
Theolla merapihkan baju-bajunya kedalam koper, besok dia akan berangkat ke Jakarta untuk melakukan pertemuan dengan perusahaan yang bekerja sama dengannya. Tekadnya sudah kuat dia harus mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaan besar itu. Theolla akan melakukan presentasi sebaik mungkin agar perusahaannya bisa diterima.
Ceklek !!
Tiba-tiba Mona memasuki kamar Theolla, dia melihat sang anak yang tengah merapihkan barang-barangnya.
"Kamu serius nak gak mau di antar sama Raka?" tanya Mona, dia lalu duduk ditepian tempat tidur memperhatikan Theolla.
"Aku ke Jakarta kerja mah, bukan untuk jalan-jalan." jawab Theolla sambil sibuk menata pakaiannya kedalam koper.
"Iya mamah tahu, tapi jika Raka ikut sama kamu mamah akan sedikit lebih tenang membiarkanmu pergi."
"Aku berangkat berdua bersama asistenku Bella mah, tidak sendirian, lagian di Jakarta juga ada tante Maria. Om Suryo, ada Amanda juga mamah gak usah khawatir aku bisa jaga diri, aku bukan anak kecil lagi yang harus di khawatirkan seperti itu." Theolla tersenyum mencoba meyakinkan Mona.
"Tapi ini kali pertamamu meninggalkan rumah selama itu,"
"Hanya beberapa hari mah, jika urusanku sudah selesai aku janji akan segera kembali, mamah lupa dulu aku pernah tinggal di Jakarta bersama tante Maria."
"Iya sayang tapi itu kan udah lama banget waktu kamu masih SMA, meskipun cuma beberapa hari tetap saja mamah ini khawatir melepas anak gadis mamah ini."
Theolla lalu menghampiri Mona dan menggenggam erat kedua tangannya " aku bisa jaga diri mah, jika ada apa-apa aku bisa minta tolong sama Amanda, udah ya mamah cukup doaian aku aja biar berhasil mendapat kontrak kerjasama ini, bagaimanapun juga jika aku berhasil kali ini akan berimbas baik untuk perusahaan kita."
"Kamu ini yang di pikirin cuma perusahaan dan perusahaan terus, biar lah papah yang mengurusnya mulai sekarang kamu fokus untuk mempersiapkan pernikahan kamu."
"Mana bisa gitu mah, kasian papah pasti keteteran jika mengurus seorang diri, soal pernikahan biar mamah yang urus semuanya aku cuma ngikut aja."
"Kamu sepertinya tidak terlalu antusias menyambut pernikahanmu nak?" tanya Mona curiga.
Theolla menatap Mona sekilas lalu berjalan menghadap jendela kamarnya "dari awal mamah sudah tahu kan bagaimana perasaanku sama Raka, aku menjalani ini semua hanya karena papah dan mamah."
Mona mengikuti Theolla dan berdiri di belakangnya, dia lalu mengelus rambut panjang Theolla "maafin mamah dan papah ya sayang, kamu harus menjalani perjodohan ini dengan terpaksa, tapi mamah yakin suatu saat jika kalian sudah menikah, kamu pasti bisa mencintai suami kamu pelan-pelan."
"Aku ikhlas mah menjalani ini semua, asal kalian berdua bahagia aku akan turuti keinginan kalian." Mona lalu membawa Theolla ke dalam pelukannya.
"Makasih ya sayang, karena pertolongan keluarga Raka dulu jadi kamu yang harus membalas budi semua ini."
Theolla pun mengangguk dan tersenyum pada Mona sesaat setelah pelukan mereka terlepas "Iya mah,"
"Jam berapa besok pesawatmu berangkat?" tanya Mona.
"Jam sembilan lima belas menit mah,"
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kamu tidur dan istirahat ya, besok kan kamu harus bangun pagi-pagi."
"Iya mah," sebelum keluar kamar Mona terlebih dulu mencium kening Theolla.
Setelah Mona keluar, Theolla membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia hanya menatap langit-langit kamarnya, besok Theolla akan kembali ke kota dimana banyak kenangan manis disana semasa dia SMA.
Terakhir kali menginjakkan kakinya ke Jakarta sekitar enam tahun yang lalu, saat Theolla menghadiri pernikahan Amanda. Setelah itu Theolla tidak pernah datang ke Jakarta lagi. Dia dan Amanda selama ini hanya komunikasi lewat telepon atau pesan whatsapp untuk mengetahui kabar masing-masing.
