Twins Boy

Twins Boy
Season 2 - Rasa penasaran Dimas


__ADS_3

Venus dan Dimas melangkah masuk menuju lobi hotel, tempat mereka mengadakan pertemuan dengan salah satu investor asing dari China. Sebuah ruangan khusus VIP sudah di pesan untuk melaksanakan meeting siang ini.


Dimas yang kini sudah resmi menjadi asisten Venus, selalu mendampingi kemana pun Venus pergi. Dimas banyak belajar dari Venus selama dia baru menjabat sebagai asisten wakil dirut, sehingga interaksi keduanya cepat di pahami.


Satu jam sudah berlalu, setelah mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, pertemuan siang itu pun di akhiri. Mereka langsung melanjutkan acara makan siang di tempat yang sama. Jamuan dari hotel tempat mereka meeting pun sangat mewah, terdapat banyak makanan Nusantara dan juga Chinese food. Mengingat klien yang datang kali ini langsung dari China.


Setelah selesai dengan jamuan makan siang, Klien yang terdiri dari tiga orang itu pun pamit undur diri. Begitu juga dengan Venus dan Dimas, mereka akan kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaan mereka.


Saat tiba di lobi hotel, tiba-tiba pandangan Dimas tertuju pada seseorang yang sangat mirip dengan Kanaya. Orang itu masuk kedalam mobil mewah berwarna merah, setelah seorang security membawakan mobilnya dari tempat parkir.


"Kanaya.." gumam Dimas, Langkah Dimas langsung terhenti begitu melihat seseorang yang selama ini di rindukannya.


"Ngomong apa lo?" tanya Venus, memandang heran kearah Dimas.


"Barusan gue lihat seseorang yang mirip sama Kanaya."


"Dimana?"


"Itu barusan masuk kedalam mobil...!!" tunjuk Dimas.


"Lo yakin itu Kanaya?"


"Gue belum yakin, tapi mereka sangat mirip gue yakin dia orang yang sama dengan seseorang yang gue lihat di pesta."


"Jangan-jangan tuh cewek punya saudara kembar lagi." ucap Venus.


"Gak tahu gue."


"Coba sana kita tanya sama security yang tadi bawain mobil tuh cewek..!!" usul Venus. Mereka berdua pun langsung berjalan mendekati security yang tengah berdiri di pintu masuk.


"Permisi pak...!!" sapa Dimas. Security itu langsung menoleh begitu ada dua orang pria yang mendekatinya.


"Eh...iya pak ada yang bisa saya bantu??" balasnya dengan ramah.


"Saya mau tanya sesuatu..boleh pak?'


"Oh silahkan pak..!!"


"Perempuan yang barusan menaiki mobil warna merah itu siapa ya pak?"


"Oh itu mah anaknya yang punya hotel, sekaligus general manager di hotel ini pak."

__ADS_1


Dimas nampak diam mencerna tiap kata dari petugas keamanan di hadapannya ini, tidak mungkin itu Kanaya dia kan hanya pelayan di kedai kopi, bukan anak dari pemilik hotel bintang lima ini.


"Kalau boleh tahu siapa namanya pak?" kali ini Venus yang angkat suara.


"Bu Kanaya.." ucap Security itu jelas.


DEG!!


Dimas langsung tertegun mendengar ucapan security itu selanjutnya, nama yang sama dan wajah yang sangat mirip, hanya penampilannya saja yang jauh berbeda.


"Oh ya sudah makasih ya pak ..!!" ucap Venus tersenyum simpul, lalu Venus menarik lengan Dimas agar sedikit menjauh.


"Namanya sama.." gumam Dimas dengan wajah yang frustasi.


"Mungkin cuma kebetulan saja nama dan wajahnya mirip." tukas Venus.


"Gak mungkin, orang itu juga yang gue lihat waktu kita di pesta." sangkal Dimas.


"Ya terus lo mau ngapain kalau dia memang orang yang sama?"


"Gue akan cari tahu dia." sebuah lengkungan tercipta di garis bibir Dimas.


"Tenang bos...gue orang yang profesional kok."


"Ya udah ayo balik ke kantor, ini masih jam kerja loh..!!"


