
Jupiter dan Mario tiba di Bandara Soekarno-Hatta tepat jam sembilan pagi. Masih ada satu jam lagi untuk menunggu pesawat yang mereka tumpangi lepas landas. Mendorong kopernya masing-masing Jupiter dan Mario mencari cafe untuk minum kopi terlebih dahulu.
Dari kejauhan seorang wanita nampak tergesa-gesa menyeret koper di tangannya. Setelah memastikan orang yang dia tunggu sudah sampai di Bandara, Clara langsung mengejar langkah Jupiter agar tidak kehilangan jejak.
"Jupiter!!!" teriak Clara dari kejauhan. Sayup-sayup Jupiter mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Dia pun berhenti dan menengok kesamping kiri dan kanan.
"Kenapa?" tanya Mario heran.
"Kayak ada yang manggil nama gue."
"Perasaan lo aja kali."
"Iya kali ya.."
Mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya, namun baru beberapa meter tiba-tiba ada yang menepuk bahunya membuat Jupiter memalingkan wajahnya.
"Clara!!" pekik Jupiter kaget.
"Aku panggil-panggil dari tadi kamu gak denger." ucap Clara dengan nafas yang sedikit memburu.
"Jadi tadi itu suara kamu?"
Clara mengangguk cepat.
"Kupikir suara angin." kekeh Jupiter.
Lalu Jupiter menatap koper yang berada di tangan Clara "loh kamu mau kemana Ra?"
"Aku ikut ke Bali sama kamu ya?"
Jupiter dan Mario hanya saling pandang mendengar ucapan Clara.
"Aku ada urusan pekerjaan ke Bali Ra....bukan untuk liburan."
"Iya aku tahu itu...anggaplah aku ini perwakilan dari papahku untuk melihat proyek hotel itu, bagaimanapun juga hotel itu milik keluargaku."
"Tapi Ra...kamu gak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku, bagaimana dengan salon kecantikan kamu kalau kamu tinggal ke Bali?"
__ADS_1
"Tenang soal salon sudah aku serahkan sama asisten kepercayaanku..sudah kamu gak usah bingung aku hanya ingin menemani kamu kerja sekaligus nanti kita liburan bareng ya, jangan kerja mulu nanti stres."
Jupiter akhirnya tidak bisa mencegah keinginan Clara, dengan terpaksa Jupiter membawa Clara serta dalam perjalanannya kali ini, setelah sebelumnya pak Chandra menghubungi Jupiter agar Clara turut serta ke Bali.
Sementara itu di Bandar udara I Gusti Ngurah Rai Bali, Theolla dan Bella sudah terlebih dulu tiba di sana. Ada sebuah mobil yang menjemput kedatangan mereka berdua. Theolla dan Bella lalu di bawa menuju hotel tempat mereka bermalam selama di Bali.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai Kuta.Mereka akan menginap di hotel yang sama dengan Jupiter dan Mario, karena lokasi proyek berada di sekitar pantai Kuta. Kamar hotel sudah di pesan dari jauh-jauh hari Theolla dan Bella kini memilih tinggal di kamar yang sama dengan dua kasur di dalamnya.
Theolla mengedarkan pandangannya melihat isi kamar hotel yang lumayan luas untuk mereka tinggali berdua. Dia membuka tirai hotel dan pemandangannya langsung mengarah pada keindahan pantai berpasir putih itu. Theolla begitu takjub dan menikmati setiap jengkal yang ada di depan matanya.
Lain halnya dengan Theolla, Bella memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Rasa lelahnya menempuh perjalanan dari Surabaya ke Bali membuat dia ingin buru-buru mengistirahatkan tubuhnya sebelum menuju lokasi proyek.
"Pak Jupiter dan pak Mario masih dalam perjalanan, lumayan kita bisa istirahat dulu bu menunggu mereka tiba." ucap Bella tanpa beranjak dari tidurnya.
"Jam berapa kita akan ke lokasi Bell?"
"Menurut jadwal jam satu siang bu...kita masih harus menunggu pak Jupiter dan pak Mario."
