Twins Boy

Twins Boy
Season 2- Sulit melupakan


__ADS_3

Theolla memasuki rumahnya dengan wajah yang berseri-seri, dia hari ini seperti mendapat sebuah undian. Sepanjang perjalanan kerumahnya Theolla tak berhenti bersyukur atas pencapaian yang dia dapat.


Dari ruang keluarga kedua orangtuanya menatap Theolla penuh keheranan, begitupula dengan kedua adik Theolla, Darrel dan Vano mereka saling menatap satu sama lain.


"Malam semuanya...!!" sapa Theolla, dia lalu duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Darrel adik pertamanya yang sudah duduk dibangku kuliah.


"Malam juga sayang, kok jam segini baru pulang sih lembur lagi?" Mona wanita paruh baya itu angkat bicara mempertanyakan keterlambatan anaknya pulang.


"Iya mah..ada sedikit kerjaan yang perlu aku selesaikan hari ini."


"Gak usah capek-capek nak, kerjaan biar di selesaikan besok saja jika memang hari ini belum selesai." Bima sang ayah pun langsung menyauti.


Theolla tersenyun mendengar ucapan papahnya "Papah pasti gak akan percaya jika aku bilang ini," ucap Theolla senang.


"Apa sih kak habis menang lotre ya?" Vano adik bungsunya yang duduk dibangku SMP mulai menerka-nerka.


"Hush... kakak mana mungkin ikut yang kayak gituan,"


"Palingan ka Olla habis dapet tender besar tuh, makanya bisa sesenang ini." tebak Darrel tiba-tiba. Darrel memang lebih mengerti dan paham dengan kakaknya.


"Kamu kok pinter banget sih dek..pokoknya setelah lulus kuliah kamu harus bantuin kakak dan papah diperusahaan." ucap Theolla senang. Darrel pun mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


"Benar yang dikatakan adekmu La?" tanya Bima penasaran.


"Iya pah, aku berhasil mendapatkan proyek besar dan papah pasti akan kaget perusahaan mana yang berhasil aku ajak kerjasama."


"Perusahaan mana sayang, jangan buat kita penasaran..!!" Mona menyela ucapan Theolla.


"PT Widjaya grup pah...perusahaan kontraktor terbesar seasia tenggara" ucap Theolla mantap. Bima alangkah terkejut mendengar ucapan anaknya, sulit dipercaya jika perusahaan nya yang kecil bisa bekerja sama dengan perusahaan raksasa itu.


"Kamu serius nak?" Bima nampak berkaca-kaca,Mona yang berada di sebelahnya pun ikut terharu. Begitupun dengan Darrel dan Vano mereka langsung menghentikan aktifitas mereka, dan menatap sang kakak dengan serius.


"Iya pah,mah. .jika proyek ini berhasil perusahaan kita pasti akan lebih dikenal banyak orang."


"Papah sangat bangga sama kamu nak..!!"


"Mamah juga sayang, masa mudamu selama ini sudah dihabiskan untuk membantu kita bekerja, maafin kita ya sayang sebagai orangtua belum bisa membahagiakan." Mona nampak menitikan airmatanya. Theolla pun langsung menghampiri Mona dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Mamah gak boleh ngomong kayak gitu, aku ikhlas menjalani ini semua." seru Theolla sesaat setelah pelukan mereka terlepas.


"Aku juga setelah dewasa nanti ingin menjadi pebisnis sukses seperti kak Olla..!!" celetuk Vanno, membuat semua orang menoleh kearahnya.


"Sekolah dulu yang bener baru tuh ngomong kayak gitu," timpal Darrel tak mau kalah.


"Katanya anak bungsu papah ini pengen jadi dokter kok sekarang malah pengen jadi pebisnis, yang mana yang bener nih?"


Vano tampak salah tingkah dan garuk-garuk kepala.


"Katanya juga pengen jadi profesor pah..!!" timpal Mona.


"Sama kakak kamu bilang pengen jadi polisi..!!" Theolla angkat suara.


Tiba-tiba Darrel tertawa sangat keras "dasar jadi cowok kok plinplan gitu, hey anak kecil sekolah dulu yang bener baru tuh ngomong mau jadi apa." ledek Darrel membuat Vano menggerutu karena kesal dengan kakaknya yang satu ini.


