
Venus melangkahkan kakinya menuju kantor pusat PT Widjaya Grup. Hari ini adalah hari pertama Venus bekerja di kantor pusat sebagai wakil direktur, setelah sebelumnya Venus memimpin kantor cabang. Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat menyambut salah satu anak dari pemilik perusahaan ini.
Venus berdiri di depan lift khusus para petinggi perusahaan, menunggu pintu lift terbuka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang berdiri disampingnya, saat Venus menoleh Jupiter tersenyum kearahnya.
"Baru datang?"
"Hmmm..." jawab Jupiter santai.
"Dimana Mario?"
"Masih diluar."
Triinggg...!!
Pintu lift terbuka, mereka berdua langsung masuk menuju lantai tertinggi.
"Untuk sementara jika lo butuh sesuatu, lo bisa hubungin Mario dulu, kita berbagi asisten ya sampai ada asisten yang cocok buat dampingin lo." ujar Jupiter.
Venus hanya menganggukan kepalanya "sampai kapan?"
"Sampai kita nemu yang cocok."
"Sepertinya gue udah dapet seseorang yang cocok buat dampingin gue disini."
Kening Jupiter berkerut dalam "siapa?"
"Dimas."
Jupiter tidak heran mendengar jawaban Venus, karena dia pun sempat berpikir untuk menjadikan Dimas sebagai asisten Venus. Jabatannya kali ini pun sebagai manajer keuangan sudah sangat bagus untuk Dimas. Tapi jika Venus memilih Dimas untuk berada di sampingnya akan Jupiter pertimbangkan.
"Baiklah nanti gue diskusiin dulu dengan Dimas, jika memang lo memilih dia."
"Oke gue tunggu kabar baik dari lo..!!" Venus menepuk bahu Jupiter berulang kali dan setelah pintu lift terbuka mereka berpisah menuju ruangannya masing-masing.
"Sandra kamu panggilkan Dimas untuk datang keruangan saya...!!" ucap Jupiter ketika dia sudah tiba di depan ruangannya.
"Baik pak...!!"
Jupiter berlalu masuk ke ruangannya, dia mulai duduk di kursi kerjanya. Setumpuk file sudah menyambut Jupiter pagi hari ini. Dia mulai fokus untuk mempelajari satu persatu lembar demi lembar kertas di hadapannya.
Tok tok...
"Masuk..!!" seru Jupiter dari dalam.
Pintu ruangannya terbuka, masuklah Dimas setelah tadi di panggil oleh Jupiter.
"Bapak manggil saya?" Dimas lalu duduk di kursi yang ada di depan Jupiter.
"Iya Dim...mulai hari ini kamu bereskan pekerjaanmu, nanti Mario akan mencari orang yang tepat untuk menggantikanmu."
"Anda mecat saya pak?" ujar Dimas kaget.
Jupiter tertawa lebar mendengar penuturan Dimas "tidak...kamu akan saya naikkan jabatan menjadi asisten wakil direktur, Venus memintamu untuk jadi asistennya."
Mata Dimas membelalak lebar "serius pak?"
"Iya... apa saya terlihat sedang becanda?"
__ADS_1
"Baik pak akan saya bereskan pekerjaan saya terlebih dulu." Dimas beranjak berdiri dan langsung menjabat tangan Jupiter.
"Secepatnya ya Dim..!!"
"Baik pak...saya permisi keruangan saya." Dimas berlalu dengan wajah yang ceria, bagaimana tidak dia baru dua bulan bekerja di PT Widjaya grup tapi sudah mau naik jabatan. Menjadi manajer saja sudah pencapaian yang sangat bagus, kini dia akan menjadi asisten wakil direktur yang merupakan sahabatnya sendiri. Memang beruntung jika pemilik perusahaan adalah orang yang sudah lama kenal dengannya.
*****
Mentari sudah mulai condong kearah barat, dan para pengais rejeki sudah mulai membubarkan dirinya satu persatu dari gedung-gedung tertinggi perkantoran. Begitu pun dengan Jupiter, Venus, Mario dan Dimas. Empat sekawan itu kini tengah melepas penat mereka di Kedai kopi favoritnya.
"Gue harap lo besok udah bisa mulai kerja sama gue..!!" ucap Venus matanya menatap kearah Dimas.
"Gue usahain ya pak bos..!!"
"Seneng lo ya bisa naik jabatan dengan cepat." cibir Mario.
