Twins Boy

Twins Boy
Season 2- Kedai kopi


__ADS_3

Venus menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa yang terdapat di ruangan Jupiter. Dia lalu memejamkan matanya sekilas, sebelum akhirnya Jupiter sudah duduk di hadapannya di sofa yang berbeda.


Setelah dua jam menghabiskan waktu di ruang meeting, kepala Venus terasa penat dia butuh penyegaran agar membuat tubuhnya kembali fit.


"Lo gak balik ke kantor?" pertanyaan dari Jupiter, refleks membuat Venus menegakkan kembali tubuhnya dan hanya bersandar pada punggung sofa.


"Kayaknya gue langsung balik deh,lemes banget gue hari ini."


"Kenapa lemes?gak dapet jatah lo ya..?" ledek Jupiter, sontak membuat Venus membelalakan matanya.


Venus tersenyum mengejek "mana ngerti lo yang kayak gituan."


"Eits..jangan sembarangan ilmu pengetahuan gue luas, tinggal prakteknya aja yang belum gue lakuin."


Mendengar perkataan Jupiter sontak membuat Venus mencondongkan badannya kearah Jupiter "jangan macem-macem lo sebelum adanya pernikahan."


"Hahahaha....!!" tiba-tiba Jupiter tertawa keras.


"Heh..lo pikir gue orang yang seperti itu, sorry ya gue bukan tipe orang yang suka jajan di luar." lanjut Jupiter lagi.


"Makanya cepetan lo nikah, biar tahu gimana rasanya...!!"


Ceklek!!


Tiba-tiba pintu terbuka masuklah Mario membawa beberapa dokumen.


"Ini laporan hasil rapat tadi, mau saya simpan di mana pak?"


"Simpan di meja kerja saya yo..!!" lalu Mario pun berjalan menuju meja kerja Jupiter. Sebelum Mario meninggalkan kedua bersaudara yang sedang berbincang itu, Jupiterpun menghentikan langkahnya.


"Yo tolong kamu panggil manajer pemasaran yang baru, suruh dia keruangan saya sekarang..!!"


"Baik pak..!!" setelah Mario keluar Jupiter kembali berbincang dengan Venus.


"Gue mau ngasih lo kejutan hari ini,"


Alis Venus berkerut dalam mendengar ucapan Jupiter "kejutan apa?"


"Nanti lo lihat aja sendiri, kalau gue ngomong sekarang namanya bukan kejutan donk."


"Lo bukan orang yang romantis yang bisa ngasih gue kejutan."


"Emang setiap kejutan itu harus romantis ya?"


"Ya biasanya seperti itu." Jupiter hanya mencebik mendengar penuturan saudara kembarnya.


"Terlalu lebay lo..!!" cibir Jupiter.


Tok tok tok..!!

__ADS_1


"Masuk...!!" sahut Jupiter dari dalam.


Pintu ruangan Jupiter pun terbuka, Dimas masuk ragu-ragu begitu melihat di ruangannya sedang ada tamu.


"Anda memanggil saya pak..!!" tanya Dimas masih berdiri di depan pintu.


"Iya kemarilah...!!"


Dimas berjalan mendekat kearah Jupiter dan Venus, karena posisi Venus yang membelakangi pintu dia jadi tidak tahu siapa orang yang berdiri di belakangnya.


"Lo lihat tuh siapa yang berdiri dibelakang lo..!!" ucap Jupiter pada Venus, meski bingung Venuspun langsung menoleh kebelakang. Matanya membelalak tak percaya melihat sahabat lamanya berdiri disitu.


"Dimaasss...!!" teriak Venus heboh, dia langsung menghampiri Dimas dan memeluknya erat. Kedua sahabat yang sudah lama tak bertemu pun sejenak melepas rindu mereka, setelah puas mereka melepas pelukannya. Dimas pun mengikuti Venus duduk disampingnya.


"Apa kabar lo?kenapa bisa ada disini?" tanya Venus, ekor matanya menatap Jupiter yang sedang tertawa melihat tingkah mereka berdua.


"Gue kerja di sini, emm...maksudnya saya bekerja di perusahaan ini pak Venus." Dimas keceplosan dan meralat ucapannya.


"Heiii....jangan bicara formal seperti itu gue geli denger nya, disini gak ada orang selain kita bertiga jadi kita nyantai aja ngomongnya."


"Bener Dim apa kata Venus, gue anggap hari ini kita sedang berada diluar jam kantor." tambah Jupiter.


"Lo seriusan kerja disini, sejak kapan?kok gue gak pernah lihat lo kalau kesini?" tanya Venus penasaran.