"Sudah-sudah kalian ini jangan mulai lagi ya..!!" Mona mencoba melerai kedua putranya yang ujung-ujungnya pasti akan bertengkar.


"Ya udah mah pah aku pamit mandi dulu ya..!!" Theolla pun beranjak dari duduknya.


*****


Theolla duduk mematung menatap pantulan dirinya di cermin, dia memikirkan perkataan orangtuanya yang ingin dia segera menikah.


satu jam sebelumnya...


Theolla memasuki ruang kerja papahnya dimana di situ sudah ada Mona juga yang duduk disebuah sofa.


"Sini sayang...!!" Mona menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya. Theolla pun menghampiri Mona dan duduk disebelahnya berhadapan dengan papahnya.


"Ada apa sih mah pah kayaknya serius banget ya..!!"


"Ini mengenai masa depan kamu La..!!" Bima pun memulai pembicaraannya.


"Maksudnya pah..?"


"Keluarganya Raka ingin agar kalian segera menikah, bagaimana pun juga usia kamu sudah matang nak untuk berumah tangga..!!"

__ADS_1


"Tapi pah aku belum siap..!!"


"Sayang kamu dan Raka sudah lama loh bertunangan, kita juga ingin kamu memikirkan masa depanmu, selama ini kamu terlalu sibuk memikirkan keluarga kita." ucap Mona dia menggenggam tangan Theolla mencoba meyakinkannya.


"Kamu juga harus ingat La, keluarganya Raka sudah banyak membantu kita selama kita di Surabaya, tanpa bantuan mereka kita tidak mungkin bisa hidup enak lagi seperti sekarang ini." tutur Bima mengingatkan Theolla.


Theolla lalu melihat cincin di jari manisnya, dua tahun yang lalu Theolla terpaksa menerima perjodohan dari kedua orangtuanya. Miris memang, di jaman moderen seperti ini Theolla harus bernasib seperti Siti Nurbaya. Karena balas budi pada keluarganya Raka, dia pun rela menjalani hubungan ini meskipun dia tak mempunyai perasaan apapun pada Raka.


"Satu minggu yang lalu Raka sudah pulang dari Jerman, rencana nya minggu ini keluarga dia akan berkunjung kesini untuk membahas rencana pernikahan kalian..!!"


"Tapi pah...?"


"Papah gak mau denger alasan kamu lagi, lihatlah teman-teman seusia kamu sudah banyak yang menikah bahkan mereka sudah mempunyai anak."


"Iya sayang mamah dan papah juga ingin kamu segera menikah dan kasih kita cucu, iya kan pah?" Mona meminta persetujuan suaminya. Bima pun mengangguk mengiyakan.


Theolla mengusap wajahnya dengan kasar berulang-ulang kali, dia teringat kembali perkataan kedua orangtuanya yang ingin dia segera menikah. Tapi masalahnya disini Theolla tak memiliki perasaan apapun pada Raka, semuanya sangat hambar.


Keputusan Theolla untuk menghilang dari kehidupan Jupiter membawa dampak yang besar baginya. Kini dia sulit membuka hati kepada siapapun, hatinya seakan sudah terisi penuh oleh Jupiter.


Theolla membuka laci meja riasnya, dia memandang foto dirinya yang tengah tertawa bahagia bersama Jupiter. Foto itu diambil ketika Jupiter ke Singapura untuk menemui Theolla, foto itu di ambil tepat di belakang patung Singa Merlion yang terkenal itu.


Theolla menyentuh foto Jupiter dengan perasaan yang berkecamuk, bagaimana bisa dia mencintai pria lain jika seluruh hatinya sudah terisi Jupiter. Sepuluh tahun yang lalu dia terpaksa menghilang dari kehidupannya. Theolla hanya ingin Jupiter fokus dengan studinya, Theolla tak ingin membuat Jupiter terbebani dengan masalah di keluarganya.


Tapi kini Theolla tidak ada pilihan lain, dia harus membalas budi kebaikan keluarga Raka, yang sudah membantu usaha ayahnya di masa-masa yang sulit. Theolla tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya, meskipun hati ini sulit menerima laki-laki lain di hidupnya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan koment ya genks makasihh🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2