
Theolla mengerjapkan matanya merasakan sinar mentari yang masuk lewat celah gorden kamarnya. Dia menguap dan masih merasa lelah setelah semalam tiba kerumah jam satu dinihari. Theolla tiba saat orang rumah sudah terlelap semua, dan di pastikan orangtuanya tidak tahu kalau Theolla sudah di rumah.
Turun dari ranjangnya Theolla bergegas masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.Dilihatnya jam sudah menunjukan angka delapan, setelah itu dia akan menemui kedua orangtuanya,biarlah hari ini dia tidak berangkat ke kantor dulu. Keluar dari mandi terdengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Sayang udah bangun belum?"
"Iya mah masuk!!"
Pintu terbuka masuklah Mona membawa nampan ditanganya, dia membawa sarapan untuk Theolla kedalam kamar dan diletakkannya di atas nakas.
"Sarapan dulu sayang!!"
"Makasih mah..." Theolla meraih gelas yang berisi susu lalu meneguknya hingga tersisa setengah.
"Mamah tahu sejak kapan aku sudah pulang??" tanya Theolla penasaran.
"Tadi pagi-pagi sekali nak Raka datang kesini, dia minta maaf sama mamah dan papah karena sudah bawa kamu pulang tengah malem."
"Oh...dia gak ngomong apa-apa kan sama mamah papah??"
Mona hanya tersenyum "sudah kamu sarapan dulu."
"Papah dan adek-adek masih dirumah gak??"
"Mereka sudah berangkat sayang, papah nyuruh kamu untuk istirahat dulu hari ini kebetulan sore nanti kamu dan Raka harus ke butik ya buat fitting baju pengantin."
"Harus sore ini ya mah??"
"Iya...kamu lupa pernikahan kamu tinggal sepuluh hari lagi...keasyikan sih jalan-jalan di Bali." goda Mona menatap putri satu-satunya.
"Apa sih aku ke Bali kerja ya mah."
"Iya mamah tahu kamu kerja...setelah itu kamu jalan sama Jupiter kan?"
"Raka ngadu sama mamah??"
"Raka hanya mengungkap kekhawatirannya sama mamah sayang....bagaimanapun dia itu calon suami kamu, pria mana yang gak akan marah melihat calon istrinya berpelukan dengan pria lain apalagi pria itu mantan pacarnya."
"Mah....ini semua gak seperti yang mamah pikirin, itu hanya pelukan perpisahan kami."
"Benarkah? bukan karena kalian masih saling sayang?"
Theolla hanya diam tidak menanggapi ucapan Mona.
"Apa yang selama ini mamah khawatirkan terjadi juga kan, jika papahmu sampai mendengar ini darah tingginya bisa kumat Theolla...untung saja nak Raka cerita sama mamah pas papah udah berangkat ke kantor."
__ADS_1
"Dasar tukang ngadu bilangnya gak bakal cerita sama kedua orangtuaku ini malah cerita ke mamah." umpat Theolla dalam hati.
"Mamah minta mulai dari sekarang kamu jangan berhubungan lagi dengan Jupiter meskipun itu urusan pekerjaan, biarlah asistenmu yang mengurus semuanya, kamu sekarang fokus untuk mempersiapkan pernikahanmu yang tinggal sebentar lagi." ucap mamah panjang lebar.
Theolla hanya mengangguk lemah.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya sayang...jangan lupa nanti sore nak Raka jemput kamu untuk pergi ke butik."
"Iya mah.."
Setelah itu Mona keluar dari kamar Theolla, membiarkan putrinya untuk beristirahat. Sementara jauh di dalam lubuk hatinya Theolla ingin memberontak, meluapkan segala asa yang selama ini di pendam. Bibirnya mungkin bisa berkata iya untuk melupakan Jupiter, tapi jauh di dalam lubuk hatinya nama Jupiter masih tersemat indah. Andai dia punya keberanian yang tinggi, mungkin dia akan berjuang bersama Jupiter agar cinta mereka bersatu kembali.
