Twins Boy

Twins Boy
Season 2- Menceritakan


__ADS_3

Jupiter langsung menggenggam tangan Theolla, dan merasakan sesuatu yang aneh di jari Theolla. Sontak Jupiter menurunkan pandangannya dan melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis Theolla.


"Kamu sudah menikah La??"


Theolla buru-buru menarik tangannya dari genggaman tangan Jupiter, dia menunduk menyembunyikan rasa gugup yang menderanya. Theolla tak pernah berpikir Jupiter akan mengetahui hal ini lebih cepat, di pertemuan keduanya setelah berpisah selama bertahun-tahun.


"Theolla?" Jupiter mengusap lengan Theolla untuk menyadarkannya.


"Maaf...!!" sekali lagi kata itu keluar dari mulutnya.


"Aku tak butuh kata maaf, aku hanya butuh penjelasan dari mulai kamu menghilang dari kehidupanku sampai dengan cincin ini." tegas Jupiter, matanya menatap tajam kearah dua bola mata Theolla.


Theolla lalu menghela nafasnya perlahan "soal cincin ini, aku di jodohkan oleh kedua orangtuaku." Theolla kembali menunduk, enggan melihat ekspresi Jupiter.


Sementara Jupiter langsung menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, dan menjambak rambutnya frustasi.


Theolla yang tidak tega melihat ekspresi Jupiter langsung meraih tangan nya "ini cincin pertunangan, pernikahanku masih dua bulan lagi."


Seketika Jupiter langsung menegakkan badannya "seriuss?" ada secercah harapan di hati Jupiter, begitu tahu itu hanya cincin pertunangan.


Theolla pun menganggukan kepalanya, "aku terpaksa menerima semua ini, karena orangtuaku harus membalas kebaikan keluarganya."


"Setidaknya aku masih ada waktu untuk merebut hati kamu lagi, meskipun hanya dua bulan." tutur Jupiter.


"Hatiku dari dulu tidak pernah berubah," ungkap Theolla yakin, dia langsung menunduk karena malu sudah berucap seperti itu.


"Baiklah ayo ikut denganku...!!" Jupiter langsung menarik tangan Theolla, untuk ikut pergi dengannya.


"Kita mau kemana?"


"Nanti kamu akan tahu,"


"Tapi asistenku Bella masih menunggu di luar,"


"Nanti biar asistenku yang akan mengantarnya pulang..!!"


Setelah tiba di depan ruangannya, Sandra dan Mario yang kala itu sedang duduk di mejanya masing-masing langsung berdiri melihat atasannya keluar. Pandangan mereka berdua tertuju pada genggaman tangan Jupiter pada Theolla.


"Yo saya mau keluar sebentar, tolong kau antarkan asistennya Theolla pulang...!!"


"Baik pak...!!"


Jupiter dan Theolla pun kembali melanjutkan langkahnya. Setelah langkah bosnya menjauh Sandra menatap Mario, yang terlihat biasa saja melihat kedekatan Jupiter dan Theolla.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Sandra menatap kearah Mario yang sepertinya sudah tahu sesuatu.

__ADS_1


"Mereka terlibat dalam sebuah masalalu yang rumit, sudah kau jangan terlalu banyak mencari tahu, jika masih ingin mempertahankan posisimu di kantor ini." goda Mario.


Glek..!! Sandra langsung menelan salivanya, mendengar ucapan Mario. Meskipun itu terdengar becanda, tapi Sandra tahu itu sindiran yang telak untuk dirinya.


"Ya sudah saya temui asisten nya bu Theolla dulu, jika ada apa-apa langsung hubungi saya ya jangan menghubungi pak Jupiter."


"Iya pak...!!"


Mario pun berlalu menuju ruang tunggu dimana Bella sedang menunggu Theolla.


"Permisi mbak, mari ikut dengan saya...!!" Bella yang sedang duduk membaca sebuah majalah bisnis, langsung kaget mendengar suara seseorang yang menyapanya.


"Loh kita mau kemana ya pak? saya masih menunggu atasan saya?"


"Bu Theolla dan pak Jupiter sudah keluar sekitar sepuluh menit yang lalu, dan saya di tugaskan untuk mengantarkan anda pulang dengan selamat!!"


"Oh ya sudah kalau gitu,saya bisa pulang sendiri pak..!!"


"Ini perintah dari atasan mbak, tidak boleh ada penolakan..!!" tegas Mario, menatap tajam kearahnya. Bella pun akhirnya menuruti keinginan pria berwajah dingin itu, dari pada harus berdebat dengannya.


