
Sang surya mulai menampakan sinarnya, menyambut pagi yang sangat cerah. Hiruk pikuk kendaraan bermotor mulai terlihat di sepanjang jalan. Para pencari nafkah mulai berebut menyongsong rejeki di pagi hari. Jalanan yang macet seolah sudah terbiasa setiap hari di ibukota.
Jupiter masih terjebak macet di perjalanan menuju kantornya, supir yang biasa membawa mobilnya hari ini ijin tidak masuk, dikarenakan anaknya tengah sakit. Jadilah Jupiter kini membawa mobilnya seorang diri, biasanya Mario yang akan menggantikannya tapi hari ini Mario berangkat lebih cepat.
Begitu melihat Jupiter datang, semua karyawannya langsung menunduk memberikan hormat pada Jupiter. Dia melewati beberapa karyawan menuju lift untuk sampai di gedung tertinggi perusahaannya.
Dari kejauhan Jupiter bisa melihat Sandra dan Mario yang duduk di mejanya masing-masing, mereka langsung berdiri menyambut kedatangan Jupiter.
"Selamat pagi pak...!!" sapa Sandra. Jupiter hanya mengangguk dan menoleh kearah Mario
"Mario, apa Dimas sudah datang?"
"Sudah dari tadi pak, saya sudah tunjukan ruangannya pada pak Dimas."
"Baguslah kalau begitu, apa jadwal saya hari ini?"
"Jam 10 nanti kita ada meeting bersama klien dihotel Kencana, setelah makan siang kita lanjut meeting lagi jam 1 bersama para pemegang saham." tutur Mario menjelaskan.
"Ok, Sandra siapkan semua keperluannya untuk meeting nanti...!!"
"Baik pak..!!" ucap Sandra.
Jupiter pun berlalu memasuki ruangannya dan selanjutnya Jupiter pun sibuk dengan setumpuk dokumen di meja kerjanya.
****
Sementara itu ditempat lain Theolla tengah sibuk menggambar untuk pembangunan hotel di Bali. Hasilnya akan dia persentasikan ketika bertemu dengan kliennya yang di Jakarta. Sebagai kepala arsitek sekaligus wakil direktur Theolla mempunyai tanggung jawab lebih pada perusahaan yang di bangun oleh papahnya.
Tak lama kemudian Bella asisten pribadinya masuk menghampiri Theolla.
"Kenapa Bella?"
"Maaf bu saya sudah mendapat informasi dari klien yang di Jakarta, mereka ingin secepatnya melihat rancangan hotel yang kita buat."
"Baiklah persiapkan tim design agar bekerja lebih giat lagi, lusa kita berangkat ke Jakarta untuk presentasi."
"Baik bu...!!" Bella pun pamit undur diri dari hadapan Theolla.
Selang beberapa menit ruangannya kembali terbuka, kali ini bukan Bella yang masuk tapi Raka tunangannya. Theolla hanya melirik sebentar dan menatap malas pada Raka. Tanpa di persilahkan Raka pun duduk di hadapan Theolla.
"Apa kamu sesibuk itu, tunanganmu datang tidak disambut dengan baik?" tanya Raka menggoda Theolla.
__ADS_1
"Kelihatannya gimana?" jawab Theolla cuek.
"Sudahlah buat apa kamu capek-capek kerja, toh setelah kita menikah kamu harus berhenti bekerja dan ikut aku ke Jerman."
Mendengar ucapan Raka, Theolla hanya mendengus sebal dan menatapnya tajam, dia kemudian melanjutkan kembali kerjaannya.
"Kita sudah setahun tidak bertemu, apa seperti ini penyambutan kamu ke aku La?"
Theolla menghentikan sejenak pekerjaannya dan menatap Raka dengan tatapan mengintimidasi "mau kamu apa Ka?
Rakapun tersenyum karena akhirnya Theolla menghentikan pekerjaannya "kita makan siang terlebih dahulu, baru kita ngobrol-ngobrol untuk membahas pernikahan kita."
"Ini belum waktunya istirahat, dan kamu lihat pekerjaanku sangat banyak, kamu hanya membuang-buang waktuku saja." sahut Theolla kesal.
"Kamu kan anak pemilik perusahaan sekaligus wakil direktur disini, untuk apa nunggu jam istirahat ayolah beib...!!" Raka meraih tangan Theolla mencoba merayunya, namun dengan cepat Theolla menepisnya.
"Jangan sentuh aku seenaknya...!!"tegas Theolla pada Raka.
