
Siang berganti malam, malam pun sudah berganti hari, kini hari yang di tunggu Jupiter pun sudah tiba. Dia dan keluarganya datang ke Surabaya untuk melamar Theolla secara resmi. Karena waktunya yang sangat mepet sehingga lamaran kali ini sekalian akan menjadi hari pertunangan mereka.
Jupiter datang hanya membawa keluarga intinya saja, sebut saja ada bunda Rianti dan papah Leo, ayah Andre, tante Anna dan Alea, Venus serta Mario sahabat sekaligus asisten pribadinya.
Saat tiba di rumah Theolla, semua langsung menyambutnya dengan baik. Sama dengan Jupiter keluarga Theolla pun tidak terlalu banyak hanya keluarga dekat saja, mengingat sebelumnya Theolla pernah gagal menikah. Takut menimbulkan persepsi lain jika tiba-tiba Theolla sudah di lamar lagi secepat itu.
"Jadi maksud kedatangan kami kali ini ingin meminta putri pak Bima untuk anak saya Jupiter, maaf jika ini terlalu cepat dan terkesan buru-buru." Andre mengawali pembicaraannya. Jupiter yang duduk di sebelahnya terlihat sangat gugup, berkali-kali dia mencuri pandang pada Theolla yang duduk tidak jauh dari mereka. Pandangan keduanya bertemu, mereka tersenyum menyiratkan kerinduan yang dalam karena tidak berjumpa selama seminggu ini.
"Dengan senang hati kami menerima maksud baik dari keluarga pak Andre, tapi biar Theolla yang akan memutuskan semuanya...bagaimana nak kamu terima tidak nak Jupiter jadi calon suami kamu?"
Mendengar namanya disebut, Theolla langsung mendongakkan kepalanya. Dia tatap satu persatu wajah keluarga Jupiter, sampai pandangan Theolla dan Jupiter kembali bertemu.
"Iya saya terima lamarannya." ucap Theolla yakin.
"Alhamdulillah...." seluruh keluarga serentak mengucapkan hamdalah.
Bunda Rianti mengeluarkan kotak perhiasan untuk di sematkan di jari manis Theolla dan Jupiter. Selain itu masih banyak hantaran lain yang di bawa keluarga Jupiter untuk Theolla. Mengingat lamaran kali ini begitu penting untuk Jupiter.
Setelah acara tukar cincin selesai mereka kembali duduk untuk membahas rencana pernikahan.
"Saya ingin agar pernikahan ini di percepat, beri saya waktu dua minggu untuk mempersiapkan semuanya." ucap Jupiter.
"Wah..sepertinya nak Jupiter sudah tidak sabar untuk menikahi putri saya." kelakar Bima, dan membuat semua orang tertawa.
"Niat baik memang harus di segerakan, betul begitu nak?" Andre menatap Jupiter.
"Betul yah...kebetulan Theolla pun sudah setuju kita akan mempercepat pernikahan kita."
"Baiklah karena kedua anak-anak kita sudah tidak sabar untuk naik ke pelaminan, kita sebagai orangtua hanya akan mendoakan semoga semuanya berjalan dengan lancar."
"Amiiin..." ucap seluruh keluarga.
"Ada yang ingin kalian sampaikan nak sebelum pernikahan kalian?" tanya Bima menatap Jupiter dan Theolla bergantian.
"Aku punya satu permintaan pah?" ucap Theolla.
"Apa itu sayang sebutkan?" tanya Bima.
"Aku ingin menikah secara sederhana, hanya keluarga dan tetangga dekat saja yang di undang, selain itu aku ingin menikah di rumah saja tidak ingin di gedung seperti kemarin."
Semua keluarga paham akan keinginan Theolla, mereka mengerti mungkin Theolla masih takut karena sebelumnya pernah gagal menikah. Setelah semuanya berunding akhirnya mereka sepakat pernikahan Theolla dan Jupiter akan di laksanakan kurang dari dua minggu lagi. Akad dan resepsi akan di gelar di hari yang sama, sementara untuk resepsi di Jakarta akan di laksanakan satu minggu setelah resepsi di Surabaya.
Acara lamaran itu di tutup dengan makan malam bersama yang sudah di sediakan oleh keluaga Theolla. Setelah acara selesai keluarga Jupiter berpamitan untuk segera kembali ke hotel tempat mereka menginap, baru besok pagi mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
*****
Saat keluarganya kembali pulang Jupiter masih terlihat berkumpul bersama dengan keluarga Theolla, kali ini dia tengah ngobrol bersama Theolla dan adiknya Darel.
"Jadi sekarang kamu sudah mulai magang Rel?" tanya Jupiter pada Darel.
