
Kurang dari 24jam lagi pernikahan Theolla akan segera di gelar, semua persiapan sudah selesai 99%. Tim WO yang di sewa khusus dalam pernikahan Theolla dan Raka mempersiapkan segala kekurangannya. Ballroom hotel Chandrakirana akan menjadi saksi janji suci antara Theolla dan Raka.
Theolla merenung di atas balkon kamarnya menatap jutaan bintang yang bersinar terang di langit. Tatapannya tertuju pada satu bintang yang lebih terang memancarkan cahayanya. Andai dia seperti bintang itu mungkin dia akan bahagia selalu menyinari kegelapan, tanpa ada rasa takut atau gundah yang kini dia rasa.
Suara para tetangga yang berkumpul di rumah Theolla terdengar jelas dari tempat Theolla berdiri. Setelah acara pengajian selesai setengah jam yang lalu, para tetangga itu asyik mengobrol dengan mamah dan papah Theolla. Sehingga Theolla memilih untuk masuk kedalam kamarnya.
Besok statusnya akan berubah menjadi seorang istri, apa dia siap menyandang sebagai istri dari orang yang belum dia cintai? apa dia bisa ikhlas....apa takdir memang tidak pernah berpihak pada dirinya. Jangan salahkan takdir, salahkan saja dirinya yang tidak ingin memperjuangkan cintanya.
"Theolla..."
Samar-samar terdengar suara seseorang yang memanggilnya dari luar kamar.
"Ya masuk saja!!" teriak Theolla.
Amanda memutar gagang pintu, dia tersenyum melihat sepupunya tengah berdiri di balkon.
"Kau di sini rupanya?"
"Iya Manda.....Ara mana??"
"Dia sudah tidur La...kamu baik-baik aja kan sepanjang pengajian tadi aku lihat wajah kamu sangat murung?"
Theolla tersenyum datar "wanita mana yang akan baik-baik saja jika dia menikah dengan pria yang tidak di cintainya."
Amanda mengusap lengan Theolla berulang kali "kau menyesal dengan keputusanmu?"
Theolla menggeleng lemah "aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku, tapi aku menyesal membuat hati seseorang yang jauh di sana terluka karena aku Manda." ucap Theolla dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
Amanda yang tidak tega langsung memeluk Theolla, membiarkan sepupunya menangis di pelukan dirinya.
"Ssst...udah gak boleh nangis La...mata kamu bisa bengkak besok pagi." Amanda mengusap jejak air mata di pipi Theolla.
"Tapi aku takut Manda."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut setelah menikah nanti aku gak bisa mencintai Raka, aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik karena masalalu ku."
"Buang jauh-jauh pikiran itu, aku yakin setelah menikah nanti kamu bisa melupakan Jupiter. Apalagi setelah Raka membawa kamu pergi jauh ke Jerman."
"Makasih ya Manda.."
"Iya....ya udah ayo kita masuk... angin malam gak baik loh buat calon pengantin seperti kamu, ingat besok adalah hari bahagia kamu."
"Bahagia itu bagi wanita yang akan menikah dengan pria yang di cintainya, tapi aku berbeda Manda." gumam Theolla dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu Theolla dan Amanda memasuki kamar Theolla. Rencananya malam ini Amanda akan menemani Theolla tidur sebelum dia resmi jadi seorang istri.
*****
Sementara itu seorang pria muda berjalan gontai memasuki sebuah club malam elit di pusat kota. Asistennya dengan setia menemani langkah bos sekaligus sahabatnya itu.
Malam ini Jupiter dan Mario harusnya berangkat ke Surabaya, bersama Venus dan Dimas untuk menghadiri undangan Theolla besok pagi. Tapi Jupiter memilih pergi ke club malam untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dengan setia Mario menemani Jupiter kemana pun dia pergi.
"Segelas lagi..!!!" ucap Jupiter pada Mario setengah sadar, daritadi dia terus saja meracau menyebut nama Theolla.
"Sudah bro ..lo udah mabok." Mario menarik gelas yang berisi minuman beralkohol itu, Jupiter jarang minum yang beralkohol dan sekalinya minum dia langsung mabuk parah. Karena gelasnya di rebut oleh Mario, dia lalu mengambil botol lain dan langsung menegaknya hingga habis. Sesekali Jupiter tertawa dan sesekali dia menangis memanggil nama Theolla.
