
Jupiter mengucek matanya dan menguap menyesuaikan pandangannya, ternyata dia berada di dalam kamarnya seingatnya semalam dia masih mabuk di club malam. Jupiter lalu beringsut bangun memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, tiba-tiba perutnya terasa bergejolak mual buru-buru Jupiter turun dari ranjangnya dia berlari kearah kamar mandi untuk mengeluarkan cairan di dalam mulutnya.
Setelah rasa mualnya hilang Jupiter keluar dari kamar mandi dengan tangan masih memegang kepalanya yang pusing.
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka masuklah Mario membawa sarapan untuk Jupiter. Di simpannya nampan berisi sarapan itu di atas nakas.
"Lo udah bangun."
"Jadi semalam lo yang bawa gue pulang?"
"Iyalah siapa lagi lo mabuk berat sampai tidak sadarkan diri, berat tahu gue bawa badan lo dari club malam sampai ke apartemen."
Jupiter mencibir dia lalu duduk di tepi ranjang dan minum segelas susu hangat buatan Mario.
"Thanks ya...lo udah nemenin gue di saat-saat seperti ini, gue gak tahu apa jadinya diri gue kalau gak ada lo."
"Selow bro...kayak ma siapa aja sih, dari dulu juga lo memang selalu ngerepotin gue."
"Siall lo!!!"
Tiba-tiba pandangan Jupiter beralih pada jam yang menempel di dinding kamarnya, jam 10.30 WIB berarti Theolla sudah resmi menjadi istrinya Raka.
"Kenapa lo?" Mario membuyarkan lamunan Jupiter.
"Theolla dia udah...."
"Eh dah bahas itu lagi, kagak usah di bahas yang ada hati lo gak akan bisa move on, buang jauh-jauh nama Theolla dari hati lo sekarang, dia udah jadi milik orang lain..tatap ke depan buka lembaran baru masih banyak cewek-cewek yang antri jadi pacar lo." ucap Mario menasehati Jupiter.
"Lo ngomong kayak gitu karena lo gak ada di posisi gue Yo, coba kalau lo jadi gue."
"Gue kalau jadi lo...heh gue gak akan buang-buang waktu gue buat mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, gue akan cari cewek yang bener-bener tulus sama gue tapi bukan tunangan orang lain ya."
"Lo nyindir gue?"
"Lo merasa tersindir?"
__ADS_1
"Bangs*at lo..!!"
"Lo kalau udah mendingan gue balik dulu ke rumah, Nyokap udah nelponin gue terus nih gara-gara anak kesayangannya gak pulang semalam."
"Cih..." Jupiter mencibir geli.
"Inget ya kalau gue tinggal pulang lo jangan bunuh diri, gue takut nanti arwah lo gentayangan sama gue."
"Aseemm...!!" Jupiter mengambil bantalnya dan melempar kearah Mario, namun kalah cepat karena Mario sudah lari sebelum bantal itu mengenai dirinya.
Setelah kepergian Mario tinggallah Jupiter seorang diri, benar apa kata Mario dia harus menatap ke depan. Theolla sudah memilih teman hidupnya, kenapa dia masih terus-terusan menginginkan Theolla. Padahal dia seorang pria mapan yang pasti di gilai banyak wanita, harusnya Jupiter bisa melihat satu saja wanita yang tulus sama dirinya. Ya...tekad Jupiter kali ini dia harus membuka hatinya untuk wanita lain. Buang jauh-jauh nama Theolla di hatinya.
*****
Di kediaman keluarga Theolla.
Setelah seluruh keluarganya memutuskan untuk kembali kerumah, pasca gagalnya akad nikah Theolla kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Hanya tinggal keluarga inti yang tersisa termasuk Venus dan Amanda. Sementara keluarga dari pihak Mamah dan papah Theolla sudah pulang ke kotanya masing-masing setelah di pastikan pernikahan ini tidak akan di lanjut.
"Papah benar-benar tidak habis pikir Raka membohongi kita selama ini, sudah bertunangan bisa-bisanya dia menjalin hubungan dengan wanita lain saat di Jerman sampai hamil pula, mau di taroh di mana muka papah di hadapan seluruh keluarga, rekan bisnis dan para tetangga." ucap Bima berapi-api.
