
Jupiter memandang Theolla yang masih terlelap di atas kasur. Satu jam sudah berlalu tapi Theolla belum juga sadarkan diri. Sepertinya efek obat tidur yang diberikan sangat besar, sehingga Theolla tidak merasakan apapun. Mario sendiri setelah membantu Jupiter, langsung kembali ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Jupiter.
Theolla menggeliat menggerakkan tubuhnya, dia menyesuaikan pandangannya melihat sekeliling. Seperti bukan kamarnya, tapi ini dimana. Dia baru ingat terakhir kali dia sedang makan malam bersama Raka, lalu kenapa dia berada di sebuah kamar yang asing. Buru-buru Theolla mendudukan dirinya, rasa sakit di kepalanya kembali berdenyut.
Namun pandangan Theolla tertuju pada seorang pria yang tidur meringkuk di atas sofa besar.
"Jupiter..." gumamnya pelan.
Theolla masih mencerna dengan baik apa yang terjadi pada dirinya, kenapa dia bisa bersama Jupiter sekarang padahal jelas-jelas tadi dia bersama Raka. Akhirnya Theolla mengingat sesuatu, dia merasakan kepalanya yang tiba-tiba pusing saat makan malam tadi. Setelahnya dia tidak ingat apapun lagi.
Theolla melihat jam yang menempel di dinding, sudah jam sepuluh malam. Seingatnya tadi saat makan malam masih jam delapanan. Jadi selama itu dia tak sadarkan diri
"Dimana Raka dan Bryan?? apa mereka melakukan hal yang buruk padaku?"
"Lalu kenapa aku bisa berada di kamar yang sama dengan Jupiter?"
Theolla ingin turun dari ranjang, tapi rasa pusing kembali menderanya. Hingga Theolla urungkan hal itu, menunggu Jupiter terbangun.
Jupiter mengucek matanya melihat Theolla yang sudah duduk diatas kasur "kamu udah bangun La??"
Theolla hanya tersenyum tipis "kenapa aku bisa berada disini?? tolong jelaskan apa yang terjadi denganku Jupiter?"
Jupiter menghampiri Theolla dan duduk di sebelahnya, bersisian di atas ranjang yang sama "nanti aku jelasin, sekarang gimana keadaan kamu masih pusing apa nggak?"
Theolla menggeleng lemah "sudah mendingan."
"Siapa pria yang tadi bersamamu?" tanya Jupiter.
Theolla nampak berpikir untuk memberikan jawaban pada Jupiter "Dia....."
"Apa dia calon suami kamu?" tebak Jupiter.
Theolla hanya mengangguk lemah.
"Sudah kuduga...ternyata calon suami kamu itu brengs*k." geram Jupiter.
"Sebenarnya apa yang terjadi? coba jelaskan padaku...!!" pinta Theolla penuh harap.
Jupiter memandang sendu kearah wajah Theolla, di elusnya wajah cantik itu lalu Jupiter menggenggam erat tangan Theolla "dia.....dia hampir saja melecehkanmu tadi."
Theolla menutup mulutnya tidak percaya, air mata mulai mengalir membasahi wajah cantiknya. Lalu mengalirlah cerita dari Jupiter, mengenai kejadian yang menimpa Theolla. Dan tangis Theolla semakin pecah mendengar penuturan Jupiter.
Theolla sungguh tidak percaya, Raka akan senekat itu menjebaknya. Dia selama ini sudah menjaga kesuciannya dengan baik, tapi kenapa calon suaminya sendiri tega berbuat keji terhadapnya.
__ADS_1
"Sudahlah...tidak terjadi apapun sama kamu, dia memang sudah membuka sebagian gaunmu tapi aku berhasil menggagalkan niatnya itu." Jupiter membawa Theolla kedalam pelukannya, dan mencoba menenangkannya.
"Makasih...jika gak ada kamu, aku akan menjadi wanita yang hilang kesuciannya sebelum menikah." ucap Theolla parau.
Jupiter mengusap pipi Theolla dengan ibu jarinya "sudah jangan menangis lagi, lupakan kejadian malam ini aku sudah kasih pelajaran sama dia." Theolla hanya mengangguk di sela isak tangisnya.
Theolla beranjak dari duduknya, berlalu menuju kamar mandi. Dia membasuh wajahnya menggunakan air dingin, menghilangkan jejak Raka yang mungkin sudah menyentuh dia seenaknya.
*****
Jupiter yang mengenakkan setelan santai, dengan kaos putih polos dan celana jeans selutut masih duduk di sofa besar yang berada di kamar hotelnya, dia masih menunggu Theolla yang berada di kamar mandi sejak sepuluh menit yang lalu.
