
Jupiter kembali beraktifitas di kantor setelah acara lamarannya di Surabaya selesai. Suasana hatinya kini sedang membaik, setiap karyawan yang berpapasan dengannya pasti akan mendapat senyum manis dari bos mereka.
Seperti saat ini Jupiter tengah memeriksa laporan kerja yang di susun Mario. Keningnya sedikit berkerut karena semua tidak sesuai dengan keinginan dia. Untung saja suasana hati Jupiter sedang baik sehingga Mario hanya mendapat teguran biasa.
"Kau yakin itu sudah benar?"
"Sudah pak, sudah saya cek berulang kali."
"Coba kau periksa lebih teliti lagi, masih ada yang tidak sesuai dengan harapanku, aku tunggu setengah jam untuk kamu perbaiki itu." Jupiter melempar laporan yang di bawa Mario tepat di hadapannya. Meskipun bingung Mario langsung mengambilnya dan membawa laporan itu keruangannya.
"Aneh...kenapa tuh anak? gak biasanya kayak gini." gumam Jupiter. Tapi Jupiter tidak terlalu ambil pusing, mungkin Mario sedang apes saja sehingga dia membuat kesalahan hari ini. Lalu Jupiter kembali melanjutkan pekerjaan lain mengecek berkas yang menumpuk di mejanya.
Mario kembali ke ruangannya dengan wajah tertunduk lesu, dia lempar laporannya asal di atas meja. Selama seminggu ini pikirannya sungguh tidak bisa konsentrasi untuk bekerja, nama Clara terus menari-nari di dalam pikirannya. Setelah kejadian di kantor waktu itu Clara tidak pernah menemuinya atau menghubunginya. Mario yang mempunyai gengsi yang tinggi tidak mencoba untuk menghubungi Clara lebih dulu.
Sekarang baru terasa kehilangan yang di rasakan Mario, apa masih ada kesempatan untuknya mendekati Clara. Apa dia masih mau menjadi kekasih Mario atau sudah terlanjur kecewa karena Mario terlalu lama menggantungkan perasaannya.
"Aarrghhhhhh....." Mario tarik rambutnya dengan kesal.
"Bodoh...bodoh...bodoh !!" umpat Mario.
"Kalau udah begini baru terasa, kayaknya gue mulai suka sama Clara." gumam Mario, tiba-tiba satu ide muncul di benaknya.
"Baiklah gue selesein dulu kerjaannya baru setelah itu minta ijin ke Jupiter untuk pulang cepet."
Mario ambil laporan yang tadi di lemparnya, tidak ingin mengecewakan Jupiter dia mulai memperbaiki semua kesalahannya. Setelah berkutat selama setengah jam Mario kembali menyerahkan laporannya pada Jupiter.
"Lo kenapa?" tanya Jupiter melihat keanehan di wajah Mario.
"Saya gak papa kok pak."
"Kita bicara sebagai seorang teman, bukan sebagai atasan dan bawahan !! jadi lo cerita sama gue ada apa? gue kenal lo udah lama Yo, gue tahu saat ini lo sedang banyak pikiran."
"Hanya ada sedikit masalah."
"Yaelaaaa....masih kaku aja lo sama gue, cerita gak lo!!" desak Jupiter.
"Soal cewek? apa gara-gara Clara?" tebak Jupiter. Karena selama seminggu ini Jupiter tidak pernah melihat Clara menemui Mario lagi.
Mario berdecak ternyata Jupiter tahu apa yang sedang di pikirkannya.
"Lo kok bisa tahu?"
"Lo lupa kita kenal udah berapa lama? apa yang ada di isi kepala lo gue hapal semua."
"Ckck dasar lo !!"
__ADS_1
"Kalau suka ya bilang suka jangan munafik Mario."
"Gue cuma minta waktu sama dia."
"Kelamaan keburu dia kabur cari yang lain, saran gue lo temuin dia deh sebelum elo nyesel."
"Itu juga yang gue pikirin dari tadi tapi gue gak tahu tempat tinggal dia."
"Gak usah kerumahnya !! jam segini Clara pasti masih ada di salonnya."
"Gue juga gak tahu salonnya dimana?"
Jupiter memutar kedua bola matanya kesal "terus yang lo tahu apa? mau ngejar cewek tapi gak tahu apapun soal dia."
