
Bella meremas ujung blazernya melihat Darel yang terus menatapnya usil. Lelaki itu tersenyum mengejek, menertawakan dirinya yang seolah-olah menjadi orang bodoh selama ini. Bisa-bisanya Bella tidak tahu siapa Darel sebenarnya, selama hampir tiga tahun mendampingi Theolla.Bella memang belum pernah bertemu dengan adiknya itu. Karena setahu Bella adiknya Theolla ini tidak pernah datang ke kantor dan di perkenalkan secara resmi.
"Hai senior!! lama tak bertemu..!!" sapa Darel dengan tersenyum usil. Bella membuang jauh pandangannya agar tak bersitatap dengan Darel.
"Selamat datang di kantor ini pak!!" ucap Bella, dia mengangguk hormat pada atasannya yang baru.
Theolla yang melihat interaksi antara Bella dan Darel hanya tersenyum simpul.
"Gak usah kaku gitu Bella..kalian sebelumnya kan sudah pernah bertemu, jadi aku harap kamu bisa membimbing Darel tolong beritahu dia jika salah. Aku percayakan Darel sama kamu."
"Baik bu..saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Ya sudah saya tinggal ya..Rel inget apa yang kakak bilang tadi jangan malu untuk bertanya jika ada yang tidak mengerti!!" nasihat Theolla.
"Siap kak..!!"
"Kakak tinggal ke ruangan papah dulu ya..!!" Theolla beranjak mengambil tasnya dan berlalu dari hadapan Darel dan Bella.
Setelah Theolla keluar dari ruangannya, Darel berjalan menuju kursi kebesarannya. Dia langsung mendudukan dirinya di kursi putar yang kini resmi menjadi miliknya. Sementara Bella masih menunduk tak berani menatap Darel lebih lama lagi.
Darel yang menikmati wajah Bella yang gugup seketika muncul ide untuk mengerjainya. Dia tersenyum sambil memutar-mutar bolpoint di tangannya.
"Senior .."
"Maaf pak panggil saya Bella. Sekarang saya bukan senior anda tapi anda atasan saya." ucap Bella cepat dengan wajah masih tertunduk.
Darel tersenyum mendengar ucapan Bella "duduklah..!!" Darel menyuruh Bella agar duduk di hadapannya. Dan Bella pun menurut kini dia duduk berhadapan bersama Darel.
"Ada yang bisa saya bantu pak? jika tidak saya akan kembali ke ruangan saya."
"Buatin saya kopi setelah itu temani saya keliling kantor ini..!!"
"Baik pak..!!" Bella beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu namun Darel kembali memanggilnya.
"Kopinya jangan terlalu pahit dan jangan terlalu manis..!!"
__ADS_1
"Baik pak..!!" Bella buru-buru keluar dari ruangan Darel menuju pantry.
Sementara sepeninggalnya Bella, Darel senyum-senyum sendiri. Dia tidak sabar menikmati hari-harinya bersama Bella, sepertinya Darel memang menyukai wanita itu. Berbulan-bulan tidak bertemu membuat hati Darel sedikitpun tidak berubah.
Ceklek !!
Pintu terbuka lebar, Bella membawa secangkir kopi pesanan Darel dia lalu meletakannya di hadapan Darel.
Perlahan Darel mengangkat cangkir kopi tersebut, dia menyesapnya sedikit dan langsung menyemburkannya. Sontak Bella terkejut melihat tingkah Darel.
"Kamu bisa bikin kopi gak sih? tadi kan saya bilang jangan terlalu manis..ini kemanisan. Kamu mau saya terkena diabetes dan mati muda!!" ucap Darel dengan suara tegas dan lantang.
"Maaf pak..tadi sepertinya takaran sudah bener." ucap Bella takut-takut. Dia tak menyangka kopi buatannya tidak sesuai dengan selera bos barunya.
"Jangan sepertinya. Ganti lagi yang baru!!"
"Baik pak." Bella kembali membawa cangkir kopi tersebut. Selang beberapa menit Bella kembali dengan kopi yang baru.
"Silahkan pak!! semoga yang ini sesuai dengan selera bapak!!
Darel kembali menyesap kopi buatan Bella, hal yang sama pun terjadi dia kembali menyemburkan kopinya. Membuat Bella berjengit kaget.
"Saya kasih sedikit kok pak. Tadi yang pertama bapak bilang kemanisan makanya yang ini saya kurangin gulanya."
"Ganti. Bikinin saya cappuccino saja!!"
Dengan hati dongkol Bella kembali membawa cangkir kedua dari hadapan Darel.
"Sabar. Sabar Bella...sepertinya dia memang sengaja ngerjain gue." batin Bella dalam hati.
Dengan menghentakan kakinya Bella berjalan menuju pantry "lama-lama gue tambahin bubuk cabe di kopinya dia."
*****
Darel tersenyum senang melihat Bella yang keluar dengan wajah kesal. Sesekali mengerjai wanita itu tidak apa, Darel masih ingat saat dulu Bella sering mengerjainya saat magang. Bella selalu memberinya pekerjaan yang menumpuk dibandingkan dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Ternyata seenak ini ya jadi bos, bisa ngerjain tuh cewek." kekeh Darel.
Setelah kopi ketiga datang Darel tidak mempermasalahkannya. Karena pada dasarnya Darel memang bukan pecinta kopi hitam dia hanya mengerjai Bella saja.
"Saya pelajari dokumen-dokumen ini dulu, setelah itu kamu temani saya keliling kantor."
"Baik pak."
"Duduklah!! temani saya disini!!" Bella pun menurut dia duduk berhadapan dengan Darel di sebuah sofa.
"Sudah berapa lama kamu kerja disini?" tanya Darel, tangannya sibuk membolak-balik dokumen yang sedang di pelajarinya.
"Hampir tiga tahun pak."
"Lama juga ya.."
Hening.
Darel kembali fokus mempelajari dokumennya. Sementara Bella duduk dengan perasaan canggung. Sesekali Bella mencuri-curi pandang menatap wajah Darel.
"Lumayan juga tuh anak, kenapa dulu berbeda sekali. Kalau punya bos yang kayak gini gue harus siap-siap nih jaga hati dan perasaan." batin Bella. Saat sedang menikmati wajah tampan Darel, tiba-tiba Darel mendongakan wajahnya dan menatap Bella heran. Sesaat pandangan keduanya bertemu.
DEG.
Jantung Bella langsung berdebar dengan cepat. Tatapan mata Darel membuat Bella salah tingkah. Apalagi sekarang Darel tersenyum menikmati wajah Bella yang memerah.
"Ngapain lihatin saya kayak gitu? naksir ya..?" goda Darel.
Bella melongo mendengar ucapan Darel. Apa katanya tadi naksir?
.
.
.
__ADS_1
.
Like, Vote, Koment dan rate 5🙏😍