
Langit gelap kota Jakarta perlahan mulai menampakan sinar kuning keemasan, sisa-sisa air hujan yang semalam membasahi bumi masih menempel di dedaunan. Udara yang biasanya panas, pagi ini terasa menyejukan mata karena efek dari turunnya hujan.
Suara bising kendaraan bermotor mulai terdengar di setiap penjuru kota, jalanan yang sedikit banjir tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengais rejeki hari ini.
Jupiter melangkah, menuju gedung tertinggi perkantorannya di ikuti Mario dari arah belakang. Semua karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dan menunduk hormat.
Sesampainya di depan ruangan Jupiter, dia berhenti sejenak dan menatap Sandra "Sandra apa kau sudah menghubungi pihak Galaxy Bimasakti untuk menandatangani kontraknya?"
"Sudah pak,"
"Baiklah jika mereka sudah datang temui saya di ruangan saya....!!"
"Baik pak..."
Jupiter pun berlalu dari hadapan Sandra memasuki ruangannya di ikuti Mario.
"Jadwal saya hari ini apa saja Yo?" tanya Jupiter ketika dia sudah mendudukan diri di kursi putarnya.
Mario pun langsung membuka tabletnya untuk melihat agenda hari ini "Pagi ini bapak ada pertemuan dengan pihak Galaxy Bimasakti membahas kontrak kerjasama,jam 3 sore nanti bapak ada meeting dengan klien kita yang dari Yogyakarta, jam 7 malam bapak harus menghadiri acara pernikahan anaknya pak Hartono di salah satu hotel berbintang."
"Jika mereka sudah datang, suruh Theolla yang menemui saya..!!"
"Baik pak,"
Jupiter melempar satu berkas kehadapan Mario "berkas ini tolong di revisi ulang oleh bagian keuangan, masih banyak kekurangannya, saya tidak mau tahu harus selesai hari ini juga...!!"
"Baik pak saya permisi dulu...!!" Mario berlalu dari hadapan Jupiter membawa berkas di tangannya.
Sementara itu Theolla dan Bella yang baru sampai di perusahaan langsung menuju meja resepsionist untuk mengisi daftar hadir terlebih dulu.
"Silahkan bu sudah di tunggu di ruangan pak Direktur...!!"
"Terima kasih...!!"
Theolla dan Bella berjalan beriringan menuju pintu lift, perasaannya hari ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Pagi tadi dirinya mendapat telepon dari sekertaris Jupiter, untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaannya. Awalnya Theolla berpikir, Jupiter mungkin tidak akan mau bekerja sama dengan perusahaannya karena masalalu mereka.Tapi kini semua anggapan itu hilang, setelah Theolla kembali menginjakkan kaki di sini.
Triiiingg....
Pintu lift terbuka, mereka berdua langsung masuk menuju lantai tertinggi.
"Ibu baik-baik saja...?" Bella menghentikan lamunan Theolla yang sedari tadi hanya diam sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
"Jika ibu kurang sehat, kita bisa kembali ke hotel dan menunda pertemuan ini."
Theolla menggeleng lemah "tidak Bel, kontrak ini sangat penting untuk perusahaan kita."
"Kalau gitu ibu harus semangat, jika pak Jupiter menjadi beban pikiran ibu sekarang anggap saja di masa dulu kalian tidak saling kenal."
Triiing....
Pintu lift kembali terbuka, mereka langsung keluar dari dalam lift menuju meja sekertaris direktur.
"Silahkan di tunggu sebentar ya bu, nanti akan saya kabari lagi pak Direktur kini masih ada tamu di ruangannya." ucap Sandra menjelaskan.
Setengah jam sudah berlalu, Theolla dan Bella masih menunggu di kursi yang tersedia di ruang tunggu. Sampai akhirnya Mario datang menghampiri mereka.
"Bu Theolla di tunggu di ruangan pak direktur...hanya bu Theolla saja ya yang boleh masuk."
Theolla melirik sekilas kearah Bella, dan Bella mengangguk memberi kekuatan pada atasannya. Karena orang yang akan di temuinya kini bukan direktur biasa, tapi orang yang pernah mengisi hatinya di masalalu.
