Twins Boy

Twins Boy
Season 2 - Ajakan Raka


__ADS_3

Matahari yang mulai condong kearah barat menandakan senja di langit Surabaya kini sudah mulai terlihat. Aktifitas di beberapa gedung perkantoran pun kini mulai berkurang, hanya sebagian orang saja yang memilih untuk lembur. Begitu juga dengan Theolla dia memilih untuk pulang cepat hari ini, sebelum magrib datang Theolla sudah sampai di depan rumahnya.


Namun ada yang mengganggu penglihatan Theolla, sebuah mobil yang Theolla tahu itu milik Raka terparkir di halaman rumahnya. Dengan segera Theolla memasukkan mobilnya ke dalam Carport, dan dia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.


Terdengar suara tawa dari arah ruang keluarga, dilihatnya mamah dan papahnya serta Vano sedang mengobrol. Samar-samar Theolla mendengar mereka menyebut nama Theolla.


"Nah itu dia yang di omongin sudah dateng, sini sayang gabung sama kita nak Raka udah nungguin kamu dari tadi loh." seru Mona begitu melihat Theolla datang.


"Aku capek mah, mau istirahat di kamar dulu."


"Calon suami kamu ada disini, kamu gak boleh seperti itu nak..!!" tegas Bima. Dengan terpaksa Theolla tidak bisa membantah apa kata papahnya.


Theolla pun mendudukan dirinya di sebelah Vano, bersebrangan langsung dengan Raka. Sekilas Theolla melihat Raka menatapnya dengan tatapan yang sulit Theolla artikan. Setelah kejadian sore itu di kantor Theolla, baru kali ini Raka kembali menampakan dirinya di hadapan Theolla.


"Nak Raka ini mau ajakin kamu dinner sayang, sekalian cari cincin buat pernikahan kalian." tutur Mona.


"Males mah capek, mamah aja sana yang cari cincinnya lagian masih lama juga kok." tolak Theolla.


"Sebulan lagi sayang...kamu gak boleh gitu yang berhak milih kan kamu bukan mamah."


"Iya Theolla... lebih cepat lebih baik kita cari cincin pernikahan, nantinya kita akan di sibukkan dengan hal yang lain." ucap Raka.


"Serahin aja semuanya sama WO, ngapain juga kita capek-capek ngurusin ini itu."


"Theolla...!!" Bima menatapnya untuk memperingati Theolla agar bersikap sopan sama Raka.


"Iya pah...Theolla mandi dulu..!!" dengan langkah kesal Theolla menaiki anak tangga rumahnya menuju kamar Theolla.


Setengah jam kemudian Theolla sudah selesai bersiap diri, gaun model sabrina pas lutut yang menjadi pilihan Theolla kali ini. Rambut panjangnya di biarkan tergerai begitu saja. Menampilkan kesan yang cantik dan juga elegant, Raka sampai tidak berkedip melihat penampilan Theolla kali ini.


"Gilla...Theolla cantik banget malam ini, ngalahin cewek-cewek gue yang di Jerman." ucap Raka dalam hati.


"Pulangnya jangan malam-malam ya nak Raka..!!"


"Siap om...!!"


"Ayo La...!!" Raka langsung menggenggam tangan Theolla berlalu dari hadapan Bima dan Mona. Sesampainya di luar Theolla langsung menghempaskan tangan Raka dari genggamannya.


"Jangan seneng dulu, gue ngelakuin ini demi orang tua gue...!!!" ketus Theolla.


"It's oke...gue gak masalah, yang penting lo mau gue ajak dinner malam ini."

__ADS_1


"Inget ya perlakuan lo beberapa waktu yang lalu masih gue inget...!!!"


Raka tidak menggubris ucapan Theolla, selanjutnya mereka berdua masuk menuju mobilnya Raka.


"Bagaimana kerjaan kamu?" tanya Raka sesaat setelah mobil mereka melaju membelah jalanan kota Surabaya.


"Baik." ucap Theolla singkat.


"Kamu cantik malam ini." ucap Raka melirik sekilas kearah Theolla. Namun Theolla tidak menanggapi ucapan Raka, dia hanya memandang keluar jendela.


