
Hujan lebat sore itu tengah melanda ibu kota, sebagian penduduknya lebih memilih berdiam diri di dalam rumah, mencari kehangatan daripada harus berjibaku dengan udara dingin. Theolla yang sore itu masih menunggu kedatangan Jupiter, duduk termangu di atas sofa. Televisi menjadi temannya untuk mengusir sepi di kala Jupiter masih di kantor.
Setengah jam yang lalu Jupiter sudah mengabarinya jika dia akan telat pulang kerumah. Disamping ada pekerjaan mendadak, hujan yang melanda sore itu membuat jalanan yang di lalui Jupiter terjebak macet. Sehingga menjelang magrib Jupiter baru tiba di Apartemen.
Hal pertama yang di lihat saat dia membuka pintu apartemen, Theolla tertidur meringkuk di atas sofa. Jupiter tersenyum melihat Theolla lalu dengan segera menghampirinya. Di kecupnya puncak kepala Theolla lalu dibelainya rambut indah itu. Theolla menggeliat merasakan sentuhan Jupiter.
"Kamu udah pulang yank?" Theolla langsung terbangun dan duduk menghadap Jupiter.
"Baru aja pulang kok. Kamu ngapain bangun terusin lagi tidurnya."
"Magrib yank pamali gak boleh tidur jam segitu, apalagi aku sedang hamil."
"Terus aku pulang kenapa kamu malah tidur sayang?" Jupiter menggeleng penuh keheranan.
"Ketiduran yank...lain lagi itu ceritanya. Mau aku ambilin minum?"
"Boleh deh...teh anget ya sayang!!"
"Ya udah tunggu bentar ya, mau sekalian makan malam biar aku siapin?"
"Ntar aja makannya, aku bersih-bersih dulu."
Theolla berlalu dari hadapan Jupiter menuju pantry. Dia langsung membuat teh yang di inginkan suaminya. Beberapa menit kemudian teh pun sudah siap di hidangkan.
"Di minum dulu selagi masih anget..!!"
"Makasih ya sayang." Jupiter langsung menyeruput teh buatan Theolla.
"Gimana kerjaan di kantor?"
"Lancar sayang, kamu sendiri kapan akan berhenti bekerja?Inget kehamilan kamu tiap hari tambah besar."
"Mungkin bulan depan aku akan mengajukan cuti sampai Darel siap menggantikan aku, untuk saat ini aku masih ingin bantuin papah toh aku kerja di rumah ini tidak terlalu cape."
"Baiklah terserah kamu, tapi benar ya bulan depan kamu harus cuti jika perlu kamu resign saja aku masih sanggup biayain kamu dan anak kita nanti."
"Iya suamiku."
"Ya udah aku mandi dulu!! habis itu kita makan malam bareng." Jupiter berlalu menuju kamar di atas sementara Theolla segera mempersiapkan makan malam.
__ADS_1
*****
Udara semakin larut, hawa dingin kini terasa menusuk pasca di guyur hujan lebat. Sebagian penduduk sudah terlelap menuju alam mimpi, begitupun dengan kedua anak manusia yang saling memberi kehangatan di atas kasur.
Theolla tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dia lihat Jupiter memeluk tubuhnya erat. Di usapnya pipi Jupiter, tapi sedikit pun dia tidak bergeming.
"Sayang...!!" Theolla mencoba membangunkan Jupiter, tapi tidak ada respon. Jupiter begitu terlelap dengan tidurnya.
"Yank...!!" kali ini Theolla mengguncang tubuh Jupiter, usahanya berhasil Jupiter langsung mengerjap dan melihat sang istri yang duduk sila di sampingnya.
"Kenapa sayang?" Jupiter ikut bangun dan menatap Theolla heran.
"Aku laper..!!" cicitnya.
"Kamu mau makan lagi? ya udah aku ambilin ya...!!" Jupiter hendak turun dari atas kasur tapi Theolla malah menarik kaosnya.
"Kenapa?"
"Aku gak mau makan nasi."
"Ya terus? orang laper ya makan sayang...!!"
"Lalu?"
"Aku pengen makan martabak manis rasa cokelat pisang keju kismis ditaburi wijen."
"APA??" Jupiter shock mendengar permintaan aneh Theolla di tengah malam seperti ini, biasanya selama tiga bulan kehamilannya Theolla jarang meminta yang aneh-aneh. Paling-paling jika terbangun tengah malam dia hanya minta di buatkan spaghetti atau susu.
Jupiter melirik dinding kamarnya. Sudah jam satu malam apa mungkin selarut ini masih ada tukang martabak yang buka.
"Tapi sayang ini udah tengah malam mana ada tukang martabak yang buka, di kulkas bukannya ada cake yang tadi aku beli biar aku ambilin ya."
"Gak mau cake. Aku maunya martabak, ini juga anak kamu yang kepengen masa kamu tega membiarkan aku sepanjang malam kelaperan." cebik Theolla dengan tangan yang berlipat di dada persis anak SD yang tengah merajuk.
Kalau sudah seperti itu Jupiter gak akan tega menolak istrinya yang tengah mengidam "baiklah sayang aku akan cariin martabak yang kamu minta."
"Nah gitu donk itu baru namanya suami siaga. Pantang pulang sebelum dapet !!"
"HAH??" lagi-lagi Jupiter melongo mendengar ucapan Theolla, apa katanya tadi pantang pulang sebelum dapet. Slogan macem apa kali tuh.
__ADS_1
"Buruan sana!! kenapa malah bengong."
"Iya sayang aku berangkat...kalau tukang martabaknya gak ada aku ganti makanan lain ya?"
"Aku bilang maunya martabak yank, gak mau yang lain."
"Baiklah." Jupiter turun dari kasurnya mengambil jaket dari dalam lemari, lalu meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
"Jangan lama-lama!!" sungutnya kesal.
"Iya ibu ratu." Jupiter buru-buru keluar dari kamarnya sebelum Theolla kembali mengomel.
****
Setelah muter-muter sekitar satu jam, akhirnya Jupiter menemukan kedai martabak yang buka 24jam atas bantuan mbah gugel. Dia langsung memesan martabak sesuai keinginan Theolla, martabak kombinasi rasa cokelat pisang keju kismis di taburi wijen.
Sesampainya di kamar yang dia lihat Theolla tidur pulas diatas kasur. Jupiter segera membangunkan istrinya itu.
"Martabak pesanan kamu udah dateng sayang..!!" Jupiter mengelus rambut Theolla membangunkannya.
"Aku ngantuk sayang." ucap Theolla tanpa membuka mata.
"Tadi bilangnya laper pengen martabak, itu udah aku beliin."
"Kamu kelamaan. Aku lapernya udah ilang buat kamu aja!!" Theolla menarik selimut menutupi tubuhnya sebatas dada, tanpa peduli dengan Jupiter yang sudah bela-belain keluar tengah malam.
"APA??" Jupiter langsung lemas mendengar ucapan Theolla.
.
.
.
.
wkwk sabar ya mas Jupiter, baru ngidam segitu masa udah loyo😁
Like, Vote, Koment dan rate 5🙏😍
__ADS_1