*****
Keesokan paginya, Theolla tengah menikmati sarapan bersama keluarganya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Raka kerumahnya. Theolla yang melihat itu langsung meminta jawaban pada Mona lewat sorot matanya.
"Raka hanya akan mengantar kamu ke bandara sayang," ucap Mona pelan.
"Pagi semuanya...!!" sapa Raka ramah,tak lupa dia terlebih dulu mencium tangan Bima dan Mona. Lalu Raka pun ikut bergabung di meja makan.
"Ayo nak Raka ikut sarapan bersama kami..!!" ucap Mona menawarkan.
"Iya tante aku sudah sarapan di rumah,"
"Gak papa ikut sarapan lagi sama kami..!!" tawar Bima lagi.
"Memangnya kamu gak sibuk, sampai harus mengantar anak om segala?"
"Dia kan memang gak punya kerjaan pah disini, cuma gangguin aku aja kerjaannya." celetuk Theolla sambil menatap Raka sinis.
"Theolla....!!" Bima lalu memperingatkan Theolla agar tidak bicara seenaknya sama Raka.
"Aku gak sibuk kok om, paling cuma bantu-bantu aja di perusahaan papah, kalau di ijinkan aku malah ingin mengantar Theolla sampai Jakarta." ucap Raka tanpa memperdulikan perkataan Theolla.
"Jangan macam-macam kamu Raka, kalau kamu terus ngikutin aku seperti itu, nanti aku gak bisa fokus dengan kerjaan aku kamu tuh bisanya cuma ganggu aja..!!" Theolla lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya, selera makannya langsung hilang begitu melihat kedatangan Raka.
"Theolla.....!!" Bima berteriak untuk memperingatkan. Namun Theolla tidak mendengar apa kata Bima.
"Maafin Theolla ya nak Raka...!!"
"Iya gak papa om, saya ngerti kok." ucap Raka tanpa tersinggung sedikitpun.
Dan atas desakan kedua orangtuanya, Theolla pun akhirnya mau di antar Raka ke Bandara. Dan disinilah mereka berada di sebuah mobil menuju perjalanan ke Bandara.
Theolla tidak banyak berbicara, dia hanya menatap keluar jendela memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang. Raka sesekali melirik wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
__ADS_1
"Berapa hari kamu di Jakarta bebh?" tanya Raka memecah keheningan.
"Sudah ku peringatkan jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu, aku sungguh geli mendengarnya..!!" ketus Theolla menatap Raka tajam.
Raka hanya tertawa mendengar jawaban Theolla "Kamu harus membiasakannya karena sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, kalau tidak mau dipanggil bebh gimana kalau sayang atau mungkin cinta?"
"Hentikan Raka, kalau kamu terus bicara aku turun dari mobilmu sekarang juga..!!" teriak Theolla geram.
"Hahaha, kamu tuh kalau lagi marah-marah seperti ini makin kelihatan cantik tahu La.."
Theolla langsung membuang muka mendengar ucapan Raka. Dia tidak memperdulikannya dan kembali menatap keluar jendela.
"Theolla...Theolla mau sampai kapan kamu menolak aku, cepat atau lambat kamu akhirnya akan menjadi istriku dan saat itu tiba kamu tak bisa menolak ku lagi."
"Yakin sekali kamu?"
"Tentu aku yakin kamu lama-lama akan bertekuk lutut denganku." ucap Raka percaya diri.
Mendengar ucapan Raka membuat Theolla tersenyum sinis "jangan bermimpi mendapatkan hati aku, kamu mungkin bisa mendapatkan ragaku tapi tidak dengan hatiku " ucapnya dengan tatapan tajam kearah Raka.
"Apa sebenarnya yang membuat kamu tidak bisa menerima aku La?"
"Karena kamu itu seorang Raka, maaf aku gak bisa membohongi perasaanku."
"Meskipun kamu belum ada perasaan terhadapku, tapi aku akan tetap melanjutkan pernikahan ini aku yakin suatu saat kamu bisa menerima aku sebagai suamimu." ucap Raka yakin.
"Terserah...!!"
Mobil Raka pun tiba di Bandar udara Juanda, akhirnya obrolan unfaedah ini berakhir. Theolla pun segera turun dari mobil Raka untuk mencari Bella yang memang janjian bertemu di Bandara. Sementara Raka tetap mengekorinya dari arah belakang, meskipun Theolla sudah menyuruhnya untuk segera pulang.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih genks 🙏😍
__ADS_1