"Iya kak...sudah satu minggu ini aku magang di perusahaan papah."
"Wah bagus itu berarti bisa tuh nanti kamu gantiin kakak kamu di perusahaan kalau kak Theolla ikut kakak ke Jakarta."
"Yank...kita belum bahas ini loh." Theolla menyela ucapan Jupiter.
"Aku pasti bakal bantuin papah di perusahaan, tapi nanti setelah aku lulus dan jadi sarjana sekarang aku masih harus banyak belajar kak." ucap Darel.
Jupiter menepuk bahu Darel " belajar yang rajin karena kelak kau akan merasakan bagaimana rasanya jadi seorang pemimpin."
"Iya kak...ya udah Darel permisi ke kamar dulu ya !!"
Setelah Darel berlalu pergi kini tinggallah Jupiter dan Theolla berdua, mereka berpandangan dan tersenyum lebar. Jupiter menghampiri Theolla dan duduk di sebelahnya, dia raih tangan Theolla di ciumnya punggung tangan Theolla dengan mesra. Setelah satu minggu tidak bertemu akhirnya malam ini mereka bertemu dalam acara lamaran.
"Aku bahagia banget malam ini yank...!!"
"Aku juga sayang."
Theolla pun menyetujui ajakan Jupiter, mereka berkendara selama beberapa menit dan berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari komplek perumahan Theolla. Karena keadaan taman yang cukup sepi mereka memutuskan untuk tetap di dalam mobil.
"Aku ingin bertanya sesuatu sama kamu La?" Jupiter menghadapkan tubuhnya menatap Theolla.
"Apa ?"
"Jadi setelah menikah nanti kamu akan ikut aku ke Jakarta apa tetap di Surabaya bekerja di perusahaan papahmu?"
"Menurut kamu gimana?"
"Ya kalau aku inginnya kamu ikut aku ke Jakarta, dan berhenti bekerja."
"Kamu tahu kan menjadi arsitek adalah impianku sejak dulu, dan aku gak mungkin melepas impianku begitu saja." ucap Theolla yakin.
"Lalu kita akan tetap berjauhan walaupun sudah menikah? aku sendiri gak akan mungkin meninggalkan perusahaan yang sudah kurintis dari awal."
Hening.
"Kita gak boleh egois salah satu dari kita harus ada yang mengalah." tutur Theolla.
__ADS_1
"Aku tahu ? kamu masih bisa bekerja meskipun kita sudah menikah."
"Caranya ?"
"Kamu masih bisa bekerja dari rumah, sehingga kita gak perlu berjauhan, sewaktu-waktu kamu boleh datang ke perusahaan yang penting kamu harus memenuhi kewajiban kamu sebagai istri."
"Baiklah nanti aku omongin lagi sama papah lagian Darel juga bentar lagi lulus, jika dia sudah resmi bergabung dengan perusahaan papah, aku akan berhenti bekerja dan fokus mengurus kamu dan anak-anak kita kelak."
"Kamu yakin? tadi bilangnya gak mau ngelepas begitu saja imipian kamu ?"
"Iya sih...tapi mau bagaimana lagi, aku bingung."
Jupiter nampak berpikir, dia tidak ingin melihat Theolla bersedih.
"Gini aja untuk sementara kamu bisa bergabung dengan perusahaan ku dulu menjadi arsitek tetap, perlahan kita akan bangun perusahaan arsitektur baru untuk kamu kelola nantinya." usul Jupiter.
"Bener yank ?? makasih ya." Theolla langsung memeluk Jupiter dengan bahagia. Tidak menyangka Jupiter punya ide itu.
"Cuma terima kasih aja nih, gak ada yang lain gitu?" goda Jupiter.
"Hah ?"
"Kita dua minggu gak akan ketemu loh sampai nikah nanti, kamu gak akan kangen gitu sama aku."
"Ihhh apasih..?" Theolla mencubit perut Jupiter.
"Sakit yank daripada di cubit mending di cium aja!!"
"Mesuu....mmmh...mmh" belum Theolla menyelesaikan ucapannya, Jupiter sudah meraih tengkuknya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Theolla. Awalnya Theolla terkejut, tapi akhirnya dia bisa menikmati permainan Jupiter. Lidah mereka saling bertautan menimbulkan bunyi decakan di dalam mobil, menyalurkan hasrat yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Saat mulai kehabisan nafas mereka melepas pertautan bibir mereka, keduanya terengah-engah mengumpulkan oksigen.
Jupiter mengusap bibir Theolla yang basah akibat percampuran saliva mereka "untuk dua minggu kedepan semoga aku bisa tahan tidak bertemu denganmu."
.
.
.
.
.
Like, Vote, Koment dan rate 5 makasih🙏😍
__ADS_1