
Sinar mentari yang menyusup lewat celah gorden kamar Theolla membuatnya sedikit terusik. Theolla melihat tangan besar yang begitu erat memeluknya, di sebelahnya dia lihat wajah Jupiter yang begitu tenang dalam tidurnya. Theolla berusaha mengumpulkan ingatannya tentang kejadian semalam. Bagaimana dia mendesah nikmat dalam kendali Jupiter, tidak hanya sekali, mereka bahkan melakukannya berulang kali.
Senyum merekah terbit dari wajah Theolla, ternyata seindah itu malam pertama. Dia elus pria yang sudah mengambil mahkotanya, dia tatap wajah Jupiter yang tenang dalam tidurnya. Namun tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibir Theolla.
"Morning kiss sayang...!!" ucap Jupiter dengan suara serak. Theolla langsung memukul lengan Jupiter karena kaget.
"Ternyata kamu sudah bangun." Theolla merenggut lalu buru-buru beranjak duduk, dengan selimut sebatas dada yang menutupi tubuh polosnya.
"Heem....kenapa mandangin wajah aku terus, pengen yang semalam lagi ya?" goda Jupiter.
"Jangan macem-macem ya !! ini aja masih sakit!!"
"Sakit tapi enak kan, buktinya semalam kamu mendesah nikmat di bawah aku."
Blush. wajah Theolla langsung merona malu.
"Ya sudah aku mandi dulu."
"Ikut!!!"
"Nggak..!!"
"Pelit."
Baru Theolla akan turun dari ranjangnya tiba-tiba dia merasakan nyeri di pangkal pahanya.
"Awww...." Theolla meringis kesakitan.
"Kenapa sayang?"
"Perih."
"Ya sudah aku bantu kamu ke kamar mandi." Jupiter langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos mereka, Jupiter lalu menggendong Theolla ala bridal style menuju kamar mandi.
Jupiter mendudukan Theolla diatas closet sementara dirinya menuang sabun di dalam bathtub. Theolla hanya memperhatikan apa yang di lakukan Jupiter.
"Udah siap sayang..ayo aku bantu!!" Jupiter membantu Theolla masuk kedalam bathtub, memberi kesempatan pada Theolla untuk merilexkan tubuhnya.
Sementara Theolla berendam di dalam bathtub, Jupiter sendiri mengguyur tubuhnya di atas shower. Pagi ini mereka berdua mandi bersama, dalam artian mandi yang sebenarnya bukan dalam tanda kutip. Meskipun hasratnya menginginkan lebih, tapi Jupiter mengerti Theolla masih merasakan nyeri. Biarlah Theolla terbiasa dulu dengan tubuhnya, baru setelah itu dia bisa meminta lebih.
*****
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, kedua pengantin baru itu segera bersiap untuk sarapan bersama keluarganya. Sesampainya di meja makan kedua orang tua dan juga kedua adik Theolla sudah berkumpul disana.
"Pagi mah...pah...!!" sapa Theolla, dia dan Jupiter lalu duduk di kursi yang kosong.
"Mentang-mentang pengantin baru gak keluar-keluar kamar nih dari semalam." goda Darel.
"Gak apa-apa biar cepet kasih papah cucu." sahut Bima. Jupiter dan Theolla hanya saling pandang.
"Tenang pah saya akan kerja keras setiap malam, biar cepet ngasih mamah dan papah cucu." ucap Jupiter yakin. Theolla langsung mencubit paha Jupiter yang seenaknya ngomong.
"Alangkah baiknya kalian segera berangkat bulan madu, jadi di sana kalian bisa fokus untuk buatin mamah dan papah cucu." kali ini Mona yang angkat suara.
"Emang cucu itu di buatnya dari apa sih mah?" Vano adik kedua Theolla bertanya dengan polosnya. Membuat semua orang tertawa geli.
__ADS_1
"Hei anak kecil diem aja, jangan banyak nanya itu urusan orang dewasa." Darel langsung memprotes tindakan adiknya.
"Aku bukan anak kecil lagi ya kak....umurku udah 14 tahun."
"Nah masa hal kayak gitu aja gak ngerti...hadeeeuh!!"
"Sudah ini kok kalian malah berantem gak enak sama Kak Jupiter." Mona mencoba menengahi kedua putranya.