"Siiapp...gue ambil mobil dulu..!!"


Venus hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dimas.


*****


Sepulangnya dari kantor beberapa menit yang lalu, Dimas tidak bisa berhenti membayangkan wanita yang di temuinya di hotel tadi siang. Biasanya akan ada Jupiter atau Mario yang selalu menemaninya di Apartemen, tapi kali ini hanya sebatang rokok yang terselip di jari Dimas. Dia menghisapnya kuat-kuat lalu mengepulkan asapnya ke udara untuk membunuh rasa sepi.


Setelah satu bulan bekerja di PT Widjaya grup, Dimas menyewa sebuah apartemen yang satu unit dengan Jupiter. Biasanya malam hari seperti ini, mereka bertiga pasti ngumpul bareng, tapi karena Jupiter dan Mario ada kerjaan di Surabaya jadilah kali ini Dimas hanya seorang diri.


"Sorry bro gue gak bisa mampir ke tempat lo, lo tahu sendiri lah bini gue kalau gue pulang telat dia bakal ngomel-ngomel." tukas Venus sebelum mereka berpisah di parkiran basement.


"Iya gue ngerti...lo balik aja sana!!"


"Soal cewek yang tadi di hotel gak usah lo pikirin, mungkin hanya kebetulan saja wajah dan nama mereka mirip."

__ADS_1


"Iya gue rasa juga begitu, Kanaya gak mungkin bohongin gue."


" Lo berpikir positif aja, Kanaya yang elo kenal mungkin sekarang lagi pulang kampung ada urusan, soal ponselnya yang gak bisa dihubungi bisa jadi gak ada sinyal kan." Venus mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Iya.. thanks ya bro..!!"


"Jangan kebanyakan ngelamun lo, ntar kesambet setan lagi." kekeh Venus.


"Siall..." sembur Dimas.


"Salam buat Manda sama Ara ya...!!" tambah Dimas.


"Okeh...nanti gue sampein,lain kali lo mampir ya kerumah gue pasti Ara seneng deh." pinta Venus.


"Iya lain kali ya."


"Ya udah gue cabut dulu ya...!!" Venus menepuk bahu Dimas berulang kali sebelum dia memasuki mobilnya.


Setelah Venus berlalu dari hadapannya, Dimas pun memasuki mobilnya yang merupakan inventaris dari kantor saat dia masih jadi manajer.


Kini pikiran Dimas kembali berkelana pada sosok wanita yang mirip dengan Kanaya. Tapi memang orang itupun namanya sama, cuman dari segi penampilan dia jauh berbeda. Kanaya yang di kenal Dimas seorang gadis yang sederhana, dan sedikit tomboy. Tapi yang tadi di lihat Dimas orangnya sangat feminim, elegant dan tentu saja dia pasti orang kaya. Melihat dari barang yang dia kenakan merupakan barang-barang branded dengan harga fantastis.


Dimas mengusap wajahnya secara kasar, kemana dia harus mencari Kanaya. Satu sudut di hatinya sudah terisi oleh Kanaya, apa mungkin selama ini Kanaya sedang bersandiwara?? berpura-pura menjadi orang lain untuk menutupi identitas yang sebenarnya? hingga tanpa di sadari, Dimas merasakan ada batu yang menghantam dadanya jika memang Kanaya membohonginya.


Di ambilnya ponsel yang berada di atas meja, berulang kali dia menghubungi nomor Kanaya tapi jawabannya selalu sama, operator yang akan menjawab panggilan Dimas. Kini Dimas hanya pasrah pada takdir yang sedang mempermainkan hatinya.


Setelah sempat patah hati karena di tinggal. nikah cinta pertamanya, kini Dimas tidak ingin jika harus kehilangan kembali orang yang begitu berarti di hidupnya. Meskipun mereka baru saling mengenal, tapi Dimas yakin Kanaya orang yang tepat yang akan mendampinginya kelak.


Karena tidak ingin rasa penasaran terus menguasainya, buru-buru Dimas meraih jas yang tersampir di sofa dan juga kunci mobilnya yang tergeletak di meja.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote dan koment maaciiwww🙏😍

__ADS_1


__ADS_2