
Pagi mulai menyapa, sang mentari nampak malu-malu keluar dari peraduannya. Kicauan suara burung terdengar sangat merdu, menambah indahnya suasana pagi. Dimas mengerjapkan matanya perlahan, memperhatikan sekeliling yang nampak beda dengan kamarnya.
Dimas mengingat-ngingat semalam dia berada di club malam bersama Mario, setelah Jupiter datang dia tidak ingat apa-apa karena terlalu banyak minum. Dimas memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut nyeri.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, Jupiter tersenyum melihat Dimas yang sudah bangun.
"Gimana masih pusing?"
"Lumayan."
"Semalam lo minum banyak sampai mabuk dan gak sadarkan diri, terpaksa gue sama Mario bawa lo kesini."
"Thanks ya...sorry gue udah ngerepotin kalian berdua."
"Iya gak papa....ayo bangun kita sarapan dulu!!" ajak Jupiter.
Dimas lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi terlebih dahulu. Setelah itu dia menghampiri Jupiter yang sedang duduk di meja makan.
"Gue langsung balik aja!!"
"Loh sarapan dulu...baru ntar lo balik, kayak jauh aja sih."
"Ya udah deh....rejeki gak boleh di tolak..." kekeh Dimas, dia lalu mengambil segelas susu dan langsung meminumnya, setelah itu Dimas mengambil setangkup roti tawar dan mengolesinya dengan selai.
"Gimana semalem?" tanya Dimas di sela sarapan paginya.
"Gue udah ketemu sama Kanaya yang lo cari." ujar Jupiter.
"Uhuukk....uhuukk!!" Dimas langsung terbatuk mendengar ucapan Jupiter, buru-buru dia mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Maksud lo??"
"Iya Kanaya yang kita kenal seorang pelayan kedai kopi ternyata anak pemilik hotel ChandraKirana."
"Lo gak salah lihat?"
"Semalam gue udah ngobrol sama dia, dan dia punya alasan kenapa ngelakuin semua itu sama lo."
"Berarti dia selama ini udah bohongin gue....kenapa dia gak jujur dari awal sih tentang dirinya sama gue."
"Dia punya alasan Dim...lo jangan marah dulu sama dia!!!"
"Jujur gue kecewa sama Kanaya!!"
"Lo boleh kecewa sama dia...tapi lo mesti dengerin dulu penjelasan dia."
"Bahkan sampai sekarang dia tidak berusaha nemuin gue."
"Kanaya butuh waktu Dim....lo sabar aja tunggu dia datang nemuin lo, setidaknya lo sekarang jadi tahu dimana Kanaya berada lo gak perlu khawatirin dia lagi."
"Tapi seharusnya dia gak perlu ngelakuin ini sama gue, dia bisa jujur tentang diri dia yang sebenarnya sama gue..!!"
__ADS_1
"Ya gue ngerti lo marah, lo kecewa sama Kanaya...tapi Kanaya terpaksa melakukan ini semua dia gak ada maksud untuk berbohong sama kita."
"Sungguh pintar sekali dia berpura-pura menjadi pelayan untuk menutupi siapa dia sebenarnya."
"Dia gak pura-pura Dim...orangtuanya pun gak tahu kalau selama ini dia sudah kembali ke Jakarta dan menjadi seorang pelayan, pak Chandra hanya tahu Kanaya masih tinggal di Inggris. Dia punya ibu dan kakak tiri, mungkin itu yang membuat Kanaya melakukan ini semua." ujar Jupiter panjang lebar.
Dimas terdiam mendengar ucapan Jupiter, dia harus bertemu Kanaya untuk meminta penjelasan padanya.
"Ya sudah kalau gitu....thanks ya atas bantuan lo...gue balik dulu!!"
"Sarapannya gak dihabisin dulu,"
"Udah gak nafsu makan gue!!" Dimas lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari apartemen Jupiter, menuju apartemennya yang hanya terpaut beberapa lantai dengan apartemen Jupiter. Setelah kepergian Dimas, Jupiter kembali melanjutkan sarapannya.
