
Padatnya jalanan ibu kota membuat Theolla menghela nafas berulang kali. Satu jam sudah dia terjebak macet di dalam taxi online yang membawanya ke apartemen Jupiter. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta Theolla berpisah dengan teman-temannya. Venus membawa keluarga kecilnya pulang, begitupun dengan Dimas dan Kanaya. Mereka berulang kali menawarkan tumpangan pada Theolla, tapi Theolla memilih menggunakan taxi online.
"Jangan sungkan selama di Jakarta kamu bisa tinggal di tempatku, awas jangan tinggal di hotel apalagi tinggal bareng sama Jupiter sebelum kalian resmi menikah!!" begitulah titah Amanda sebelum mereka berpisah di Bandara.
Theolla hanya tersenyum begitu mengingat kembali kata-kata Amanda. Kembali lagi pada kemacetan yang melanda ibu kota, meskipun mobilnya ber-AC tapi tetap saja peluh membasahi dahi Theolla. Rasa tidak sabarnya untuk menemui pujaan hati membuat Theolla gelisah mengutuk dalam hati kenapa jalanan harus macet di siang hari bolong seperti ini. Padahal bukan jam berangkat kerja atau jam pulang kerja, tapi yang namanya macet memang tidak tahu tempat dan waktu.
Sebelum menuju apartemen Jupiter, Theolla terlebih dulu menghubungi Mario untuk mengetahui keberadaan Jupiter. Tepat seperti dugaannya Jupiter tidak berangkat ke kantor dan di pastikan pria itu berada di apartemennya.
Setelah berjibaku dengan kemacetan, sampailah Theolla di apartemen Jupiter sebelum jam makan siang. Menatap pintu apartemen yang tertutup rapat dengan semangat empat lima Theolla memijit bell, satu kali dua kali pintu masih belum terbuka sampai yang ketiga kalinya baru Theolla mendengar langkah seseorang membuka pintu.
Ceklek !!
Pintu terbuka menampilkan sosok Jupiter yang sudah di pastikan baru bangun dari tidurnya. Penampilannya semrawut, memakai celana jeans selutut dengan kaos tanpa lengan tapi meskipun begitu tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Hai...!!" sapa Theolla dengan tersenyum lebar.
Jupiter terlihat bingung dan mengucek kedua bola matanya, dia melihat Theolla berdiri di hadapannya tersenyum lebar dengan koper di tangan kanannya.
"Kenapa mimpinya terasa nyata begini ya?" gumam Jupiter tapi masih bisa di dengar oleh Theolla.
Jupiter menggelengkan kepalanya lalu berniat menutup kembali pintunya, tapi dengan sigap Theolla menahan tangan Jupiter dan menerobos masuk kedalam apartemennya. Sekali lagi Jupiter hanya menatapnya bingung, apalagi setelah Theolla dengan santainya duduk di sofa ruang tamu.
"Aku capek kepanasan, tadi di jalan macet banget ambilin aku minum dong haus banget nih..!!" Theolla mengibas-ngibaskan tangannya merasa kegerahan. Padahal suhu pendingin di ruangan Jupiter sudah sangat adem.
Tapi yang di lakukan Jupiter hanya berdiri mematung, menatap Theolla heran lalu mencubit tangannya sendiri dengan keras.
"Aww....sakit...ternyata ini nyata bukan mimpi."
"Ngapain masih berdiri di situ? cepet ambilin aku minum...jauh-jauh datang dari Surabaya sampai sini malah di cuekin."
Jupiter langsung tersadar dan buru-buru mengambil air minum untuk Theolla. Segelas air putih Jupiter simpan di hadapan Theolla.
"Hanya air putih? pelit banget sih kamu..!!" tapi meskipun begitu Theolla langsung meneguknya hingga habis.
"Apa tujuan kamu datang kesini lagi? di mana suami kamu aku gak mau sampai suami kamu salah paham sama kita dan menghajar aku lagi." ucap Jupiter ngeri, kejadian beberapa waktu lalu di Bali saat Raka menghajarnya masih terasa di ingatan Jupiter.
"Suami?? oh suami ya.....gak usah bahas dia, sekarang kan cuma ada kita berdua." tiba-tiba ide untuk menjahili Jupiter muncul begitu saja di benak Theolla.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Theolla? aku gak mau ya sampai Raka menggrebek kita kesini."
"Udah tenang aja dia gak akan berani...sekarang yang terpenting kamu sama aku." goda Theolla mengerling nakal, dia lalu beranjak dari duduknya berpindah untuk duduk di samping Jupiter. Dengan cepat Jupiter menghindar tapi Theolla terus mengikutinya. Begitu seterusnya sampai Jupiter cape sendiri.
