
Satu minggu sudah berlalu...
Selama itu pula Jupiter masih belum bisa mendekati Theolla. Bukannya apa Theolla seperti menghindarinya, belum lagi Amanda yang selalu menempel dengan dirinya. Tak ada celah untuk Jupiter melakukan pendekatan.
Hingga akhirnya suatu saat Jupiter dapat menghindar dari Amanda, hari itu sepulang sekolah Amanda dan Raisa di tugaskan untuk mengikuti pertemuan para cheerleaders di SMA 1.
"Kamu seriusan gak mau anterin kita yank?" Amanda mulai merajuk.
Jupiter mengusap lengannya dan bergidik seolah-olah dia sedang sakit "Maaf ya Manda, aku gak enak badan nih. Kamu kan tahu kemarin aku tampil habis-habisan waktu tanding di perempat final. Hari ini aku butuh istirahat agar badan ku bisa fit buat menghadapi semifinal nanti."
Ya, tim football SMA Merah putih sudah melaksanakan pertandingan di perempat final kemarin, di menangkan oleh SMA Merah Putih dan berhak melaju ke semifinal.
Amanda mengerucutkan bibir nya "Ya udah deh kalau gitu , kamu beneran istirahat ya jangan kelayapan...!!!" Jupiter pun mengacungkan kedua jarinya dan tersenyum lebar.
"Gue bisa anterin kalian berdua kalau mau..!!" ujar Dimas angkat suara.
Raisa mencebikkan bibirnya "Itu mah mau nya elo kali deket-deket sama gue,"
"Gak papa kan biar sekalian pendekatan..!!" tukas Dimas.
"Dari dulu pendekatan mulu, kapan jadiannya woii....biar gue bisa makan gratis nih di kantin minta pajak jadian sama kalian." ujar Rendi mencibir.
"Makan mulu yang lo pikirin, ampun heran dah gue mah." Raisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mau mikirin apalagi gue, cewek gak ada yang mau sama gue ambyarrr hati abang nih," perkataan Rendi sontak mendapat gelak tawa dari Amanda,Jupiter,Dimas dan Raisa.
"Sabar ya Bambang mungkin jodoh lo masih di jagain orang lain hahaha....!!" tukas Dimas meledek.
"Atau stok perempuan di muka bumi ini udah habis Ren, jadi lo gak dapet pengambilan jatah." perkataan Jupiter sontak membuat Rendi melotot dan memukul bahu Jupiter kesal.
"Amit-amit dah ah...jangan sampe gue jadi jomblo seumur hidup bisa hilang nih keperkasaan gue sebagi lelaki.''
"Ya udah yuk Sa berangkat, gak penting banget denger ocehan si Rendi." ajak Amanda. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya.
"Gue tinggal dulu yank..!!"
"Iya..!!" Jupiter mengangguk pelan.
"Ayoo... lo jadi gak nganterin kita ?" mata Raisa menoleh ke arah Dimas.
__ADS_1
"Boleh nih?" tanya Dimas dan Raisa menganggukan kepalanya.
"Yesss...!!"
"Ikut lah gue cewek-cewek di SMA 1 kan cakep-cakep, kali aja gue ketemu jodoh gue disana..!!" pinta Rendi memelas.
"Ya udah ayo..Venus kita tinggal sendiri gak papakan?" Dimas menarik kerah baju Rendi mengikuti langkah Amanda dan Raisa yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Setelah kepergian teman-temannya Jupiter langsung mencari Theolla. Dia mencari Theolla ke perpustakaan tapi tak kunjung di temuinya. Sampai akhirnya Jupiter melihat Theolla berjalan menuju kelasnya berdua dengan Raul. Mereka nampak sedang mengobrol dan sesekali tertawa pelan.
"Theolllaaa..!! " panggil Jupiter. Theolla dan Raul pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Mau apa lo ? " ketus Raul.
"Gue ada perlu sama Theolla bukan elo..!!"
"Ya udah tinggal bilang aja di sini," Raul masih tak bergeming dari sisi Theolla. Jupiter menatap tajam ke arah Raul.
"Gue cuma pengen bicara berdua aja sama Theolla..!!" Jupiter mempertegas kata berduanya.
"Gue jadi curiga nih, jangan-jangan ada udang di balik batu lagi?" selidik Raul.
"Santai donk gak usah nyolot gitu ngomongnya," Raul tertawa sinis. Sesaat keduanya saling menatap tajam satu sama lain.
"Gue turut prihatin ya atas kekalahan tim basket lo di perempat final kemarin " Jupiter sengaja menyulut emosi Raul saat ini.
