
Gemerlap bintang di langit Surabaya kini sudah berganti mentari pagi yang menyinari semesta alam. Siulan burung terdengar sangat merdu mengawali pagi hari yang menyejukan mata. Disana di sebuah rumah Theolla tengah sarapan bersama keluarga tercintanya.
"Kamu yakin gak bareng sama kakak ke kantor?" tanya Theolla lagi.
"Gak usah kak....nanti semua orang akan tahu aku ini anak pemilik perusahaan, kan gak enak sama temen-temen yang lain." Darel tidak ingin para karyawan yang lain membeda-bedakan dia karena statusnya.
"Ya udah sih biarin aja mereka tahu memang kenyataannya kamu anak papah." ujar Bima menatap kearah anak keduanya.
"Iya Rel...bukannya enak ya kalau orang-orang tahu kamu anak dari pemilik perusahaan." Mona turut berkomentar.
"Pliis pah...mah....hargai keputusan Darel, biarlah semua orang tahu Darel hanya karyawan magang biasa, demi kenyamanan Darel juga selama magang disana."
"Baiklah jika itu sudah keputusan kamu nak....saran papah kamu belajar dengan rajin kepada siapapun itu senior kamu di kantor, agar kelak kamu bisa menggantikan posisi kakak kamu di kantor." nasihat Bima membuat kening Darel sedikit berkerut.
"Kak Olla mundur dari perusahaan??"
"Setelah menikah nanti kakak akan ikut suami kakak ke Jakarta, tapi ya nanti nungguin kamu lulus kuliah dulu baru kamu gantiin kakak di kantor." jawab Theolla.
"Kakak berhenti bekerja?"
"Nggak Darel...kakak tetap kerja, tapi untuk sementara kakak gabung dengan perusahaan Jupiter dulu sampai kakak bisa bangun kantor sendiri."
"Tuh dengerin apa kata kakak kamu, siap gak siap lulus kuliah kamu langsung bantuin papah di kantor."
"Apa tidak terlalu cepat pah?"
"Tidak Darel...kamu sudah seharusnya bantuin papah di perusahaan."
"Tapi aku ingin lanjut S2 pah."
"Kamu bisa kuliah sambil bekerja."
"Sudah nak terima saja keinginan papahmu, ini demi kebaikan kamu juga di masa depan...karena kamu ini seorang lelaki dan kelak akan menjadi pemimpin." tutur Mona menambahkan.
Darel tidak bisa membantah ucapan keluarganya. Sebagai anak lelaki tertua tentu Darel yang nantinya akan melanjutkan bisnis papahnya, terlepas kakaknya Theolla yang akan ikut bersama suaminya. Kalau bukan Darel siapa lagi, adiknya Vanno yang duduk di bangku SMP masih terlalu kecil untuk mengerti hal seperti ini.
*****
Darel memarkirkan motor sportnya di parkiran khusus karyawan, satu minggu sudah dirinya menjadi anak magang di perusahaan papahnya. Tapi tidak ada satu pun yang tahu akan status dia sebagai anak pemilik perusahaan.
Membawa tas ransel di pundaknya pemuda berusia 22tahun itu memasuki lobi perusahaan dengan semangat empat lima. Kata-kata dari papahnya dan kakaknya Theolla menjadi motivasi untuk dia lebih giat lagi dalam bekerja.
Setelah selesai absen sidik jari Darel melangkahkan kakinya menuju lift khusus karyawan untuk sampai di ruangannya. Keadaan sudah lumayan sepi ketika Darel tiba di lantai dua tempat dia bekerja. Karena gedung ini hanya terdiri dari lima lantai, dan lantai tertinggi merupakan tempat khusus bagi para petinggi perusahaan.
"Heii anak magang !!" langkah Darel terhenti begitu mendengar suara seseorang berteriak. Refleks Darel membalikan tubuhnya di lihatnya seorang wanita berambut pendek sebahu tengah berjalan kearah dia. Dia adalah Bella asistennya Theolla sekaligus penanggung jawab anak yang magang.
__ADS_1
"Kau anak magang kan?"
"Saya?" tunjuk Darel pada dirinya sendiri.
"Iyalah kamu...siapa lagi di sini selain ada kita berdua." ujarnya dengan mata yang menatap tajam.