"Kamu mau apa? jangan macem-macem Theolla!!"
Theolla terkekeh melihat wajah panik Jupiter "gak usah jauh-jauh kenapa duduknya, kayak musuhan aja kita." Theolla meraih tangan Jupiter berniat menggodanya, tapi dengan sigap Jupiter langsung menepisnya.
"Jangan pegang-pegang...!! kamu udah jadi istri orang sekarang...aku anti ya jadi pebinor!!"
"Hahaha...'' seketika tawa Theolla meledak, dia sampai mengeluarkan air mata karena lucu dengan tingkah Jupiter yang ketakutan.
"Apa setelah menikah kamu berubah menjadi agresif begini?"
"Seperti yang kamu lihat.." Theolla mencondongkan badannya lebih mendekat kearah Jupiter, namun Jupiter buru-buru memalingkan mukanya.
"Kenapa gak datang ke pernikahanku? padahal kan aku berharap banget mantan pacarku ini dateng." bisik Theolla tepat di telinga Jupiter.
"Gak penting!!" jawab Jupiter cuek.
"Oh yah....padahal itu penting banget loh, andai aja kemarin kamu dateng pasti kamu akan tahu kalau aku gak jadi nikah."
"Aku gak jadi nikah sama Raka."
Jupiter tertawa sinis "becandamu gak lucu La..."
"Ya sudah kalau gak percaya, padahal aku dateng kesini karena udah dapet restu dari mamah papah buat balikan lagi sama kamu, tapi sepertinya kamu gak menginginkan aku ya udah aku balik lagi aja ke Surabaya." Theolla beranjak dari duduknya tapi dengan sigap Jupiter menarik tangan Theolla hingga terduduk di pangkuannya.
"Kamu serius?"
Theolla menganggukan kepalanya.
"Kenapa gak ngomong daritadi?"
"Kan sengaja mau bikin surprise."
"Dasar kau ini...!!" Jupiter langsung membawa tubuh Theolla kedalam dekapannya. Tapi Theolla buru-buru melepas pelukannya dan turun dari pangkuan Jupiter.
__ADS_1
"Tadi gak mau deket-deket, sekarang malah peluk-peluk." cebik Theolla kesal.
"Ya maaf...tadi kan belum tahu kalau kamu gak jadi nikah." Jupiter meraih bahu Theolla untuk kembali memeluknya.
"STOP !! jangan deket-deket kamu pasti belum mandi kan?"
"Aku udah mandi tadi pagi, tapi ketiduran lagi sebelum kamu datang." kali ini Jupiter tidak bisa menahan kerinduannya untuk kembali merengkuh tubuh Theolla, di kecupinya puncak kepala Theolla semua ini terasa mimpi baginya, tapi Theolla nyata kini ada di hadapannya.
"Kenapa kamu dan Raka gak jadi nikah La?"
Theolla melepas pelukannya dan mendongak menatap wajah Jupiter "ceritanya panjang, nanti aku ceritain ya...sekarang aku cuma ingin sama kamu... aku kangen kamu."
"Aku juga sayang." Theolla tersipu mendengar Jupiter kembali memanggilnya sayang.
Jupiter mengelus pipi mulus Theolla "makasih udah mau kembali sama aku."
"Aku juga makasih karena kamu udah mau nerima aku lagi, padahal aku udah sering banget nyakitin kamu...."
"Ssstt..." Jupiter menempelkan telunjuknya di bibir Theolla.
"Kita bahagia bersama ya..." setelah mengucapkan kata itu Jupiter meraih tengkuk Theolla, menyatukan kedua bibir mereka. Menghisapnya dengan lembut, melum*at dan mengul*umnya penuh perasaan. Theolla membuka sedikit bibirnya untuk memudahkan Jupiter mengakses rongga mulutnya, mengabsen setiap deretan giginya dan selanjutnya saling bertukar saliva. Suara decapan dari bibir mereka terdengar nyaring di apartemen Jupiter yang sunyi. Mereka berdua menyalurkan kerinduannya lewat ciuman penuh perasaan.
Setelah dirasa keduanya kehabisan nafas Jupiter melepaskan pertautan bibir mereka. Dia menyatukan kening Theolla dan dirinya.
"I love you sayang..!!" bisik Jupiter penuh perasaan.
"Love you too sayang...'' balas Theolla malu-malu.
.
.
.
.
TAMAT
__ADS_1
Tapi boong😂✌