"Syirik aja lo...jangan-jangan lo pengen naik jabatan juga ya..jadi presdir." balas Dimas tak mau kalah.
"Eheemmm...masih ada gue disini." ucap Jupiter melerai pertikaian antara Mario dan Dimas. Obrolan mereka terhenti ketika ada seorang pelayan mengantar kopi pesanan mereka.
"Kok dari kemarin gue gak lihat Kanaya sih, kemana tuh cewek incaran lo?" tanya Mario penasaran.
Dimas mengangkat bahunya pelan "semenjak malam pesta di hotel itu, gue gak bisa hubungin dia, ponselnya gak aktif terus."
"Serius Dim?" tanya Jupiter.
"Kenapa gak coba lo cari tahu dia..?" tanya Venus.
"Udah gue cari tahu, Kanaya ternyata udah gak kerja di sini lagi dia berhenti dua hari yang lalu."
"Dia gak ngomong sama lo mau pergi kemana?"
"Udah lo samperin kerumahnya?" tanya Jupiter.
"Gue gak tahu rumah dia dimana."
Jupiter, Venus dan Mario langsung menepuk keningnya bebarengan.
"Jadi selama ini lo anterin dia pulang kemana?? selama lo jalan sama dia masa lo gak tahu rumahnya dimana?" tanya Venus dengan raut wajah kesal, karena kebodohan sahabatnya ini.
"Gue cuma anterin dia sampai di depan jalan raya, soalnya dia selalu nolak kalau gue mau main ke kostan dia." jelas Dimas.
"Kenapa gak lo ikutin Dim?"
"Gak kepikiran."
"Emang kostan dia adanya di daerah mana?" tanya Jupiter penasaran.
"Daerah Jalan Mampang Prapatan."
"Setahu gue daerah sana gak ada kost-kostan deh, kebanyakan Hotel dan Apartemen elit gitu." ucap Venus menjelaskan.
"Serius ??"
"Iya... gue tahu banyak daerah situ."
Dimas terdiam mendengar ucapan Venus, salah dia memang selama ini tidak mengetahui tempat tinggal Kanaya. Kalau sudah seperti ini Dimas bingung harus mencari kemana.
__ADS_1
"Gak usah galau gitu, kita coba tanya teman-temanya disini kali aja ada yang tahu." ucap Jupiter mencoba menenangkan Dimas.
Saat ada pelayan yang lewat di dekat meja mereka, Jupiter langsung memanggilnya.
"Mbak sini mbak...!!"
"Iya pak...ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu kenal karyawan yang kerja disini, namanya Kanaya?" tanya Jupiter.
"Oh iya...saya kenal pak tapi dia udah resign dua hari yang lalu."
"Tahu tempat tinggalnya gak??"
"Kalau soal itu saya gak tahu, soalnya dia kerja disini juga baru dua bulanan pak belum lama."
"Oh ya udah... makasih ya mbak atas informasinya." Jupiter lalu memberi uang tip satu lembar lima puluh ribuan pada pelayan wanita itu.
"Gak ada yang tahu kan tempat tinggal dia." gumam Dimas pelan
"Itu derita lo...belum pacaran tapi tuh cewek udah ngilang begitu saja." kekeh Mario merasa senang meledek Dimas.
"Jahat lo...!!"
"Hidup jomblo....!" sorak Mario.
"Gue ogah ya...!!" sanggah Jupiter.
"Jadi sebenarnya lo udah nembak si Kanaya apa belum?" tanya Venus penasaran.
"Gue udah bilang sayang sama dia, tapi waktu itu dia belum kasih jawaban."
"Uhhh ....kaciaannya yang patah hati ..!!" ledek Mario.
"Diem lo...!!" sentak Dimas yang langsung mendapat kekehan geli dari Jupiter dan Venus.
"Cewek masih banyak bro di luar sana....kalau hilang satu lo masih bisa cari yang lain." ujar Venus.
"Kanaya beda bro dari cewek lain...gue masih akan nunggu dia, gue yakin dia pasti datang lagi sama gue."
"Semoga saja....itu juga kalau dia belum jadi milik orang lain." tutur Mario mengintimidasi Dimas.
Dimas hanya berdecak kesal mendengar ucapan Mario "Seeh jahat banget doanya."
Ketiga pria di depan Dimas hanya tertawa melihat wajah Dimas yang frustasi.
"Sebenarnya kamu ada dimana Nay??" ucap Dimas dalam hati.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih genks๐๐