"Iya om ada baiknya kita mengetahui hal ini sebelum semuanya terlambat, jika saja pacarnya Raka tidak datang tepat waktu mungkin Theolla kini sudah resmi menjadi istrinya Raka." tutur Venus. Sementara Amanda terus memegang tangan Theolla memberinya kekuatan. Ekspresi Theolla hanya datar-datar saja, entah dia harus senang atau sedih pernikahannya dengan Raka batal.
"Maafkan papah ya nak, selama ini papah terlalu memaksakan kehendak...ternyata Raka bukan orang yang tepat buat kamu papah tahu selama ini kamu belum mencintai Raka kamu terpaksa kan menjalani ini semua."
Theolla hanya tersenyum datar "aku gak papa kok pah, papah gak perlu khawatirin aku...aku baik-baik saja aku malah bersyukur tidak jadi menikah dengan Raka, jika sampai itu terjadi kasihan anak yang sedang di kandung perempuan tadi akan lahir tanpa seorang ayah."
Mona dan Bima saling berpandangan mendengar ucapan Theolla.
"Mamah dan papah tahu kamu masih mencintai Jupiter, kejarlah kebahagiaan kamu sekarang nak kita sebagai orangtua tidak akan mengatur hidup kamu lagi kamu berhak bahagia untuk menentukan pendamping hidup kamu." ucap Mona di sertai anggukan dari Bima.
"Iya nak sekali lagi kami minta maaf karena sudah memisahkan kamu dengan pria yang kamu cintai, pergilah ke Jakarta susul orang yang kamu cintai itu."
Theolla langsung menghambur memeluk kedua orangtuanya.
"Makasih Pah....mah udah ngerestuin aku sama Jupiter."
"Kalau gitu Theolla ikut sama kita aja pulang ke Jakarta besok pagi om tante." tawar Amanda.
__ADS_1
"Iya tante setuju."
"Om juga setuju, biar Theolla menyelesaikan dulu urusannya dengan Jupiter."
"Makasih mah...pah!!!"
"Iya sayang..!! Theolla kembali memeluk kedua orangtuanya.
"Jangan kasih tahu Jupiter dulu kalau Theolla gak jadi nikah sama Raka, biar ini jadi kejutan." usul Venus.
"Ihh yank....kan kasian Jupiter, dia pasti sekarang lagi patah hati tuh menyangka Theolla yang udah nikah sama Raka." tolak Amanda tidak setuju dengan ide Venus.
"Aku juga setuju sama Venus biar ini jadi kejutan buat Jupiter aku ingin lihat ekspresi dia seperti apa." ucap Theolla.
"Kalian ini ada-ada saja." Mona dan Bima hanya geleng-geleng kepala.
Hari itu meskipun Theolla malu karena gagal menikah, tapi dia bersyukur masih bisa kembali bersama orang yang dia cintai. Tak henti Theolla mengucap syukur karena doanya selama ini sudah di kabulkan.
Sementara Raka hari itu dia langsung di sidang oleh seluruh keluarga besarnya. Menghamili wanita di luar pernikahan sungguh mencoreng nama baik keluarga. Jenifer yang turut serta dalam persidangan keluarga itu hanya menunduk mendengar ocehan keluarga besar Raka. Tapi demi anak dalam kandungannya Jenifer bertahan agar anaknya kelak bisa di akui.
"Nikahi wanita ini, bagaimanapun dia kini tengah mengandung cucu kami." titah Arya jelas tidak bisa dibantah. Dia tatap wajah Raka dan Jenifer yang terus saja menunduk.
Raka hanya mendesah berat, niatnya untuk bermain-main dengan Jenifer kini berbalik menyerangnya. Bahkan kedua orangtuanya tidak memberi kesempatan untuk Raka membela diri. Dia tatap wanita yang tengah mengandung anaknya itu, sungguh Raka tidak mengira Jenifer akan nekat mencarinya ke Indonesia.
Malam harinya keluarga Raka secara khusus datang untuk meminta maaf, Bima dan Mona menerima permintaan maaf mereka. Kini hubungannya dengan pak Arya ayah dari Raka murni hanya partner bisnis saja, mereka sepakat tetap menjalin kerjasama meskipun anak-anak mereka gagal menikah.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih🙏😍
__ADS_1