
Sepulang dari sekolah Jupiter langsung merebahkan tubuhnya di kasur, sudah tiga hari semenjak kepergian Venus ke Korea, berarti sudah tiga hari juga dia menyamar menjadi Venus. Pertemuannya dengan gadis di bandara membuat dia melupakan tugas yang sebenarnya. Kini dirinya hanya fokus untuk mendapatkan hati Theolla.
Tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Venus. Dia sudah siap mendengar segala ocehan dari saudara kembarnya.
"Hallo hallo.. " sapa Venus dari sebrang sana.
"Iya hallo ada apa sih? gak usah teriak-teriak gitu kali gue juga denger,"
"Lo bener-bener ya... baru gue tinggal 3 hari udah bikin masalah." Venus langsung menuju inti masalah.
"Masalah apa maksud lo ?" Jupiter mencoba mengelak.
Terdengar helaan nafas dari Venus "Elo keluar dari basket kenapa gak ngomong dulu sama gue ? aduuhh.... mana elo pake masuk tim football segala?"
"Yah abis mau gimana, gue kan gak bisa maen basket daripada ntar temen-temen lo curiga mending gue keluar iya kan?"
"Kalau keluar ya udah keluar aja, kenapa elo pake acara masuk football segala sih. Entar kalau gue balik ke sekolah gimana gue gak bisa maen bola."
"Ya itu urusan lo hahaha...!!" Jupiter tertawa keras membuat Venus menggeram kesal.
"Udah lo nikmatin aja liburan lo, gak usah mikirin yang di sini itu urusan gue... apa lo mau buru-buru balik ke indo lagi?"
"Enaakk aja... nggaklah tetep perjanjian awal dua minggu gue di sini."
"Ya udah...kabar keluarga di sana gimana ?"
"Ayah, tante Anna dan Alea baik-baik aja kok. "
"Oh ya udah syukur kalo gitu,"
"Hmmm ya udah ya awas lo jangan bikin ulah lagi di sekolahan, cewek gue kan jadi sedih tuh."
"Iyaa bawell, ya udah gue tutup ya..!!"
Setelah panggilan mereka berakhir Jupiter menyimpan ponselnya di atas nakas. Dia kembali mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan wajah Theolla. Jupiter selalu tersenyum sendiri bila mengingat wajah itu. Ah..ya dirinya kini memang sudah terpikat oleh perempuan yang pertama kalinya di temui di Bandara. Dan perempuan itu kini ada di depan matanya. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan hati Theolla.
*****
Keesokan harinya anak-anak tim basket tengah mempersiapkan diri, melawan tim basket SMA Bunga Bangsa di perempat final. Raul dan kawan-kawannya tengah bersiap di lapangan. Para penonton sudah bersiap memberikan dukungan untuk SMA masing-masing, dari Merah putih dan Bunga Bangsa. Begitupun dengan Jupiter hari ini tim football mereka tidak ada jadwal tanding, sehingga ikut memberi dukungan untuk tim basket.
Jupiter duduk di bangku penonton bersebelahan dengan Theolla. Nampak Theolla tengah serius menonton pertandingan, tapi tidak dengan Jupiter yang malah terus memperhatikan Theolla. Merasa dirinya di perhatikan Theolla menatap tajam ke arah Jupiter.
"Elo itu nonton basket apa nonton gue sih, dari tadi kok ngeliatnya ke gue terus?" tanya Theolla kesal.
Jupiter hanya tersenyum simpul "Enakkan nonton kamu, daripada nonton basket mah,"
__ADS_1
Theolla mencebik kesal "kalau kedengeran Manda abis lo di jadiin kambing guling sama dia..!!"
"Kalau di guling-guling nya sama kamu baru aku gak nolak." Jupiter terkekeh geli, melihat ekspresi perubahan wajah Theolla menjadi kesal bercampur marah.
"Ngeseliiiin banget sih lo...!!" Theolla beranjak dari duduknya dan pindah mencari bangku kosong. Jupiter tak kehabisan akal setiap kali Theolla berpindah tempat duduk, Jupiter mengikutinya dan itu berlangsung hingga tiga kali. Karena kesal Theolla menghentakkan kakinya dan keluar dari lapangan indoor tim basket.
"Dasar cowok aneh, gue laporin Manda tau rasa lo," gerutu Theolla sambil terus berjalan.
"Laporin aja kalau berani...!!" tiba-tiba Jupiter sudah berjalan di belakangnya, dengan memamerkan senyum usilnya.
Sontak Theolla langsung menghentikan langkahnya dan memasang wajah juteknya "Elo itu mau ngapaiin sih Venus, gangguin gue terus daritadi ?"
Jupiter terkekeh geli "Entahlah aku seneng aja gangguin kamu, wajah kamu kalau lagi kesel gini tuh makin kelihatan manis."
DEG !!
Mendengar ucapan Jupiter seketika wajah Theolla langsung memanas, seluruh tubuhnya mendadak kaku.
"Ciiiee merah tuh mukanya..!!" goda Jupiter. Theolla langsung tersadar dan melanjutkan kembali langkahnya. Dia tidak memperdulikan Jupiter yang terus mengikutinya. Theolla berjalan menuju ruangan perpustakaan, ternyata Jupiter sudah tidak mengikutinya lagi. Dia segera mengatur detak jantung nya yang sudah tidak beraturan.