*****
Theolla kini mengikuti langkah Mario menuju ruangan Jupiter, perasaan nya tiba-tiba saja berdebar tak karuan. Antara ingin berhenti sampai disini, atau lanjut. Jika dia berhenti peluang besar yang sudah berada di depan mata, akan hilang begitu saja. Namun jika dia lanjut, Theolla harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi Jupiter nanti.
"Silahkan bu, pintu masuknya di sini ibu sudah di tunggu..!!" ucap Mario mempersilahkan.
"Sama-sama bu.." Mario pun undur diri dari hadapan Theolla, kembali menuju meja kerjanya yang berhadapan dengan Sandra.
Dengan ragu-ragu Theolla memegang handle pintu, tapi demi kontrak kerjasama itu dia memiliki keberanian yang tinggi. Di bukanya pintu ruangan Jupiter, sepi tak nampak ada orang yang duduk di kursi kebesarannya. Sampai akhirnya pandangan Theolla tertuju pada seseorang yang berdiri menghadap jendela besar, membelakanginya. Satu tangannya masuk kedalam saku celananya.
DEG
Perasaan Theolla semakin tidak karuan melihat sosok Jupiter yang berdiri membelakanginya. Dengan segala keberanian yang ada, Theolla membuka suaranya.
"Permisi pak..!!"
Jupiter masih tidak bergeming, suasana canggung itupun kembali terjadi.
"Maaf pak saya perwakilan dari Galaxy Bimasakti, ingin membahas kontrak kerja....." belum ucapan Theolla selesai Jupiter langsung membalikan badannya.
"Berhenti bicara formal terhadapku Theolla...!!" ucap Jupiter dingin, matanya menatap tajam kearah Theolla membuat Theolla buru-buru menundukan pandangannya. Jupiter langsung berjalan mendekat kearah Theolla.
"Berhenti seolah-seolah kamu tidak mengenaliku Theolla...!!" kini Jupiter sudah berdiri berhadapan dengan Theolla, di pandangnya sosok wanita yang selama sepuluh tahun ini dia rindukan. Tidak banyak yang berubah, rambut panjangnya masih sama seperti dulu wajahnya semakin cantik dan lebih terlihat dewasa.
__ADS_1
"Ma-maaf...!!" hanya satu kata itu yang lolos dari bibir Theolla. Theolla semakin menunduk melihat Jupiter yang menatapnya dengan intens.
Namun Jupiter langsung meraih dagu Theolla agar menatap kearahnya "tatap mataku, jangan pernah menghindar lagi dariku...!!" ancamnya.
Satu bulir air mata lolos dari kedua bola matanya, buru-buru Theolla mengusap dengan jari telunjuknya. Sementara Jupiter masih menatap Theolla tanpa berkedip.
Satu tangannya refleks membelai pipi Theolla yang sudah basah dengan air mata dan Jupiter langsung membawa Theolla kedalam dekapannya. Membuat Theolla semakin terisak di dalam pelukan Jupiter.
Jupiter membelai rambut panjang Theolla untuk menenangkannya "sudah jangan menangis lagi La...!!"
"Maaf...!!" cicit Theolla.
"Sssttt...!!" Jupiter langsung menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Theolla.
"Sudah berapa kali kamu mengatakan kata maaf padaku,"
"Aku memang seharusnya minta maaf padamu kan?" setelah suasana sedikit mencair kini Theolla berani menatap wajah Jupiter.
Dan Jupiter langsung menangkup kedua pipi Theolla dengan tangannya "Iya memang itu yang harus kamu lakukan, dan memberiku penjelasan kenapa kamu dulu pergi begitu saja dari kehidupanku."
Theolla langsung menganggukan kepalanya, lalu Jupiter membawa Theolla duduk di sebuah sofa bersebelahan dengannya.
"Bagaimana dengan kontraknya?"
"Jadi menurut kamu kontrak itu lebih penting, dari pada aku?"
Theolla menunduk malu-malu melihat Jupiter yang terus menatapnya "dua-duanya penting buatku..!!"
Jupiter langsung menggenggam tangan Theolla, dan merasakan sesuatu yang aneh di jari Theolla. Sontak Jupiter menurunkan pandangannya dan melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis Theolla.
"Kamu sudah menikah La??"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like,vote dan koment makasih genks๐๐