"Kenapa dengan saya?" tanya Darel bingung.
"Masih tanya kenapa, kau tahu sekarang jam berapa?"
Dengan santai Darel melihat jam di pergelangan tangannya "jam 07.45"
"Kau telat lima belas menit....dan kau tahu ini akan berpengaruh pada penilaianmu nanti."
"Aduh mbak cuma telat lima belas menit, saya ada alasan kenapa bisa telat."
"Saya tidak butuh alasan kamu, dan satu hal lagi jangan panggil saya mbak karena saya bukan mbak kamu."
"Iya bu maaf."
"Saya bukan ibu kamu!!"
Darel jengah berhadapan dengan wanita ini, lagaknya udah kayak bos aja untung saja cantik kalau tidak Darel pasti akan pusing jika setiap hari mendengar ocehan dia.
"Iya maaf senior."
"HAH?" mata Darel membelalak melihat laporan yang menumpuk di tangannya. Ini gak salah laporan sebanyak ini harus dia salin dalam waktu dua jam, sungguh tega sekali seniornya ini.
"Tapi senior ini gak mungkin waktunya terlalu mepet...kasih aku waktu sampai istirahat makan siang!!!" Darel mencoba bernegosiasi, tapi Bella tidak terima tawar menawar memangnya di pasar kali.
"Tidak bisa!!"
"Saya kan baru telat sekali, apa tidak bisa di beri keringanan."
"Kalau salah ya salah saja, tidak ada pembenaran untuk hal itu...baiklah saya tidak ada waktu mendengar keluh kesah kamu saya tunggu di ruangan saya jam 10 teng !!" ucapannya tidak bisa di bantah lagi, Bella berlalu pergi meninggalkan Darel yang masih melongo kaget. Memang salahnya juga sih tadi pake acara ban bocor segala sehingga dia telat datang ke kantor.
Sebagai asisten dari wakil direktur, kali ini Bella di tunjuk sebagai penanggung jawab untuk anak-anak yang magang di perusahaan milik keluarga Theolla. Dia yang memberi tugas sepenuhnya pada anak magang dan di akhir Bella juga yang akan memberikan penilaian.
"Bu...!!" Bella melongokan kepala memasuki ruangan Theolla.
"Iya masuk Bella !!" setelah Bella masuk dia duduk berhadapan dengan Theolla.
"Ini laporan yang ibu minta, sisanya masih menunggu di salin dulu bu."
"Makasih ya Bell...gimana perkembangan anak-anak yang magang?"
__ADS_1
"Baik bu ..ya meskipun ada sebagian yang bikin aku kesal." keluh Bella.
"Siapa yang kamu maksud ?"
"Anak magang dari bagian desain interior bu, gak tahulah siapa namanya."
"Desain interior. Perasaan Darel juga di bagian itu." gumam Theolla dalam hati.
"Jadi beneran ibu akan berhenti bekerja jika sudah menikah dengan pak Jupiter?" tanya Bella yang sudah beberapa hari ini membuat dia penasaran.
"Aku gak berhenti Bella, tetap bekerja tapi mungkin ngawasin dari Jakarta."
"Yahh bu....kita akan berjauhan donk." Bella mengungkapkan kesedihannya jika harus berpisah dengan Theolla.
"Aku udah anggap kamu seperti adikku sendiri Bel, jadi kapan-kapan kau masih bisa menemuiku meskipun aku udah nggak kerja di kantor ini."
"Iya bu...lalu siapa nantinya yang akan menggantikan posisi ibu?"
"Adik aku Bell."
"Loh perasaan adik ibu masih kuliah ya?"
"Iya kebetulan sebentar lagi juga lulus, dia akan membantu papah mengelola perusahaan ini."
"Semoga aja orangnya menyenangkan seperti ibu jadi nantinya aku gak akan canggung lagi jika bekerja dengannya." ucap Bella penuh harap.
"Tapi dia seorang pria loh Bell."
"HAH..?"
.
.
.
๐ Visual Darel
Bagi yang kecewa karena Bella gak jadian sama Mario tapi malah sama Clara nih eke kasih si brondong manis buat nemenin hari-hari Bella...semoga mereka berjodoh ya genks๐๐
.
.
__ADS_1
.
Like, Vote, Koment dan rate 5 makasih sudah mampir๐๐