Twins Boy

Twins Boy
Season 2 - Bebek goreng


__ADS_3

"Jadi sekarang Vano udah kelas berapa?" tanya Jupiter di sela-sela makan nasi bebeknya.


"Kelas delapan om.."


"Oh...kalau Darrel?"


"Sepertinya om tahu banyak ya sama keluargaku sampe kenal kak Darrel juga?" selidik Vano dengan tatapan tajam. Jupiter hanya mengusap tengkuknya melihat ekspresi Vano.


"Deeekk...!!" Theolla memperingati adiknya agar berbicara lebih sopan pada Jupiter.


"Maafin Vano ya...dia memang orangnya seperti itu kalau sama orang yang baru dikenal." tutur Theolla. Jupiter hanya tersenyum menanggapi sementara Vano asyik menyantap hidangannya. Mario yang menjadi penonton hanya geleng-geleng kepala menyaksikan drama kecil di depannya.


"Kalian kok bisa ada di Surabaya, sedang ada urusan apa?" tanya Theolla akhirnya.


"Kita akan melakukan sidak tahunan di beberapa kantor cabang di daerah Jawa Timur bu." jawab Mario menjelaskan.


"Oh gitu ya....bisa gak pak Mario panggil saya nama saja, kalau kita berada di luar lingkungan pekerjaan..!!" pinta Theolla.


Mario nampak berpikir, sedikit canggung juga karena selama ini mereka tidak terlalu akrab "Akan saya usahkan bu..!!"


"Tuh kan ibu lagi manggilnya." cebik Theolla.


"Iya Theolla." ujar Mario.


"Anda juga bisa manggil saya Mario saja jika sedang di luar..!!" tambah Mario lagi.


"Ehemmmm...!!" tiba-tiba Jupiter berdehem keras mendengarkan obrolan Theolla dan Mario.


"Sorry bos...gue gak ada maksud kok." ucap Mario dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak enak hati. Sementara Jupiter tetap santai menikmati makannya, sambil sesekali tersenyum kearah Theolla.


"Hey om...kalau lagi makan tuh jangan sambil senyum-senyum nanti kesedak tau rasa loh..!!" tiba-tiba Vano memberi ultimatum langsung pada Jupiter.


"Dari tadi Vano lihatin si om makannya sambil senyum-senyum lihatin kak Olla, asal om tahu ya kak Olla itu bentar lagi mau nikah jadi om jangan macam-macam ya sama kak Olla."


Eh..!! Jupiter,Theolla dan Mario melongo kaget mendengar penuturan Vano.


"Vano...kakak gak suka ya kamu ngomong gitu sama temen kakak!!" bentak Theolla.


"Udah gak pa-pa La...Vano gak salah kok ngomong gitu."


"Maafin Vano ya...!!"


Jupiter pun mengangguk dan tersenyum lembut kearah Theolla. Selanjutnya mereka berempat melanjutkan kembali acara makan malamnya, sambil sesekali di selingi obrolan ringan.


"Makasih loh buat traktirannya..!!" ujar Theolla ketika mereka tiba di parkiran, setelah tadi Jupiter membayar seluruh makanannya termasuk tiga porsi bebek goreng yang di bawa pulang oleh Theolla.


"Iya La...rumah kamu dari sini jauh?"


"Deket kok...lima belas menit juga sampai, lain kali kalian mampir ya kerumahku...!!"

__ADS_1


"Iya nanti kalau urusan kita sudah selesai...kita usahain mampir ya." ucap Jupiter.


"Kak Olla....buruan....kak!!" tiba-tiba Vano berteriak dari dalam mobil menyuruh Theolla segera masuk.


"Aku duluan ya...!!" Theolla melambaikan tangannya pada Jupiter, di balas lambain juga oleh Jupiter sampai mobil Theolla berlalu dari hadapan mereka.


"Lihatin teruus...sampe lupa kedip." goda Mario.


"Siialll lo...!!" selanjutnya Jupiter dan Mario juga memasuki mobilnya.


*****


Setelah sampai di depan gerbang rumahnya Theolla langsung memasukan mobilnya menuju carport. Vano turun lebih dulu di susul Theolla dari belakang, sesampainya di dalam rumah terlihat mamah dan papahnya yang duduk di ruang keluarga sedang menonton televisi.


"Lama banget sih kak, beli bebek doang juga, aku udah laper banget ini..!!" tiba-tiba Darrel datang dari arah dapur, mengelus-elus perutnya.


"Maaf ya dek...tadi kita makan disana dulu gak dibawa pulang." Theolla lalu menyerahkan bungkusan makanannya pada Darrel yang sudah menggerutu kesal. Lalu dibawanya bungkusan itu menuju meja makan.