*****


"Kita mau kemana?" tanya Theolla ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


Suasana menjadi hening seketika, Theolla hanya diam mengikuti perintah Jupiter. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara mereka berdua, Jupiter maupun Theolla sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Setengah jam kemudian mobil Jupiter memasuki sebuah basement apartemen mewah, Jupiter menyuruh Theolla untuk turun mengikutinya. Meskipun bingung, Theolla pun akhirnya mengikuti langkah Jupiter. Sampai akhirnya mereka berdua tiba di depan apartemen milik Jupiter.


Setelah Jupiter menekan beberapa angka yang menjadi password apartemen nya, pintu pun akhirnya terbuka.


"Ayo masuklah...!!" ajak Jupiter. Dengan ragu-ragu Theolla pun mengikuti langkah Jupiter memasuki apartemennya.


Theolla mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan apartemen mewah ini, dia sungguh takjub melihat dekorasi dan penempatan barang yang tertata dengan rapih.


"Duduk sini La...!!" Jupiter menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.


"Ini apartemen kamu?"


"Hmmmm..."


"Kamu tinggal sendiri di apartemen segede ini?"


"Ya mau sama siapa lagi, istri juga belum punya."


"Oh..."

__ADS_1


"Kalau mau minum atau cemilan kamu ambil di dapur ya, anggap saja apartemen ini milikmu sendiri."


Meskipun aneh mendengar ucapan Jupiter, tapi Theolla hanya menganggukan kepalanya.


"Sekarang di sini kita hanya berdua, gak akan ada yang ganggu atau nguping pembicaraan kita, jadi aku butuh penjelasan kamu sekarang juga."


"Penjelasan untuk apa?"


"Semuanya....kenapa sepuluh tahun yang lalu kamu pergi begitu saja dari kehidupanku, dan aku juga butuh penjelasan mengenai cincin ini." Jupiter meraih tangan Theolla, dan menunjuk cincinnya.


Theolla diam sesaat untuk merangkai kata-kata yang tepat bagaimana menjelaskannya pada Jupiter.


"Maaf aku dulu terpaksa melakukan itu, keluargaku terlilit hutang yang besar, perusahaan papahku yang di Singapura bangkrut, kita sekeluarga waktu itu kembali ke Indonesia."


"Kenapa kamu tidak menghubungiku waktu itu, mungkin aku bisa menolong keluarga kamu La?" Jupiter sungguh tidak habis pikir, disaat keluarga Theolla ada masalah dia tidak tahu apa-apa.


"Itu tidak mungkin, pada saat itu kamu baru beberapa bulan kuliah di New York, aku tidak ingin membebani kamu, ku pikir dengan menjauh dari kamu itu yang terbaik buat kita berdua, aku merasa sudah tidak pantas menjadi kekasihmu."


Jupiter tertawa sarkas mendengar penuturan Theolla "aku tidak menyangka pikiran kamu sesempit itu, kamu ingat aku sudah berjanji akan selalu berada di sampingmu apapun itu yang terjadi, suka ataupun duka."


"Maaf...ini semua memang salahku, harusnya dulu aku membagi duka itu bersamamu, tapi aku terlalu pengecut aku takut kamu akan merasa minder dengan perubahan yang terjadi di hidupku. Setelah kepulanganku ke Surabaya, aku sempat putus kuliah selama dua tahun karena tidak ada biaya. Aku hanya bekerja sebagai pelayan cafe, waktu itu hidup kami serba kekuarangan." Theolla terisak menceritakan kisah pilunya di masalalu.


Jupiter yang tidak tega melihat Theolla menangis seperti itu, langsung membawa Theolla kedalam pelukannya. Mendengar cerita Theolla, membuat


Jupiter ikut merasakan apa yang Theolla alami dulu.


"Sssttt.....jangan di lanjut lagi, maaf sudah mengingatkanmu pada kenangan masa lalu itu." Jupiter menepuk-nepuk punggung Theolla untuk menenangkannya.


Theolla menggeleng di dalam pelukan Jupiter, "aku harus ceritakan semuanya, biar kamu tidak salah paham lagi padaku."


Jupiter merenggangkan pelukannya dan meraih kedua bahu Theolla "aku percaya sama kamu Theolla, maaf aku tidak berada di sampingmu di saat masa sulit kamu."


.


.


.


.


.


Meleleh😭😭


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment makasih genks🙏😍

__ADS_1


__ADS_2