*****
Pertandingan basket sudah selesai satu jam yang lalu, yang ternyata di menangkan oleh SMA Bunga Bangsa. Lagi-lagi tahun ini SMA Merah Putih harus mengubur impiannya untuk menjadi juara seperti tahun lalu. Tampak Dimas, Rendi, Amanda dan Raisa terduduk lesu meratapi kekalahannya.
"Gagal lagi kita angkat pialanya," Ucap Dimas sambil meneguk botol minumannya.
"Masih ada tahun depan kalian jangan pesimis gini donk," semua orang langsung menatap tajam ke arah Jupiter.
Amanda langsung buka suaranya "Tahun depan kita udah lulus , mana ada kesempatan lagi."
Jupiter menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Hmmm maksud gue masih ada kesempatan di lain waktu dan tempat, gak usah di sekolah ini aja."
"Elo gak ngerasain sih gimana rasanya di posisi kita jadi bisa ngomong kayak gitu," Raisa angkat suaranya.
"Salah lagi gue...!!" Jupiter menepuk jidatnya sendiri.
"Theolla mana sih yank, kok gue gak lihat dia dari tadi?" tanya Amanda.
"Tadi kayaknya dia ke perpustakaan deh,"
"Kok akhir-akhir ini dia jarang gabung sama kita sih?" tanya Rendi.
"Mungkin gara-gara ada elo kali, jadi dia enek tuh lihat muka lo..!!" ledek Dimas. Yang langsung mendapat gelak tawa dari temen-temennya.
Rendi tersenyum miris "Belum apa-apa gue udah kalah sebelum berperang,"
__ADS_1
"Mending lo kubur aja impian lo untuk deketin Theolla, sepertinya tipe dia tuh bukan cowok kayak elo deh." Raisa memanas-manasin Rendi yang semakin down saja.
"Yang sabar ya bro..!!"" Jupiter memberi tepukan beberapa kali di bahunya Rendi.
"Apa gak ada kesempatan buat gue deketin Theolla Manda ?" tanya Rendi.
Amanda hanya mengangkat bahunya "Mana gue tahu Ren, tipe-tipe Theolla tuh kayak gimana, setahu gue semenjak Cowoknya meninggal dia gak pernah buka hati lagi buat cowok laen."
DEG !!
Jupiter langsung mendengarkan apa yang Amanda bicarakan.
"Maksud nya gimana-gimana gue gak ngerti ?" tanya Rendi penasaran.
"Tapi janji ya apa yang gue ceritain nanti, jangan kasih tau ke siapa-siapa cukup rahasia kita berlima aja..!!" pinta Amanda.
"Iya janji..!!" seru Dimas,Rendi dan Raisa bebarengan.
"Yank ...?" Amanda meminta persetujuan Jupiter yang d lihatnya diam saja, sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Jupiter langsung mengangguk mengiyakan "Janji..!!"
Amanda langsung membenarkan letak duduknya dan memulai ceritanya "Jadi gini tiga tahun yang lalu Theolla pernah punya cowok David namanya. Dia yang masih SMP kelas 3 pacaran sama David yang udah SMA. Suatu hari David ketauan selingkuh sama temen sekelasnya. Dari situ Theolla marah besar sama David, berulang kali David minta maaf namun tidak pernah di gubris sama Theolla. Padahal waktu itu David udah bener-bener milih Theolla daripada cewek itu. Sampai akhirnya....." Amanda menggantung ceritanya dan memandang teman nya satu persatu yang nampak serius.
Amanda terkekeh geli "Pada serius banget sih. biasa aja kali..."
Rendi mendengus pelan "Terusin Manda jangan bikin orang penasaran..!!"
"Sampai akhirnya, David nekat mengendarai motornya di tengah hujan deras untuk minta maaf dan terjadilah kecelakaan itu. David meninggal dalam perjalanan ke rumah Theolla untuk minta maaf, dan Theolla selalu merasa itu kesalahannya, andai dia waktu itu langsung memaafkan David mungkin kejadian nya gak akan seperti ini Tiga tahun di Singapura tidak membuat dia melupakan begitu saja kejadian itu, perasaan bersalah terus mengikutinya, dan ya sampe sekarang dia masih menutup pintu hatinya untuk para cowok." Amanda mengakhiri ceritanya.
"Jadi gue harap elo ngerti Ren, sepupu gue ini bukan orang yang mudah jatuh cinta,masalalu yang membuat dia jadi seperti ini."
"Gak nyangka gue, di balik sikapnya itu ternyata dia nyembunyiin hal yang sangat berat. Tiga tahun bro tiga tahun." ucap Rendi sarkas.
"Udah lo mundur alon alon aja kayak gue, sepertinya kalaupun nanti dia buka hati lagi buat cowok, bukan elo Rendi cowoknya." Dimas memberi tanggapan nya dan tertawa senang melihat Rendi kesal.
"Jadi seperti ini ceritanya akan sulit bagi gue mendekatinya, kalung itu gue yakin itu milik Theolla." gumam Jupiter dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, Vote dan koment makasih genks...!!!🙏😍