Mario sangat iba melihat Jupiter yang seperti ini. Jelas sekali Jupiter terluka karena kehilangan Theolla. Cinta memang sangat rumit, itulah sebabnya Mario enggan berurusan dengan Cinta.
"Heiii lo tahu Theolla dimana? dia pergi ninggalin gue nikah sama cowok brengsek." ucap Jupiter menarik kerah baju seorang pria yang duduk di sebelahnya.
"Sorry bos...temen gue mabok." Mario merasa tidak enak hati dan langsung meminta maaf pada pria tersebut.
"Kalau gak bisa minum temen lo jangan di bawa kesini...!!" pria itu beranjak pergi dan menjauh dari Jupiter dan Mario.
"Gilaa lo..bikin gue susah aja sih!!" Jupiter sudah tertidur dengan berbantalkan lengannya. Dia langsung tidak sadarkan diri setelah menghabiskan beberapa botol red wine.
Mario bingung bagaimana membawa Jupiter sampai keparkiran mobil. Dia lalu menghabiskan minumannya yang tersisa setengah, pandangannya tertuju pada sosok wanita yang tengah bergoyang di lantai dansa. Dia meliuk-liuk memperlihatkan tubuhnya yang seksi. Mario menelan salivanya dengan kasar melihat tubuh seksi dan goyangannya yang erotis, bisa-bisanya tuh cewek tidak sadar dengan pandangan lapar para pria hidung belang.
Clara meronta mencoba melepaskan pegangan erat di lengannya. Dia tidak bisa melihat wajah pria yang menarik lengannya itu karena pencahayaan lampu yang remang-remang.
"Lo siapa sih???"
Mario langsung menghempaskan tangan Clara "Ini gue."
"Mario??" pekik Clara kaget.
"Kenapa?kaget lo lihat gue ada di sini."
"Iya....lo ngapain disini? sendirian?"
"Tuh...." Mario menunjuk Jupiter yang tidak sadarkan diri.
Clara nampak kaget tapi dia pura-pura tidak memperdulikan Jupiter. Pertemuan terakhirnya masih membekas dan itu sangat menyakitkan untuk Clara.
"Lo gak perduli sama Jupiter?"
"Buat apa....dia juga gak perduli sama gue." ucapnya acuh.
__ADS_1
"Oh iya gue lupa...terakhir bertemu Jupiter lo kan mewek-mewek ya sama dia...pasti di tolak lagi kan." ucap Mario tertawa lebar.
"Brissikk lo...!!"
"Jadi ngapain lo di sini dengan pakaian minim seperti itu?"
"Gue lagi ngadain pesta sama temen-temen gue, gue juga butuh hiburan kali."
"Dengan elo menari erotis di sana? itu yang kata lo hiburan?"
"Kenapa lo jadi bawel sih...suka-suka gue dong."
"Gue cuma kasian aja sama calon suami lo nanti, tubuh lo sudah di lihatin banyak orang."
"Maksud lo??" bentak Clara.
"Ya itu tadi lo joget-joget di situ para pria melihat tubuh lo dengan tatapan lapar..mau emang lo di sentuh-sentuh mereka?"
Clara mencebik kesal mendengar ucapan Mario "banyak omong lo...udah lah gue balik kesana lagi."
Baru Clara melangkahkan kakinya, Mario kembali menarik lengan Clara. Karena kehilangan keseimbangannya, tubuh Clara kini menempel di dada Mario. Refleks tangan Mario memegang pinggang Clara agar tidak terjatuh. Clara mematung menatap wajah Mario dari dekat.
"Lumayan juga nih anak." batin Clara.
"Cantik juga kalau di lihat-lihat." batin Mario.
Keduanya terpaku dengan tubuh yang menempel satu sama lain. Hembusan nafas Mario menerpa kulit wajah Clara, jarak mereka sudah semakin dekat dan dekat karena terbawa suasana. Refleks Clara memejamkan matanya dan....
Tuk !!!
"Ahhh..."
Clara memijit pelipisnya yang disentil oleh Mario.
"Kenapa lo merem? pasti lo ngira gue bakal cium lo ya?" goda Mario.
Clara merona malu mendengar ucapan Mario, kenapa dia bisa terjebak oleh akal-akalan Mario. Secepat mungkin Clara berlalu pergi dari hadapan Mario dan kembali bergabung dengan teman-temannya. Mario tertawa lebar karena berhasil menggoda Clara.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like,vote dan koment makasih🙏😍