya. Luka di wajahnya tidak seberapa dengan luka yang menggoreskan hati, melihat orang terkasih pergi meninggalkannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih🙏😍