"Baru tiga hari gue kerja disini, gue juga gak nyangka ternyata melamar di perusahaan kalian."


"Jadi dia manajer pemasaran yang baru?" tanya Venus meminta jawaban pada Jupiter.


"Hebat lo...!!" Venus menepuk-nepuk bahu Dimas.


"Masih hebat lo lah jadi wakil direktur..!!" kekeh Dimas.


"Sudah-sudah kita ngopi dulu yuk..kayaknya kita harus mengenang masa remaja kita dulu." ajak Jupiter. Venus pun menyetujui ajakan saudara kembarnya.


"Tapi kerjaan gue belum selesai bos..!!" Dimas agak sedikit keberatan.


"Suruh sekertaris lo yang beresin, bentar lagi juga jam pulang kantor berakhir." Mendengar perintah dari atasan nya membuat Dimas tidak bisa menolak, dia pun menuruti kemauan bosnya.


*****


Disinilah mereka berada disebuah Kedai Kopi langganan mereka dulu, tak banyak berubah pada tempat itu meski waktu sudah berlalu beberapa tahun. Hanya tempatnya kini yang lebih besar dan lebih rame dari biasanya.


"Gilaa gak nyangka gue bisa ketempat ini lagi, kangen banget gue sama kopi favorit gue. " ujar Dimas antusias. Mereka bertiga memilih duduk di tempat yang biasa mereka tempati dulu. Mereka bertiga langsung memilih menu sesuai selera masing-masing.


"Tempatnya gak banyak berubah ya," ucap Jupiter.


"Emang lo gak pernah kesini lagi?" tanya Dimas.


"Sepulang gue dari New York gue belum pernah ngopi disini lagi, entahlah tiap kali ke tempat ini bawaannya gue inget sama dia yang suka duduk disebelah gue." Jupiter menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya.

__ADS_1


"Mulai lagi lo, gimana bisa move on kalau lo selalu mengenang hal kecil bersama Theolla." cibir Venus.


"Sudahlah ganti topik, kita gak perlu ngomongin cewek yang udah jadi masalalu kita." tutur Dimas mengingatkan.


"KITAA..? lo aja kali berdua gue nggak ya, kisah gue gak semenyedihkan kalian berdua gue berakhir di pelaminan."ucap Venus bangga, membuat Jupiter dan Dimas mencibir. Percakapan mereka terhenti setelah seorang pelayan mengantar pesanannya.


"Makasih ya mbak..!!" ucap Dimas ramah. Pelayan itu hanya mengangguk dan berlalu dari meja mereka, tapi mata Dimas tidak henti menatap pelayan tersebut sampai hilang dari pandangannya.


"Hmmm.. lihat yang bening dikit aja langsung ngeces pantes si Raisa gak tahan sama lo," sindir Venus.


"Heh, bukan Raisa yang gak tahan sama gue tapi gue nya yang mundur alon-alon dari dia." kekeh Dimas menirukan syair dari sebuah lagu.


"Tapi pelayan yang tadi oke sih cantik....." ucap Jupiter.


"Nah kan Jupiter aja tahu mana yang cakep..!!"


"Tapi sayang dia waiters..!!" tambah Jupiter lagi. Sontak Venus tertawa melihat ekspresi Dimas selanjutnya.


"Kalau cinta seharusnya tidak mengenal kasta dan perbedaan," bela Dimas.


"Omongan lo kejauhan bambank...!!" sahut Venus.


"Heyyy....itu bukan panggilan gue, noh si Rendi."


"Ngomong-ngomong si Rendi apa kabar ya...gue semenjak balik ke Indonesia gak tahu kabar dia?" tanya Jupiter penasaran.


"Iyalah lo gak bakal tahu orang kerja lo cuma sebatas dari apartemen-kantor,balik lagi kantor-apartemen, kali-kali mampirlah ke tempat praktek si Rendi di rumahsakit." tutur Venus.


"HEH..buat apa gue ke rumah sakit, gue bukan orang yang penyakitan ya." sahut Jupiter.


"Jadi si Rendi sekarang udah jadi dokter beneran?" kali ini Dimas yang mengajukan pertanyaannya.


"Iya dia udah jadi dokter spesialis bedah di rumah sakit keluarganya." jawab Venus, yang memang selama ini hanya dia yang masih berkomunikasi dengan Rendi.


"WAAAWW....!!" ucap Jupiter dan Dimas bebarengan.


"Sepertinya lo kalah selangkah dari si Rendi," kekeh Jupiter pada Dimas.


"Biasa aja gue...!!" cibir Dimas.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment ya genks makasih🙏😘


__ADS_2