"Jadi Theolla, Jupiter kalian sudah ada rencana belum mau bulan madu kemana?" tanya Bima.
"Kita belum ada rencana pah.." jawab Theolla.
"Mungkin nanti setelah resepsi di Jakarta, kita baru akan memikirkan akan bulan madu kemana." tambah Jupiter.
"Jangan di tunda-tunda gak baik loh buat pengantin baru." tutur Mona.
"Iya mah...tapi mungkin kita bulan madunya di dalam negeri aja, kita gak bisa ninggalin kerjaan terlalu lama." ujar Theolla.
"Aku terserah kamu sayang."
"Kalian ini baru sehari menikah sudah mikirin kerjaan, papah kan sudah bilang kasih kamu cuti selama satu bulan." Bima heran dengan pemikiran Theolla.
"Iya pah....tapi Jupiter gak mungkin cuti selama itu, aku tahu kerjaan dia banyak."
"Gak papa sayang ada Mario yang bisa gantiin aku."
"Tuh Jupiter aja gak keberatan La..." sela Mona.
"Baiklah soal itu biar kami yang mikirin nanti." ucap Theolla. Setelah itu mereka kembali melanjutkan sarapan yang tertunda.
"Pagi-pagi kok melamun, nanti jodohnya di serobot orang lagi." Jupiter menepuk punggung Darel mengagetkannya.
"Eh....kak ngagetin aja."
"Ngelamun apa sih pagi-pagi gini?"
"Aku gak ngelamun kak."
"Dari jauh juga kelihatan Rel, masih gak mau ngaku."
"Kak Theolla mana?"
"Sama mamah tuh lagi buka kado."
"Kak Jupiter gak ikutan?"
"Hahaha ..itu urusan wanita."
Darel ikut terkekeh mendengar ucapan Jupiter "Gimana rasanya menikah kak?"
"Hmmm...gimana ya, enak tentu saja nanti juga kau akan merasakan sendiri Rel...sudah punya calon belum kau?"
"Calon apa kak?"
"Ya calon istri apa pacar gitu."
__ADS_1
"Belum ada...baru juga putus sebulan yang lalu, cewek rumit kak aku mau fokus magang dulu biar bisa cepet selesai kuliahnya."
"Tidak semua cewek itu rumit Rel, suatu saat nanti kau akan menemukan seseorang yang begitu berbeda seperti kakak ke kak Theolla."
"Kalau cinta kak Jupiter ke kak Theolla mah gak usah di raguin lagi, aku tahu sejak dulu."
"Lalu kau mau nyari yang seperti apa? yang lebih muda apa yang lebih tua?
Darel tertawa mendengar ucapan Jupiter "bisa aja sih kak....enaknya yang lebih muda apa tua?"
"Tergantung selera." sahut Jupiter.
"Sebenarnya aku lagi merhatiin seseorang kak, tapi dia lebih tua dari aku umurnya." cerita Darel akhirnya.
"Waaww....kau mau belajar jadi brondong? berapa umurnya ? 30 tahun?" desak Jupiter.
"Gak setua itu kak...hanya beda 3 tahun."
"Siapa orangnya? orang di kantor papah ya?"
"Rahasia."
"Sesama pria jangan maen rahasia-rahasiaan."
"Nanti kak Jupiter ember lagi ngomong sama kak Theolla."
"Gak akan. Janji deh..."
Darel nampak ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Ya sudah kalau gak mau cerita, pesan kakak kamu jangan pantang menyerah buat dapetin dia."
"Tapi dia gak tahu identitas aku yang sebenarnya, yang dia tahu aku hanya anak magang."
"Berarti bener kan dia kerja di kantor papah?"
Darel mengangguk. Seketika wajah galak Bella muncul di pikirannya. Entah kenapa meskipun Bella galak tapi Darel menyukai itu, menurutnya Bella itu bikin gemas jika sedang mengomel.
"Jadi siapa? siapa tahu kakak kenal."
"Asistennya kak Theolla." ucap Darel pelan.
"Bella maksud kamu??"
Darel mengangguk. Sontak mata Jupiter membelalak kaget.
.
.
.
.
Like, Vote, Koment dan rate 5🙏😍
__ADS_1