"Gue minta maaf atas kejadian sore itu, gue lepas kontrol La."


"Maaf lo basi." ketus Theolla.


"Coba lo bisa sedikit buka hati buat gue, mungkin gue gak akan bersikap seperti itu sama lo."


Hening. Tak ada tanggapan dari Theolla


"Jujur gue udah suka sama lo sejak lama, karena lo sering nolak gue jadinya gue gak bisa ngendaliin diri gue sendiri buat ngelakuin hal itu." tiba-tiba satu tangan Raka meraih tangan Theolla. Namun buru-buru Theolla melepaskan pegangan tangan Raka.


"Nyetir yang bener jangan kebanyakan tingkah."


"Makin cantik aja kalo lo marah-marah kayak gitu." Raka tersenyum menatap intens kearah Theolla.


Tidak sampai setengah jam mereka berdua sudah menemukan apa yang di cari, Theolla tidak terlalu banyak memilih dia asal saja memilih cincin pernikahannya. Tidak peduli dengan harga atau pun modelnya, karena Theolla tidak menginginkan pernikahan ini.


"Serius model ini yang kamu pilih?" tanya Raka heran Karena Theolla hanya memilih cincin polos dengan sebuah permata kecil di tengahnya.


"Ya.."


"Ada yang lebih bagus dan mahal dari itu loh."


"Ya sudah lo sendiri aja yang milih, ngapain ajak gue segala."


"Oke...gue ikutin mau lo." setelah Raka selesai melakukan pembayaran, mereka berdua keluar dari toko perhiasan tersebut.


"Gue laper, lo bilang kita mau makan malam kenapa malah keluar dari sini sih..!!!" kali ini Theolla dan Raka sedang berada di mobil meninggalkan parkiran mall.


"Sabar sayang, kita akan dinner tapi bukan di tempat ini." Raka tersenyum penuh arti menatap Theolla.


"Kelamaan keburu laper gue ilang..!!" ketus Theolla.

__ADS_1


"Jangan marah-marah terus donk calon istriku, nanti cantiknya ilang loh..!!" goda Raka.


"Berhenti gangguin gue Raka...!!!"


"Oke ..gue diem."


*****


Sementara itu di tempat lain, Dimas menghentikan mobilnya di basement hotel ChandraKirana. Dia buru-buru melangkahkan kakinya menuju meja resepsionist. Dimas harus memastikan sesuatu mengenai seseorang yang selama ini menganggu pikirannya.


"Selamat malam pak selamat datang di hotel ChandraKirana kami akan memberikan pelayanan terbaik kami...!!" sapa resepsionist itu ramah. Ada tiga orang resepsionist yang sedang bertugas malam itu.


"Maaf mbak saya mau bertanya sesuatu?"


"Silahkan pak ada yang bisa saya bantu?"


"Jika boleh tahu pemilik hotel ini siapa namanya?"


"Pak Chandra Danuatmaja, merupakan owner dari hotel ChandraKirana."


Dimas mengangguk dan nampak berpikir sesuatu "Kalau anaknya yang suka datang kesini, maaf itu siapa namanya mbak?"


"Bu Kanaya general manager disini, beliau yang mengurus operasional hotel untuk memastikan pelayanan terbaik dari hotel kami."


"Boleh saya minta alamatnya bu Kanaya?"


"Maaf pak untuk soal itu kami tidak bisa membantu, kami di larang memberi informasi pribadi terhadap orang asing."


"Ayolah mbak saya hanya ingin memastikan sesuatu saja, saya janji tidak akan macam-macam..!!" Dimas pantang menyerah dan terus berusaha mendapatkan apa yang dia cari.


"Sekali lagi saya mohon maaf pak tidak bisa membantu, jika tidak ada hal lain lagi silahkan bapak bisa tinggalkan tempat ini."


Dimas melangkah lesu meninggalkan meja resepsionist, sama sekali tidak ada informasi yang bisa menghilangkan rasa penasarannya. Dimas lalu memacu mobilnya meninggalkan hotel ChandraKirana. Tujuannya kali ini kedai kopi tempat dia pertama kalinya bertemu dengan Kanaya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih genks๐Ÿ™๐Ÿ˜


__ADS_2