"Tadi waktu lagi beli bebek goreng ketemu sama temennya kak Olla mah, jadi kita makan di sana bareng mereka." ucap Vano lalu duduk di antara Mona dan Bima.


"Oh ya siapa tuh sayang??" tanya Mona penasaran.


"Gak tahu siapa namanya, tapi om itu tahu aku sejak kecil terus nanya-nanya kak Darrel juga."


Mona dan Bima lalu melirik kearah Theolla yang baru ikut gabung dengan mereka.


"Siapa nak yang kamu temui barusan?" kali ini Bima yang melontarkan pertanyaan pada Theolla.


"Yakin cuma temen, kok tahu adik-adik kamu lagi kecil?" selidik Mona.


"Mamah sama papah pernah ketemu dia dua kali waktu di Singapura."


"Siapa sih sayang, jangan bikin kita penasaran?"


"Jupiter." ucap Theolla pelan.


Mona menutup mulutnya tidak percaya, sementara Bima hanya mengernyitkan dahinya. Theolla tidak mau ambil pusing dengan sikap kedua orang tuanya.


"Jupiter mantan kamu kan sayang?"


"Gak usah di perjelas gitu mah." Mona hanya tersenyum melihat ekspresi Theolla.


"Oh jadi om yang tadi itu mantan pacarnya kak Olla." sungut Vano yang diam-diam mencuri dengar pembicaraan ketiga orang dewasa itu.


"Mamah kok jadi khawatir ya nak, kamu ketemu sama dia lagi."


"Sekarang hubungan kami hanya sebatas rekan kerja mah, jadi gak ada yang perlu di khawatirin."


"Terus untuk apa dia berada di Surabaya, bukannya kamu bilang dia ada di Jakarta?"

__ADS_1


"Lagi ada kerjaan disini, mamah lupa dia pemilik PT. Widjaya grup cabangnya kan ada juga di Surabaya."


Mona hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Theolla.


"Jika dia ada di Surabaya lain kamu ajakin dia makan malam di rumah kita, bagaimana pun juga sekarang dia sudah jadi rekan bisnis perusahaan kita." usul Bima.


"Iya pah...lain kali kalau dia udah gak sibuk." Padahal sebenarnya Theolla merasa canggung jika harus mempertemukan Jupiter dengan kedua orangtuanya. Bagaimana pun juga di masalalu mereka pernah mempunyai hubungan yang rumit.


"Yang lalu biarlah menjadi kenangan nak, papah gak akan ungkit tentang masa lalu kalian dulu jika dia bersedia datang kesini, papah hanya ingin mengucapkan terima kasih karena dia bersedia bekerja sama dengan perusahaan kita."


"Iya mamah juga setuju sayang..!!"


"Gak semudah itu mah..pah." ucap Theolla dalam hati.


"Baik nanti aku usahain ya buat ngajakin dia kesini."


"Nak Raka kemana saja ya...sudah lama dia tidak main kerumah ini?" tanya Mona.


Theolla hanya mengangkat bahunya pelan, karena semenjak kejadian di kantor sore itu Raka tidak pernah datang mengganggu dirinya lagi.


"Mungkin dia sibuk mah, namanya juga pengusaha." jawab Bima.


"Paling sibuk keluar masuk club malam." ujar Theolla.


"Theolla gak boleh ngomong gitu..!!" seru Mona.


"Kenyataannya kan seperti itu mah, dia masih juga belum berubah, bagaimana nanti aku harus menjalani hidup dengan orang seperti itu."


"Ya itu tugas kamu sayang untuk menyadarkan dia jika besok kalian sudah menikah." ucap Mona.


"Maafin kita ya nak...kamu harus terjebak menikah dengan Raka, meskipun kamu tidak memiliki perasaan sama dia, kalau tidak ingat dengan jasa-jasa orangtuanya dulu kita juga tidak akan menyerahkan kamu sama Raka."


Mendengar ucapan Bima membuat Theolla terharu, dia lalu menghampiri papahnya dan memeluk erat "papah gak usah khawatir, aku pasti baik-baik saja."


"Mah...Pah...kalian gak makan malam dulu?" seru Darrel dari arah meja makan.


"Ah iya...kita melupakan makan malam kita gara-gara keasyikan ngobrol...ayo pah!!" ajak Mona.


"Kita makan dulu ya sayang...!!" Lalu Bima dan Mona pun berlalu dari hadapan Theolla.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih genks๐Ÿ™๐Ÿ˜


__ADS_2