Dan benar saja dugaan Jupiter, Raul langsung emosi dan menarik kerah baju Jupiter "Maksud lo apa ngomong kayak gini hah, lo ngehina gue mentang-mentang tim sepakbola lo masuk Semifinal gitu?"
"Udah-udah kok malah pada berantem gini sih, gak enak di liatin yang lain." Theolla mencoba menengahi. Karena perhatian sebagian siswa kini mulai ke arah Jupiter dan Raul yang tengah adu mulut. Raul lansung melepaskan cengkraman tangan nya di baju Jupiter.
"Emang kenyataan nya gitu kan, gue merasa lebih baik bersama tim football, daripada satu tim sama orang kayak elo, yang gak ada apa-apanya cuma modal omong doang gede." ucap Jupiter sarkas. Merasa tidak terima dengan omongan Jupiter, Raul lalu meninju muka Jupiter dengan keras hingga terjerembab jatuh ke lantai.
"Venussss.......!!" teriak Theolla kaget. Lalu Theolla membantu Jupiter berdiri dan memegang lengannya. Jupiter hanya meringis menahan kesakitan, terlihat darah segar dari ujung bibirnya.
"Kenapa lo pukul Venus sih, gue gak suka ya dengan cara lo yang kayak gini kasar sama orang." hardik Theolla
"Dia yang mulai duluan..!!" tunjuk Raul ke arah Jupiter.
"Tapi gak harus dengan kekerasan , ini masih di sekolahan Raul, lebih baik lo pergi sana gue gak mau ada keributan lagi di sini." usir Theolla.
__ADS_1
Raul mendengus kesal, dia lalu menatap tajam ke arah Jupiter "Gue bisa laporin elo ke Manda, kalau ternyata diam-diam di belakang dia elo suka deketin sepupunya." ancam Raul lalu pergi dari hadapan Jupiter dan Theolla. Beberapa siswa yang tadi melihat kejadian pun langsung membubarkan diri.
*****
Seberapa keras pun Theolla menghindar, sekeras itu juga Jupiter berjuang. Theolla sadar siapa dirinya, dia hanya seorang wanita yang mudah terbuai akan kata-kata manis seorang pria.
Sempat menutup pintu hatinya selama tiga tahun, membuat Theolla kini mantap untuk membuka kembali hatinya. Tapi kenapa harus kekasih sepupunya yang perlahan mencairkan kebekuan di hatinya. Dirinya kini sadar dia tidak boleh berharap lebih sama Venus. Karena itu salah, Venus milik Amanda dan Theolla gak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan ini.
Seminggu ini sikap Venus memang berbeda dari biasanya, dan itu membuat Theolla dilema. Di satu sisi dia senang hatinya kini selalu berdebar-debar, bila sedang bersama Venus, tapi di sisi lain dia merasa menjadi orang jahat yang diam-diam mengagumi orang yang salah. Sebisa mungkin Theolla menghindar, tapi Venus selalu berhasil membuatnya luluh. Dan di sinilah mereka kini berada, di ruangan UKS Theolla tengah membersihkan luka Jupiter.
"Awwww ..!! " Jupiter meringis kesakitan. Matanya tak lepas memperhatikan Theolla yang tengah mengoleskan antiseptic di ujung bibirnya yang tadi terkena bogem mentah dari Raul.
"Perih La.. !!" Jupiter menghentikan pergerakan tangan Theolla dan menatapnya lekat. Sesaat mereka berdua hanya beradu pandang dalam diam. Menciptakan desiran-desiran aneh di seluruh tubuh keduanya. Jantung Theolla berdetak lebih cepat dari biasanya, selang beberapa detik, Theolla langsung menghindari kontak mata dengan Jupiter.
Theolla segera membereskan kembali alat-alat yang tadi di pakai untuk mengobati luka Jupiter.
"Makasih ya La udah mau ngobatin luka aku..!!" Jupiter buka suara, menghindari kecanggungan di antara keduanya.
"Hmmm...makanya lain kali jangan cari gara-gara sama Raul." ucap Theolla datar, tanpa menoleh ke arah Jupiter yang masih sibuk mencuci tangan nya.
"Aku kesel sama Raul La, seolah-olah dia itu milikin kamu seutuhnya aku gak suka liat kamu deket-deket sama dia."
"Aku cemburu Theolla...!!"
DEG!!
Theolla langsung menoleh mendengar pernyataan Jupiter...
"Maksudnya ..??" tanya Theolla.
.
.
.
.
Maksudnya tolong di Like,Vote dan Koment gitu ya genks !!! maaciiiihh 🙏😗
__ADS_1