Ceklek!!!
Pintu kamar mandi terbuka, Theolla sudah lebih segar saat ini. Hanya sembab di matanya yang masih terlihat sedikit. Jupiter tersenyum begitu melihat Theolla sudah lebih baik.
"Duduk sini!!!" Jupiter menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya. Lalu Theolla pun menghampiri Jupiter.
"Maaf ya jadi ngerepotin kamu..!!!" ucap Theolla akhirnya.
"Gak ada yang di repotin, hanya kebetulan saja aku menginap di hotel ini..semua sudah ada yang mengaturnya." Jupiter lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.
Theolla mengangguk mendengar ucapan Jupiter.
"Aku terpaksa..." Theolla hanya menunduk dalam.
"Aku akan ikhlas melepasmu jika kamu bahagia dengannya, tapi jika kamu tidak bahagia aku akan rebut kamu kembali dari pria brengs*k itu..!!" ucap Jupiter tegas, matanya kini menatap tajam kearah dua bola mata Theolla.
Theolla menggeleng pelan "jangan lakuin itu, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan kedua orangtuaku."
"Tapi kamu tidak bahagia Theolla..!!!"
"Aku akan belajar bahagia jika sudah menikah bersamanya."
Jupiter menghela nafas panjang, tak habis pikir wanita sebaik Theolla akan mendapatkan lelaki brengs*k seperti Raka.
"Aku masih mencintaimu..." ucap Jupiter yakin.
"Aku tahu itu.."
"Dan kamu juga masih mencintaiku kan? kita masih memiliki rasa yang sama?"
"Aku tidak......"
__ADS_1
"Ssttt!!! aku sudah tahu jawabannya." Jupiter menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Theolla, memandangnya penuh cinta dan kasih. Jupiter mencakup kedua pipi Theolla dan mendaratkan bibirnya diatas bibir Theolla.
Theolla yang terkejut hanya membelalakan matanya, dia tidak bisa menghindar karena tubuhnya menikmati ini. Sentuhan Jupiter di atas bibirnya begitu dalam dan penuh perasaan, semua kerinduan yang terpendam selama sepuluh tahun ini di salurkannya sudah. Bibir yang sudah menjadi candu bagi Jupiter, saat mereka masih bersama dulu kini di rasakannya kembali.
Merasa tidak mendapat penolakan dari Theolla, Jupiter kembali melum*t bibir bawah Theolla, menyesapnya kuat hingga membuat Theolla membalas ciuman Jupiter. Jupiter menerobos masuk menjelajah rongga mulut Theolla, mereka saling berbelit lidah dan bertukar saliva.
Ciuman yang tadinya lembut dan penuh perasaan berubah menjadi panas dan sedikit menuntut, Jupiter membaringkan tubuh Theolla diatas sofa tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Theolla tidak menolak, dia ikut hanyut dalam permainan panas Jupiter.
Mereka berciuman dengan posisi Theolla berada di bawah tubuh Jupiter, lalu Jupiter menurunkan ciumannya menuju rahang Theolla, beralih ke bahu Theolla yang terbuka. Theolla melenguh menikmati sentuhan Jupiter sampai akhirnya suara tak terduga datang dari perut Theolla.
Kruyuk.....kruyuk...kruyuk...
Jupiter menghentikan aksinya dan menatap Theolla dalam "kamu laper??"
Theolla mengangguk malu-malu, Jupiter lalu beranjak dari atas tubuh Theolla, keduanya tertawa lebar dengan wajah yang merona khas orang yang baru pertama jatuh cinta.
"Maaf ya...aku gak tahu kalau kamu laper, keasyikan sih tadi." Jupiter mengacak rambut Theolla dengan gemas. Sementara Theolla hanya tersipu malu.
"Tadi aku makan baru beberapa suap keburu kepalaku pusing, jadi sekarang laper deh." ucap Theolla sambil mengelus perutnya yang rata.
"Ya udah mau makan apa?"
"Apa aja yang penting enak."
"Jam segini restaurant sudah pada tutup, jadi gimana? makanan siap saji mau gak nanti aku pesenin." Jupiter melirik jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.
"Gak deh...aku ada tempat makan yang enak di jam segini, sekalian anterin aku pulang aja udah malem takut mamah sama papah khawatir...!!"
"Kok pulang sih, kupikir kamu akan nginep disini?' goda Jupiter.
"Jangan macem-macem Jupiter...!!!" sentak Theolla kesal lalu mencubit keras perut Jupiter.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like,vote,koment dan bintang lima makasih genks๐๐
__ADS_1