*****
Senja di ufuk barat menandakan hari sudah berganti menjadi sore. Theolla menyandarkan tubuhnya pada sofa yang berada di dalam ruangannya. Dia meregangkan tangannya, melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku setelah seharian lelah bekerja.
Weekend yang seharusnya di gunakan untuk istirahat, tidak berlaku untuk Theolla yang memilih lembur karena pekerjaannya yang menumpuk.
Tok tok tok!!
Terdengar pintu ruangannya yang di ketuk dari luar, Theolla yang hampir memejamkan matanya kembali tersadar dengan suara ketukan pintu.
"Masuk!!"
Lalu muncul lah Bella membawa secangkir kopi pesanan Theolla.
"Makasih ya Bel..!!"
"Iya bu sama-sama."
"Kamu boleh pulang jika pekerjaanmu sudah selesai."
"Saya mau nunggu ibu aja, kita pulang sama-sama bu."
"Baiklah kalau itu keinginan kamu...sebentar lagi ya Bel."
Bella hanya tersenyum menanggapi. Theolla mulai menyesap kopinya sedikit demi sedikit.
"Bu hari Rabu besok kita ke lokasi proyek untuk meninjau pembangun hotel di Bali."
"Baik Bel...kau atur saja semuanya, berapa hari kita di sana?"
"Hanya tiga hari bu, dari pihak PT Widjaya grup juga sudah mengatur semuanya."
"Jupiter juga akan datang?" tanya Theolla kaget.
"Iya bu....pak Jupiter kan penanggung jawab untuk proyek ini, jadi kita akan sama-sama ke Bali untuk urusan pekerjaan."
Theolla diam tidak menanggapi.
"Apa ibu keberatan?"
__ADS_1
"Ah....tidak Bel, baik kita akan berangkat kesana karena ini juga sudah menjadi tanggung jawabku kau persiapkan semuanya ya." ujar Theolla.
"Baik bu..!!"
"Ya sudah ayo kita pulang!!!"
Setelah Theolla membereskan barang-barangnya, dia pun keluar dari ruangannya menuju basement untuk mengambil mobil. Keadaaan cukup sepi karena hanya beberapa orang saja yang lembur hari itu. Bella sengaja menemani Theolla dan berniat untuk ikut dengan mobilnya. Saat Theolla hendak membuka pintu mobil tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya.
"Raka!!" pekik Theolla kaget. Dia meronta mencoba melepaskan cekalan tangan Raka.
"Kita harus bicara!!" sorot mata Raka menatap tajam kearah Theolla.
"Gue cape mau balik!!"
"Sebentar saja.."
"Ya sudah ngomong aja di sini."
"Gak bisa Theolla, kita ngobrol di cafe deket sini."
"Ogah gue pergi sama lo, nanti yang ada lo macem-macem lagi sama gue!!"
"Gue janji gak akan macem-macem sama lo!!" Raka menunjuk dua jarinya membentuk sebuah piss.
"Ya udah...bentar aja, gue gak enak Bella nungguin gue."
"Nggak....!!asisten lo biar pulang duluan bawa mobil lo...nanti biar lo gue anterin pulang." usul Raka.
"Gak bisa gitu!!" tolak Theolla.
"Gak papa bu biar saya pulang duluan, ibu sama pak Raka bicara aja dulu." ucap Bella buka suara yang sedari tadi hanya diam saja.
"Tuh asisten lo aja gak keberatan."
"Ya udah gue ikut sama lo, tapi gue gak bisa lama-lama."
Raka mengangguk menyanggupi usulan Theolla.
"Maaf ya Bel kamu jadi bawa mobilku dulu."
"Iya gak papa bu...saya permisi dulu!!" Setelah Bella berlalu membawa mobil Theolla, kini Theolla mengikuti langkah Raka menaiki mobilnya. Sejujurnya Theolla males jika harus berduaan dengan Raka, kejadian beberapa waktu yang lalu masih terasa di ingatannya. Theolla takut Raka akan menjebak dirinya lagi.
.
.
.
.
.
Terima kasihku ucapkan kepada kakak-kakak author dan kakak-kakak readers karena sudah berkenan mampir di karyaku yang masih amatiran ini🙏Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment😍
__ADS_1