"Oke kamu boleh istirahat dulu, masih ada waktu dua jam lagi untuk kita istirahat."
*****
Tepat jam satu siang mereka bertemu di lobi hotel untuk menuju lokasi. Jupiter dan Mario memiliki waktu istirahat lebih sebentar di bandingkan dengan Theolla dan Bella. Mereka menyewa kamar masing-masing berbeda dengan Theolla yang memilih satu kamar untuk berdua.
Theolla nampak cantik dalam setelan baju kerja berwarna putih, rambutnya di biarkan tergerai hanya ada jepit kecil di bagian belakangnya.
Jupiter nampak terpesona melihat Theolla kali ini, pertemuan terakhirnya dengan Theolla di Surabaya sekitar dua minggu yang lalu saat Jupiter kunjungan ke cabang Surabaya. Theolla salah tingkah melihat Jupiter yang terus memandangnya secara intens. Tapi semua itu tidak berlangsung lama saat Clara tiba-tiba hadir diantara mereka.
"Sorry ya aku lama." ucapnya dengan tangan yang bergelayut manja di lengan Jupiter. Sontak Jupiter langsung melepaskan pegangan tangan Clara.
"Kamu istirahat aja di kamar Ra....aku mau ke lokasi nanti sore juga balik."
Clara mengerucutkan bibirnya "pokoknya aku ikut..!!.meskipun aku gak ngerti dengan pekerjaan kalian masa iya aku di tinggal sendiri di sini." desaknya memaksa.
__ADS_1
Pandangan Clara lalu beralih pada Theolla yang berdiri tidak jauh di hadapannya.
"Loh...kita pernah ketemu di Bandara ya?" tunjuk Clara dan Theolla.
Theolla mengangguk dan tersenyum pada Clara. Theolla pun ingat siapa wanita ini, karena pada pertemuan pertamanya Jupiter sudah menceritakan Clara yang tergila-gila pada Jupiter.
"Kenapa dia ada disini juga?" tanya Clara pada Jupiter.
"Theolla kan arsiteknya....dia berperan besar dalam pembangunan hotel papah kamu."
"Oh..." Clara nampak menganggukan kepalanya.
"Kalau tidak salah waktu itu kamu ngaku-ngaku dia sebagai calon istri kamu kan?" tatapan Clara menghunus tepat pada retina Jupiter. Seketika itu Jupiter langsung salah tingkah dan mengusap tengkuknya berulang kali.
"Emmm....waktu itu..." ucapan Jupiter menggantung.
"Maaf mbak sepertinya anda salah paham, saya hanya rekan bisnis pak Jupiter." Theolla mencoba meluruskan kesalahpahaman ini, karena memang seperti itulah kenyataannya.
"Bagus lah kalau seperti itu...aku masih ada harapan kan Jupiter?"
"Hah?" sekali lagi Jupiter tidak bisa mengelak dari Clara. Mario dan Bella yang menyaksikan interaksi antar ketiga orang ini hanya geleng-geleng kepala melihat kerumitan ini.
"Sudah saatnya kita menuju lokasi pak...bu!!" kali ini Mario mencoba memecah kecanggungan di antara mereka bertiga. Jupiter bernafas lega merasa terselamatkan oleh Mario.
"Oh iya bu Theolla dan Bella... jadi Clara ini anaknya pak Chandra pemilik hotel yang sedang kita bangun, jadi dia mewakili pak Chandra untuk melihat proyeknya." ucap Mario menjelaskan.
Theolla dan Bella hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Mario. Setelah mobil yang menjemput mereka tiba, lalu kelima orang itu pun berlalu pergi meninggalkan hotel.
.
.
.
.
.
__ADS_1
-Sebelumnya saya mau ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat kakak-kakak author atau readers yang sudah memberikan dukungan berupa Like, Vote atau Koment untuk karya saya yang masih jaauuh dari kata sempurna iniπ
-Tanpa dukungan kalian karya saya gak mungkin bisa sampai disini... loph u full ππ