"Yang gue tahu dia pernah ngejar-ngejar lo..!!"
"Kampreet !! ya sudah nanti gue tanyain Kanaya alamat salon Clara, sekarang lo boleh pergi."
"Serius gue udah boleh pulang?" mata Mario berbinar bahagia.
"Siapa yang nyuruh elo pulang heh !! lo boleh pergi gue kasih waktu dua jam, habis itu lo balik lagi ke kantor!! kita masih ada meeting kan sore ini masa lo lupa gue aja di sini bosnya inget."
"Iya deh pak bos yang terhormat." cibir Mario.
"Pergi lo sana !!"
"Iya sana lo...!!" Mario pun berlalu dari ruangan Jupiter, begini nih kalau bosnya sahabat sendiri enak di kasih istirahat sampai dua jam.
*****
Berbekal alamat yang di berikan Jupiter, kini Mario membawa mobilnya menuju salon kecantikan milik Clara. Untung saja tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor, dua puluh menit kemudian Mario sudah tiba disana.
Mengedarkan pandangannya pada salon milik Clara yang lumayan rame di siang hari ini, Mario tidak menemukan orang yang sedang dia cari. Seorang wanita tersenyum menghampiri Mario yang seperti orang kebingungan.
"Selamat siang pak ada yang bisa kami bantu? mungkin bapak mau perawatan wajah atau potong rambut?"
Mario mengibas-ngibaskan tangannya "bukan mbak saya mau bertemu dengan owner salon ini."
"Ibu Clara maksud bapak?"
"Iya betul."
"Bu Clara ada di ruangannya, sebentar saya panggilkan dulu silahkan menunggu di sebelah sana pak." tunjuk pegawai Clara pada ruangan tunggu. Disana banyak pria yang duduk mungkin sedang menunggu istri atau kekasihnya yang tengah perawatan.
__ADS_1
Sementara itu di lantai dua salon ini Clara terlihat gelisah di dalam ruangannya, berulang kali dia memijit pelipisnya yang terasa sakit. Keputusan untuk menghindari Mario selama seminggu ini sungguh membuat dia berat. Belum lagi bayangan Mario terus berkelebat di pikiran dia.
Mungkin benar apa kata Mario, ini terlalu cepat untuk mereka tapi perasaan Clara tidak main-main untuk Mario. Okelah bertahun-tahun dia hanya berharap pada satu pria, tapi Clara baru menyadari itu bukan cinta...hanya obsesi dia untuk mendapatkan Jupiter. Hatinya hambar tidak seperti saat ini dia selalu berdebar kencang saat berhadapan dengan Mario.
Tok ! tok ! tok !
Pintu ruangannya di ketuk dari luar, Clara tersadar dari lamunannya.
"Masuk !!"
Saat pintu terbuka masuklah Dinar orang kepercayaan Clara dalam mengelola bisnisnya.
"Ada apa Din?"
"Ada yang mencari ibu di bawah seorang pria."
Kening Clara berkerut mendengar ucapan Dinar "siapa? kamu kenal dia?"
"Kurang tahu bu, sepertinya pria itu baru pertama kali kesini, ganteng bu orangnya."
Clara semakin heran mendengar ucapan Dinar "Ya sudah nanti saya turun, suruh orang itu untuk menunggu."
Setelah Dinar pergi, Clara terlebih dulu merapihkan riasan di wajahnya. Setelah di rasa penampilannya rapi Clara keluar dari ruangannya, dia penasaran dengan orang yang menemuinya itu.
Mengayunkan kaki menuruni anak tangga, Clara berlalu menuju ruang tunggu. Dia lihat sekeliling banyak pria yang tengah menunggu, tapi tidak ada satupun yang dia kenal. Lalu siapa yang hendak menemuinya itu, Clara membalikan tubuhnya tapi tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh seorang pria yang selama ini dia hindari. Mario terpaku melihat Clara berdiri di hadapannya.
Sejenak mereka berdua berdiri dengan rasa canggung, Clara menunduk melihat Mario yang terus menatapnya intens.
"Hai..." sapa Mario akhirnya.
Clara tersenyum kecil "hai juga.."
"Bisa kita bicara sebentar?" Clara mengangguk menyetujui ajakan Mario.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Like, Vote, Koment dan rate 5 ya genks makasih🙏😍