Raka hanya tertawa melihat penolakan Theolla "kamu itu tunanganku La, masa pegang tangan aja gak boleh dan harus kamu ingat sebentar lagi kamu jadi istri aku."
"Kamu tahu kan, dari awal kita bertunangan aku gak ada perasaan apapun sama kamu, kalau bukan karena orangtua kita, dan orangtua ku yang mempunyai hutang budi sama keluargamu aku gak akan mau berada di posisi saat ini." ucap Theolla kesal.
"Theolla...Theolla mau sampai kapan kamu nolak aku? ingat dua bulan lagi kita menikah dan kamu akan menjadi milikku seutuhnya." ucap Raka dengan tersenyum sinis.
"Inget ya La urusan kita belum selesai, kamu akan menyesal karena sudah mengabaikanku."
"Silahkan keluar dan disebelah sana pintunya...!!" Theolla menunjuk kearah pintu mengusir Raka secara halus. Dan Raka pun keluar dengan perasaan kesal.
"Untung cantik, kalau nggak dari dulu juga gak mau di jodohin sama dia." gumam Raka sambil membanting pintunya dengan keras.
Setelah Raka keluar, Theolla menghela nafas panjang dia lalu menyenderkan punggung nya pada kursi. Theolla memijit keningnya perlahan, sungguh kedatangan Raka membuat moodnya jelek hari ini. Padahal rancangan dia masih banyak yang belum di selesaikan.
Di malam sebelumnya, kedua orangtua Raka dan Theolla sudah menentukan tanggal pernikahan buat mereka. Theolla sudah pasrah jika harus menjadi istri dari seorang Raka Arya Wiguna, putra tunggal dari seorang pengusaha properti sukses di Surabaya.
Bukan tanpa alasan kenapa Theolla tidak bisa membuka hatinya pada Raka, di umurnya yang sudah menginjak usia 30 tahun Raka masih suka berfoya-foya dan menghabiskan uang orangtuanya. Dia tidak pernah serius dalam urusan pekerjaan.
Sampai akhirnya orangtuanya Raka, menyuruh Raka untuk menetap di Jerman dan mengelola usaha yang disana. Tujuannya adalah agar Raka bisa lebih bertanggung jawab dan mandiri jika kelak menikah dengan Theolla. Dan setahun sudah Raka menetap di Jerman, membuat Theolla sedikit tenang berjauhan dengannya.
Theolla agak keberatan jika setelah menikah nanti dia harus menetap di Jerman, dia tidak rela harus berpisah jauh dengan orangtua dan kedua adiknya. Itulah sebabnya Theolla tidak terlalu semangat menyambut pernikahannya.
Theolla memencet teleponnya yang tersambung ke meja Bella "Bella buatkan saya satu gelas kopi mochachinno..!!" ucap Theolla pada asisten pribadinya.
__ADS_1
"Baik bu..!!" ucap Bella.
Selang beberapa menit Bella pun datang membawa pesanan Theolla. Dia pun langsung meletakannya di meja tepat di hadapan Theolla.
"Apa Raka sudah keluar Bel?"
"Sudah daritadi bu..!!"
"Ya sudah duduk sini, temani saya ngobrol." Theolla menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya, agar Bella ikut duduk di sofa yang kini Theolla duduki. Dan Bella pun menuruti keinginan Theolla.
"Lain kali kalau Raka datang jangan biarkan dia masuk ya...!!"
"Tapi bu, pak Raka kan tunangan ibu saya gak enak kalau menghalanginya."
"Sudahlah kamu turuti perintah saya, gara-gara kedatangan dia mood saya jadi jelek."
"Kamu tahu kan dari awal saya gak suka sama Raka..?" lanjut Theolla lagi.
"Maaf bu, memangnya kenapa ibu tidak menyukai pak Raka dia kan orangnya Ganteng dan kaya loh bu??" tanya Bella to the point.
Theolla tersenyum mendengar ucapan Bella "ganteng dan kaya aja gak cukup Bel buat menarik hati saya."
"Oh ya.. memang kriteria cowok idaman ibu seperti apa, maaf ya bu selama saya bekerja sama ibu saya belum pernah melihat ibu sama cowok kecuali pak Raka ini."
"Hahaha...!!" tiba-tiba Theolla tertawa mendengar penuturan Bella.
"Kok malah ketawa sih bu?" ucap Bella kecewa karena tidak mendapatkan jawaban nya.
"Sudah kamu balik ke mejamu sana, nanti temani saya makan siang di luar ya Bel...!!"
"Siap bu...!!" Bella pun mengangkat tangannya membentuk tanda hormat dan tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Theolla.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasihh genks๐๐