*****
Jupiter dan Mario mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat pukul 09.15 WIB. Mereka memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor, karena siang ini ada meeting penting yang harus di hadiri Jupiter. Supir kantor sudah menunggu kedatangan mereka berdua, untuk menjemput Jupiter dan Mario ke perusahaan.
Setelah satu jam berkendara, sampailah mereka berdua di kantor pusat PT.Widjaya Grup. Semua karyawan yang berpapasan dengannya menyambut kedatangan Direktur mereka yang beberapa hari ini tidak terlihat di kantor.
"Sandra tolong buatkan dua kopi pahit ya!!" ucap Mario ketika mereka berdua sampai di depan meja sekertaris direktur.
"Baik pak!!"
"Sebelumnya kau panggil dulu Venus agar menghadap keruangan saya!!" kali ini Jupiter yang buka suara.
"Baik pak!!"
"Semua pengerjaan proyek hotel di Bali sudah berjalan lima puluh persen, setelah ini kita mendapat proyek baru untuk membuat sebuah hunian bergaya klasik di daerah Bandung."
"Sudah kau pelajari proposalnya."
"Sudah...mungkin untuk proyek kali ini Theolla tidak bisa bergabung dengan kita asistennya yang akan menggantikan dia selama dia cuti sampai menikah."
"Baiklah kau atur pertemuan kita dengan klien dari Bandung itu."
Ceklek
Pintu ruangan terbuka masuklah Venus yang tersenyum lebar melihat kembarannya yang sudah tiba di Jakarta.
"Kenapa tuh muka?" pandangan pertama yang Venus lihat adalah wajah Jupiter yang masih terlihat memar. Dia lalu duduk di sofa yang sama dengan Jupiter sambil menyilangkan kakinya keatas.
Jupiter mendengus kesal melihat tatapan Venus yang seperti meledek dirinya.
"Kenapa Yo?" tidak kunjung mendapat jawaban dari Jupiter, Venus mengalihkan pertanyaan pada Mario.
"Habis gulat bro." jawab Mario. Seketika tawa Venus meledak.
__ADS_1
"Siall lo!!" umpat Jupiter.
"Gue kira lo ke Bali buat kerja tapi lo malah maen gulat...hahaha."
"Berhenti lo ngejekin gue...sialll...!!!"
"Berantem sama calon suaminya Theolla." ungkap Mario akhirnya.
"Emang lo apain Theolla sampe calon lakinya ngajakin berantem? ah gue tahu....pasti lo peluk dia terus lo cium-cium iya kaan?" tebak Venus untuk menggoda kembarannya.
"Brisssikkk lo...orang lagi patah hati bukannya di hibur ini malah di ejek."
"Salah lo sendiri deketin cewek yang udah mau nikah, kena batunya kan lo di hajar lakinya."
Jupiter tidak menanggapi ucapan Venus, karena dalam hal ini dirinya juga memang salah. Dia yang terang-terangan mendekati Theolla yang sudah bertunangan. Cinta memang buta, apapun di lakukan Jupiter agar tetap bisa bersama Theolla. Meskipun akhirnya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Bagaimana pertemuan dengan investor dari China?" tanya Jupiter mengalihkan pembahasan dirinya, karena memang untuk itu Jupiter memanggil Venus.
"Beres....lo gak usah khawatir klien kita sudah setuju untuk menginvestasikan sebagian sahamnya di perusahaan kita."
"Kerja bagus!!! selanjutnya tolong lo pantau proyek hotel yang di Sumbawa."
"Siap...gue sama Dimas akan ke lokasi besok lusa." ucap Venus.
"Mario...jangan lupa persiapkan proposal untuk meeting nanti siang!!"
"Baik kalau gitu saya pamit ke ruangan saya dulu.!!" setelah Mario berlalu dari ruangan Jupiter, kini tinggallah Venus dan Jupiter berdua.
"Jadi lo masih gak mau cerita apa yang terjadi antara lo, Theolla dan calon suaminya?"
"Buat apa gue cerita yang ada ntar lo ngetawain gue lagi."
"Kalau mau lo bisa berbagi masalah lo sama gue....oke brother... gue tunggu cerita dari lo!!" Venus beranjak dari duduknya dan menepuk punggung Jupiter.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment🙏😍
__ADS_1